Linkan Ranita Kartini Tasning: Jalan ALLAH

00_LinkanJalan Allah

Sebagai mualaf, Linkan Ranita Kartini, ibu 3 putri (Azzahra, Raudhatul Jannah & Haura ul-Insiyya) & istri Ahmad Rajendra Tasning, menghadapi banyak hambatan dari diri sendiri, keluarga & teman- temannya. Namun ia melihat semua itu sebagai tantangan proses belajar agama Islam. Berikut penuturannya saat dijumpai di rumahnya yang asri di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan.

Saya besar di Surabaya & kemudian bekerja di Jakarta. Tahun 1994, saya menikah secara Islam setelah sebelumnya saya di-Islamkan lebih dahulu. Waktu masuk Islam, keluarga saya sangat menentang.

Mami sangat tidak setuju saya masuk Islam. Sebab Mami pemeluk Kristen Protestan yang taat & rumah keluarga kami adalah tempat persinggahan para pendeta yang sedang dalam tugas belajar. Apalagi kemudian, Mami yang punya empat anak, dua laki-laki & dua perempuan, kedua anak perempuannya masuk Islam.

Peta Bintaro, Jakarta 


Walaupun sudah Islam, saya masih suka pergi ke gereja, beribadah. Setelah 2 tahun berjalan saya merasa gamang. Saya tidak tahu mau kemana arah hidup saya. Ke gereja atau masjid. Kristen atau Islam.

Saat menghadapi persoalan keluarga atau masalah berat lainnya, saya mau mengadu kepada siapa? Minta saran ke keluarga, jelas tidak mungkin karena mereka akan menyalahkan saya yang memilih masuk Islam.

Akhirnya, saya menyerahkan semuanya kepada Allah. Saya memohon ampun Allah. Alhamdulillah, Allah memberi petunjuk. Saya sadar menjalankan Islam dari hati nurani. Saya sudah meninggalkan agama yang lama & sudah berikrar 2 kalimat syahadat tapi belum menjalankannya.

Karena itu, saya mulai belajar agama Islam. Mulai shalat, belajar membaca Al Qur’an, berpuasa & bertanya kepada ahlinya. Saya juga berpikir, anak-anak mau saya didik kemana? Apa agamanya gado-gado. Saya tidak mau mereka setengah-setengah. Kalau Islam ya Islam yang benar. Makanya saya pikir lebih baik dalam satu agama yang sama.

Dari niat baik itu, saya yakin Allah mendengarnya & memberi jalan. Saya & suami bertobat, serta mulai beribadah. Suami yang dulunya kurang taat beribadah, sekarang rajin & belajar lebih mendalam dari saya.

Dulu saya punya banyak angan-angan & keinginan yang sifatnya duniawi. Tapi sekarang, saya merasa sebagai manusia yang kecil tidak berdaya di hadapan Allah. Jadi sebenarnya kita bisa menjalani hidup ini tanpa beban. Tanpa keinginan yang muluk-muluk. Kalau pun kita diberi cobaan oleh Allah, pasti ada maksud dibaliknya.

Mengganti Rok Mini dengan Jilbab
Dalam suatu kesempatan belajar agama, saya berjumpa dengan seorang kyai. Mungkin Allah mengirimkannya untuk memberi petunjuk kepada saya. la membuka surat An Nisa yang salah satu ayatnya mengatakan wanita muslim harus menutup aurat. Itulah awal mula hati tergerak memakai jilbab.

Setelah umrah, saya mencoba mengenakan jilbab sebagai pakaian sehari-hari. Saya mendapat pemahaman jilbab ketika umrah tahun 1996. Saya bertanya kepada kakak ipar saat di Masjid Nabawi. Kenapa kita kaum perempuan harus berjilbab? Kalau tidak berjilbab tapi ibadahnya bagus, apa tetap masuk neraka? Lalu kakak ipar saya menjawab dengan memberi perumpamaan jilbab itu sebagai seragam.

MasjidNabawi
Masjid Nabawi, Madinah

Saat dihisab, dengan kadar ibadah yang sama, kita kaum perempuan yang berjilbab akan mendapat tempat yang lebih baik dari yang tidak berjilbab. Sekarang, terserah memilih yang mana. Kalau kita menghadap yang kita hormati, kitapun harus rapi. Kepada manusia saja begitu, apalagi menghadap Allah.

Saya bisa menerima logika tersebut. Jilbab itu adalah bentuk rasa khidmat kepada Allah. Allah sudah mengatur dalam Al Qur’an. Dan aturan ini pasti dibuat untuk kebaikan manusia, terutama perempuan. Dengan berjilbab, Allah menaikkan martabat kaum perempuan.

Sejak pulang umrah, saya berniat mencoba selama 40 hari. Lepas 40 hari, malah risi melepas jilbab jika keluar rumah. Alhamdulillah hingga kini tetap berjilbab. Suami pun sangat mendukung saya berjilbab. Keinginan berjilbab membuat cara berpakaian ikut berubah. Tidak bisa lagi ketat, apalagi memperlihatkan aurat.

Saya malu, kalau ingat waktu dulu memakai rok mini. Selama proses memakai jilbab yang pertama kali, saya banyak menghadapi cobaan, terutama tekanan dari keluarga Mami. Mereka menganggap saya aneh karena banyak perempuan Islam, tidak pakai jilbab. Juga dari teman-teman pergaulan sebelum berjilbab. Mereka bilang, paling sebentar. Nanti dilepas lagi.

Saya ingat, tahun 1996 belum banyak yang pakai jilbab. Sehingga saat itu dipandang asing oleh keluarga & teman-teman. Buat saya, semua itu tantangan. Dalam hati malah muncul semangat melawan tantangan itu. Masa, begitu saja menyerah. Dengan berjilbab, saya jadi terpacu meningkatkan akhlak.

Alhamdulillah, selama menjalani proses belajar, keluarga suami ikut mendukung. Kini saya berada di lingkungan keluarga besar yang perempuannya rata-rata berjilbab. Sekarang keluarga Mami, yang awalnya memusuhi, kini bisa menerima.

Berjilbab, akhlakpun harus berubah. Malu rasanya kalau sudah berpakaian rapi seperti ini, akhlak masih jelek. Busana muslim ini juga menahan dari hawa nafsu & godaan-godaan. Hal ini memudahkan kita dalam menjalani hidup & beribadah.

Coba kalau kita berpakaian yang memperlihatkan aurat. Tentu digoda lelaki. lya kalau imannya kuat. Kalau tidak, rumahtangga bisa berantakan, timbul perzinahan. Siapa yang salah? Perempuan. Bukan laki-lakinya. Karena yang memperlihatkan auratnya perempuan.

Memang mata itu pemberian Allah & berfungsi untuk melihat, tapi dalam agama kita, laki-laki diharuskan menjaga penglihatannya. Anak-anak saya ajarkan berpakaian yang tidak terbuka. Mereka melihat saya sehari-hari berjilbab, Alhamdulillah mereka mengerti.

Sehingga anak saya yang paling besar tidak mau mengenakan baju yang tidak berlengan. Pernah suatu ketika ada pengajian, dia diberitahu oleh seorang ulama dari Iran yang mengatakan bahwa umur 9 tahun anak perempuan harus berjilbab. Anak saya bilang, dia sudah tahu.

Dia akan pakai jilbab satu tahun lagi, karena sekarang umurnya baru 8 tahun. Saya tidak pernah mengajarkannya. Kesadaran itu tumbuh dari hati anak itu sendiri. Makanya yang penting dalam keluarga, sejak dini anak-anak sudah harus disiapkan. Karena saat itulah, gambaran & pengertian mereka tentang agama mulai terbentuk.

Rejeki dari Allah

Saya menjalani agama Islam ini melalui proses belajar. Berawal niat baik, doa saya didengar Allah & diberi jalan. Mula-mula saya & suami bertobat, lalu mulai beribadah. Bahkan suami yang dulunya kurang dalam beribadahnya, sekarang malah rajin & belajar lebih dalam dari saya. Selama proses belajar tersebut, saya jadi banyak tahu. Saya jadi bisa membandingkan mana yang perlu & mana yang baik.

Malah pernah suami tidak bekerja. karena mengikuti paham yang menekankan pentingnya ibadah. hingga boleh meninggalkan kepentingan duniawi. Namun sekarang sudah tidak lagi. Sekarang suami mengadakan pengajian 3 kali seminggu di rumah. Pengajian ini terbuka untuk siapa saja. Seringkali ada jamaah yang tidak mampu & rumahnya jauh, karena kemalaman, kami tampung menginap di rumah.

Saya yakin Allah pasti punya maksud tertentu. Di balik semua ini, pasti ada hikmahnya. Coba bayangkan begitu banyak orang, 3 kali seminggu pengajian suami ditambah sekali seminggu pengajian ibu-ibu. Makan minum semua dijamin. Dari mana biaya untuk semua itu. Apalagi di jaman susah sekarang ini. Alhamdulillah ada saja jalannya. Allah yang mencukupan. Saya merasa diberi kelebihan oleh Allah untuk menolong orang lain.

Saya menyadari, rejeki yang Allah berikan sebenarnya sebuah titipan yang kita pinjam dari Allah, untuk dipergunakan di jalan Allah. Apa yang kita dapat sebetulnya ada hak orang lain di dalamnya, wajib dikeluarkan.

Saya bersyukur masih dicukupkan rejeki oleh Allah. Kalau dibandingkan dengan masa dulu, penghasilan suami justru lebih banyak. Namun rejeki sekarang saya tahu semuanya halal. Hak orang yang ada di dalamnya, juga sudah dikeluarkan. Kita tidak mengambil hak orang lain.

Dengan banyaknya orang yang harus dibantu, sebetulnya saya merasa kekurangan. Saya sedih karena tidak bisa menolong lebih banyak orang. Tapi Allah Yang Maha Mengatur menentukan berapa kesanggupan saya sekarang membantu orang lain melalui rejeki yang dititipkanNya.

Yang saya pelajari dari proses belajar selama ini adalah perbuatan yang dilandasi niat baik, insya Allah akan dimudahkan jalannya oleh Allah. Keikhlasan melakukan sesuatu, Allah tidak akan membiarkan kita menderita. Kalau pun Allah menurunkan cobaan, itu karena Allah ingin menunjukkan hikmahnya. Juga mengingatkan tidak riya, di depan sesame. Masih banyak orang lain yang kekurangan.

Pengalaman selama belajar agama Islam, ternyata ilmu-ilmu itu sangat luas. Banyak yang kita tidak tahu & itu membuat kita merasa kecil. Ternyata ilmu yang saya dapat sangat sedikit. Dengan mengetahui keterbatasan itu, kita tidak akan menjadi sombong. Merasa tahu segalanya. Kita harus terus belajar.

Dalam belajar pun tidak terpaku pada doktrin-doktrin atau aliran-aliran tertentu. Islam itu satu, kita itu seiman & bersaudara. Sekarang ini kita masih mudah dipecah karena beda pendapat.

Coba belajar lagi. Belajar untuk kemajuan Islam, termasuk ekonomi Islam agar bisa sama dengan umat agama lain. [Agus P -amanah.or.id- Journey to Islam -14 Dec 2004]

Iklan

Tinggalkan Balasan, sopan, intelek, belajar lanjut

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s