Iga Mawarni: Berdebat

IgaMawarni

MALAM mulai turun di sebuah kamar kos di bilangan Depok, Jawa Barat, 1993. Seorang perempuan cantik, hatinya bergejolak. Malam itu, seorang mahasiswi Sastra Belanda Universitas Indonesia (UI), baru saja berdiskusi, masing-masing mempertahankan pendapatnya. Sharing pendapat ini bukan hal baru dilakukan, sudah sering.

Peta Depok, Jawa Barat


Akhirnya, perdebatan itu menyisakan kepenasaran & melahirkan sebuah pemikiran logis. Di malam itulah, wanita bersuara merdu itu harus mengambil keputusan penting dalam hidupnya.

Perempuan itu adalah penyanyi terkenal, Iga Mawarni. Putri kelahiran Bogor, berdarah Solo. Lagu ”Kasmaran” sempat melambungkan namanya, tahun 1991. Tanpa dipengaruhi orang ketiga, penyanyi bersuara jezzi ini, memutuskan meninggalkan kepercayaan lamanya. Memeluk Islam dengan pendekatan rasional. Melakukannnya sepenuh hati, tanpa emosi sedikitpun.

”Tidak ada pengalaman khusus yang saya temui untuk pindah keyakinan ini, misalnya mendengarkan azan sayup-sayup lalu hati saya bergetar. Bukan peristiwa itu. Keyakinan mengkristal justru berangkat dari lingkungan tempat saya tinggal. Sebagai anak kos, kami sering berdebat, ketika masih kuliah di UI,” cerita Iga mengenang masa lalunya.

Setelah berikrar memeluk Islam, persoalanpun muncul, terutama dari keluarganya.

”Tadinya saya tidak ingin terus terang, tetapi semakin saya tutupi, justru perasaan bersalah muncul,” desahnya. Keputusan untuk berterus terang kepada kedua orang tuanya itu, bukan tanpa risiko.

IgaMawarni2
Iga Mawarni

”Semua orang tua pasti tidak rela anaknya berkhianat terhadap agamanya. Saya memakluminya ketika ayah & ibu saya menjauhi saya. Saya harus kuat, Allah sedang menguji kekuatan saya saat itu. Dan saya berhasil menerima ujian itu,” kata Iga sedikit tersendat.

”Yang membuat terharu, ketika pikiran saya mengingat orang tua yang telah melahirkan. Begitu kuat rasa hormat itu muncul, tetapi di sisi lain saya seperti memperoleh kekuatan yang maha dahsyat untuk tetap bersikukuh, berdiri berseberangan dalam menegakkan keyakinan.

Tadinya ada keinginan, semoga apa yang telah saya lakukan ini ditiru lingkungan keluarga besarku di Solo, tetapi tentu itu tidak mudah, tetapi Alhamdulillah adik kandung saya, sejak 2 tahun silam telah mengikuti jejak, menjadi pengikut Muhammad saw., kisah pengagum tokoh B.J. Habibie ini bahagia.

Dianggap Tersesat

Konsekuensi memeluk Islam secara sadar, adalah perlakuan keluarga di Solo yang tidak ramah. Komunikasipun nyaris putus, bahkan suplai dana biaya hidup di Jakarta dihentikan.

”Padahal butuh biaya untuk kuliah, skripsi, & hidup. Tetapi Tuhan selalu memberi jalan pada umatnya. Saat itu saya terus berdoa, semoga diberi kekuatan. Maka timbul ide untuk bekerja secara part time di Jakarta. Tawaran nyanyi juga mengalir meski tidak gencar. Dari sana saya semakin meyakini kebenaran itu selalu ada”,  tegas Iga.

Tujuh tahun, ia harus saling menjaga jarak dengan keluarga. Jika tidak dihadapi dengan kepala dingin, mungkin segalanya bisa porak poranda. Iga berhasil meredam semuanya tanpa gembar-gembor.

”Tujuh tahun saya lewati hari-hari saling menjaga perasaan, tidak pernah ada rasa gentar, atau takut. Saya pernah dianggap anak tersesat oleh keluarga di Solo. Saya tetap menikmatinya sambil terus mempelajari kedalaman keyakinan saya lewat Al-Quran, buku-buku penunjang lainnya, sehingga saya mengetahui mana yang menjadi larangan & mana yang dibolehkan,” terang Iga.

Dalam pencarian memahami Islam itulah, akhirnya ia dipertemukan dengan seorang laki-laki yang menjadi suaminya sekarang. Charlie R. Arifin (pengusaha) yang satu ihwan.

”Saya bersyukur Tuhan mengutus laki-laki pendamping yang setia, saleh & punya masa depan. Saat itu semakin teguh keyakinan saya memeluk Islam secara tulus ihlas.”

Iga tak lagi sendiri mendirikan salat, atau berpuasa. Ia sudah menemukan imam dalam rumah tangganya. Bersama Charlie & Rajasa, buah kasih mereka, terkadang melakukan salat berjamaah di rumah.

Bila bulan Ramadan tiba, mereka melaksanakan salat tarawih di masjid raya. Dipilihnya Masjid At-Tien TMII Jakarta Timur, sebagai tempat salat terdekat dari rumah tinggalnya, di kawasan Jakarta Timur.

MasjidAttin
Iga Mawarni

”Saat puasa tiba, sebenarnya bukan hal asing bagi saya. Karena ketika masih menganut Nasrani, ada juga instruksi mendirikan puasa. Saya juga suka mela­kukan puasa, hanya caranya yang berbeda,” papar Iga yang mengaku semoga tahun ini ia bisa melaksanakan puasa tanpa kekalahan yang berarti & mendapat ampunan dosa-dosa dari Allah SWT.

(Ratna Djuwita/”PR”; Journey to Islam-07 Nov 2004)

***

Menyerahkan diri. Allah berfirman,

Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah & kepada apa yang diturunkan kepada kami & yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, & anak-anaknya, & apa yang diberikan kepada Musa, `Isa & para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka & hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.”” [3:84]

***

Tidak dibunuh. Tidak disalib. Allah berfirman,

“& karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya & tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka.

Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. “ [3:157]

Cahaya Tuhan. Allah berfirman,

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” [39:22]

***

Yang Dia kehendaki. Allah berfirman,

“Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an & As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” [2:269]

***

Melapangkan dada. Allah berfirman,

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” [6:125]

***

Dengki. Allah berfirman,

“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” [3:19]

Semua patuh. Allah berfirman, “Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit & di bumi, baik dengan kemauan sendiri atau pun terpaksa (& sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi & petang hari.” [13:15]

***

Mengingat. Allah berfirman,

“(yaitu) orang-orang yang beriman & hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” [13;28]

Iklan

Tinggalkan Balasan, sopan, intelek, belajar lanjut

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s