Agus Slamet ‘Na Peng An’: Ada Apa, Islam Dibenci, Dimusuhi?!

 

00_MengapaBegitu[Di antara daya tarik Islam yang begitu berkesan, adalah konsep Ketuhanannya yang tegas & sederhana (tauhid). Keautentikan Al-Qur’an sebagai kitab suci. Tata cara ibadahnya yang luwes & sederhana.]

Berikut ini pengakuan Ustadz Agus Slamet (Na Peng An mantan pendeta cilik) seorang mubaligh & sekarang Sekretaris Depertemen Komunikasi & Informasi/Korps Mubaligh DPP PITI, mualaf.com.

Simak perjalanan panjang beliau dari belenggu kebencian terhadap Islam. Akibat pendidikan sejak “Di Sekolah Kristen”program Kristenisasi. Hingga akhirnya memperoleh hidayah Islam. Sekarang, Subhanallah, aktif sebagai Dai PITI.

KALAU saya renungkan, jalan hidup saya sungguh unik & berliku. Sebelum Islam – bahkan menjadi dai- saya adalah orang yang paling memusuhi Islam & kaum muslimin. Sikap itu terbentuk karena, pendidikan mengajarkan demikian.

Ketika di kelas VI SD milik sebuah yayasan Katolik, saya sudah menyaksikan sikap para guru yang kurang simpatik. Bahkan cenderung menekan siswa Islam.

Saya dilahirkan 28 Agustus 1962. Ayah Tionghoa & ibu Ketanggungan, Brebes, Jawa Tengah. Sebagaimana orang Tionghoa, ayah Budha Konghucu. Sedangkan, ibu asli Jawa, Islam abangan & mengamalkan tradisi Kejawen.

Karena itulah saya punya 2 nama. Oleh ayah diberi nama Na Peng An. Ibu memberi nama Agus Slamet. Saya lebih menyukai pemberian ibu.

Sejak SD, saya bersekolah 2 tempat. Pagi, SD Katolik. Siangnya SD Hokkian, berbahasa Mandarin (sekarang SD Bhineka Tunggal Ika). Keduanya di daerah Jembatan 5, Jakarta Barat. Meskipun ayah Budha, tetapi karena Ia meninggal saat umur saya 9, ajaran Katoliklah yang paling banyak mempengaruhi masa kecil.

Peta Jembatan Lima, Jakarta Barat


Di SD Katolik itu, saya termasuk yang menonjol. Saat kelas IV (10 Tahun), menjadi pendeta anak-anak. Tugasnya menyampaikan cerita kisah para rasul, versi Injil kepada anak-anak kelas I sampai kelas III, pada Sekolah Minggu atau kebaktian khusus anak-anak.

Karena bakat itulah, ketika di kelas V saya disekolahkan khusus calon pendeta di daerah Cibubur, Jakanta Timur. Tentu saja dengan jaminan bebas SPP, mendapat uang saku, bahkan jaminan naik kelas & lulus EBTA (ujian). Di sekolah khusus itu, selain pendalaman Injil, juga dilatih ilmu bela diri dengan disiplin militer ketat.

Sedangkan, tugas-tugas kemasyarakatan kami diajarkan cara mempengaruhi masyarakat, agar mendukung program kristenisasi. Misalnya dengan pendekatan ohahraga & kesenian kepada remaja muslim, & santunan sosial kepada masyarakat muslim yang miskin.

Selama sekohah khusus itu, tinggal di asrama. Praktis, tidak mengikuti pelajaran di kelas. Hanya sekali-kali saja datang, jika ada ulangan atau tes. Tetapi, seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, lulus EBTA dengan nilai rata-rata.

Di kelas VI inilah, siswa yang beragama Islam mendapatkan tekanan datang ke gereja setiap Minggu, dengan ancaman tidak lulus EBTA bagi yang mangkir.

Setelah lulus SD, disekolahkan ke SMP Katolik di Jalan KB. Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Saat yang sama, tinggal di asrama sekolah khusus calon pendeta. Pelajaran semakin meningkat. Para siswa sekolab khusus, di samping terus mengikuti pendalaman Injil, juga diajarkan cara menghancurkan agama Islam.

Dengan jalan merombak sikap hidup Islami kaum muslimin. Terutama, menciptakan dekadensi moral di kalangan remaja muslim. Cara paling ampuh, melalui pernikahan. Kami yang laki-laki disuruh menikahi gadis-gadis muslimah. Sedangkan, perempuan disuruh menikah dengan pemuda Islam.

Lari Dari Tugas

Tetapi satu hal, timbul sesuatu yang aneh dalam diri saya. Tidak seperti kawan-kawan yang lain, yang begitu saja menelan mentah-mentah doktrin guru di sekolah khusus. Saya justru selalu merenungkannya. Bahkan, tidak jarang saya melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis, baik menyangkut pemahaman lnjil maupun strategi penghancuran moral kaum muslimin.

Pendalaman Injil yang utuh & detail, menyebabkan wawasan semakin terbuka. Banyak kejanggalan & keanehan di dalam Injil. Baik menyangkut redaksi maupun isi. Dari segi radaksi, antara Injil yang satu & Injil yang lainnya terjadi perbedaan redaksional yang terkadang amat tajam.

Satu hal lagi yang membuat bingung, mengapa Injil yang diyakini firman Tuhan, mengalami revisi (ralat, perbaikan) beberapa kali. Sehingga dalam Alkitab, ada Perjanjian Baru yang meralat ajaran-ajaran Perjanjian Lama?

Kalau begitu, di mana keautentikan & keaslian Injil?

Semua keanehan itu, selalu saya tanyakan kepada pastur pembimbing. Jawabannya, selalu tidak memuaskan. Hanya berdasarkan akal pastur yang bersangkutan saja. Tanpa menyebut dalil Injil yang jelas. Saya juga menanyakan, mengapa kaum muslimin dianjurkan berkhitan (sunat) & diharamkan memakan daging babi. Dijawab, orang Islam tidak bersyukur kepada Tuhan.

Alasannya, mengapa kemaluan (alat vital) yang diciptakan utuh harus dipotong (dibuang)? Termasuk daging babi, mengapa sesuatu yang disediakan Tuhan untuk manusia, harus diharamkan?

Tetapi, alasan itu disampaikan hanya berdasarkan akal saja. Tanpa dalil Alkitab yang konkret. Saya betul-betul kecewa. Termasuk usaha menghancurkan moral kaum muslimin pun, tidak luput dari sasaran pertanyaan saya.

Saya terkadang heran & bingung sendiri, mengapa agama yang mengajarkan kasih sesama mahluk Tuhan mempunyai kebencian yang begitu mendalam kepada Islam?

Semua kejanggalan & keanehan itu mempunyai kesan yang amat kuat membekas dalam jiwa saya yang kelak, mengubah jalan hidup saya.

Sejak timbulnya konflik berkepanjangan itu, terjadi kesenjangan rohani pada diri saya. Saya sudah tidak mempercayai lagi kebenaran Alkitab. Saya betul-betul kecewa kepada Injil yang selama itu saya anggap sebagai kitab suci.

Klimaks, saya mengundurkan diri dari sekolah khusus. Semua jaminan & fasilitas, dicabut. Waktu itu tahun 1976, saat akhir di kelas I & kenaikan kelas. Ketika pembagian rapor kenaikan, saya keluar SMP. Pindah sekolah. Konsekuensinya, harus membiayai sekolah sendiri. Sebelumnya, serba gratis.

Beruntung, ada kenalan yang menjadi kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD), menerima saya mengajar di sekolah yang dipimpinnya. Saya masih Katolik. Saya mengajar matematika & IPS. Dengan itulah saya membiayai pendidikan SMP sampai tamat SMA, tahun 1980.

Melirik Islam

Antara 1976-1980, sudah tidak beragama lagi. Frustrasi dengan Katolik. Tidak pernah lagi membuka-buka Injil. Di hati tidak ada lagi ikatan batin antara saya & gereja. Suasana ketika mengikuti pendidikan sekolah khusus calon pendeta, seperti terulang kembali. Masih segar dalam ingatan. Bagaimana kami mendapat doktrin tentang kebenaran Kristus, yang tidak dapat dibantah, selain harus menelan mentah-mentah.

Tetapi, di antara semua itu, yang paling mengusik batin, mengapa begitu membenci Islam?

Mengapa Islam begitu dimusuhi, sehingga diperlukan strategi & taktik menghancurkannya? Karena pertanyaan-pertanyaan itulah, saya mulai melirik Islam. Ada apa dengan Islam? Kekuatan apa yang dimiliki Islam sehingga ia dianggap sebagai ancaman?

Waktu itu baru tamat SMA. Untuk menjawab hasrat hati itu, saya harus mempelajani Islam dahulu. Sebab, saya tidak ingin tertipu 2 kali. Saya merasa tertipu memilih Katolik sebagai agama, lantaran tidak mendalami terlebih dahulu. Kebetulan, tidak jauh dari rumah tinggal seorang mantan qari tahun 50-an bemama H. Abdul Ghani Gamal.

Kepada beliau, saya katakan bahwa saya ingin mempelajari Islam. Tidak tanggung-tanggung, saya ingin belajar Islam dari nol, mulai & belajar huruf Arab (Al-Qur’an), teologi (tauhid), termasuk peribadatannya (fikih syariah).

Semula, H. Abd. Ghani keberatan. Karena belum mengucapkan 2 kalimat syahadat alias masih kafir. Tetapi, saya katakana, saya akan masuk Islam jika saya sudah benar-benar meyakininya. Atas pertimbangan itu, akhirya diterima. Waktu itu akhir 1980.

MasjidilHaram2
Masjidil Haram, Mekah

Selain itu, saya juga sering berkunjung kepada ulama-ulama terkenal, seperti K.H. Abdullah Syafii (almarhum) & Abah Anom di Tasikmalaya, Jawa Barat. Bahkan, setiap pengajian di masjid-masjid terkenal, saya tidak pernah absen. Waktu itu, tidak satupun jamaah yang hadir mengetahui ada seorang nonmuslim ikut mengaji bersama mereka.

Dari beberapa pengajian itu, saya dapat menilai, Islam adalah agama rasional & terbuka terhadap perbedaan pendapat. Meskipun, pemahaman kaum muslimin secara umum terbagi dalam 3 golongan: tradisional, moderat, & fundamental. Tetapi, masalah prinsip tetap utuh.

Bertuhan Allah SWT & meyakini 1 kitab suci Al-Qur’an sebagai imam (pernbimbing, pedoman hidup). Kurang kebih 5 tahun saya mempelajari Islam & beberapa orang guru yang mewakili 3 kelompok tersebut. Untuk menambah wawasan, juga membaca buku-buku Islam. Bila ada uang lebih, selalu saya belikan buku-buku Islam.

Dalam pengembaraan mencari kebenaran hakiki itu, baru saya dapatkan jawabannya. Dan, jawabnya hanya ada dalam Islam. Di antara daya tarik Islam yang begitu berkesan, adalah konsep Ketuhanannya yang tegas & sederhana (tauhid). Keautentikan Al-Qur’an sebagai kitab suci. Tata cara ibadahnya yang luwes & sederhana.

Setelah merasa cukup bahan menentukan pilihan, pada awal 1985, resmi di hadapan jemaah masjid di daerah Cengkareng, Jakarta Barat, saya ucapkan ikrar 2 kalimat syahadat. Di bawab bimbingan 2 orang guru saya, H. Abdul Ghani & H. Ali. Seminggu kemudian, ibu saya menyempurnakan kembali keislamannya dengan mengucapkan 2 kalimat syahadat.

Saya bersyukur dapat langsung membimbing beliau melaksanakan shalat. Kini, saya hidup berbahagia dengan istri & 3 anak. Selain berusaha & berbisnis, saya juga aktif berdakwah melalui wadah organisasi PITI (Pembina Iman Tauhid Islam).

[Journey to Islam ; 04 Nov 2005-Agus Slamet (Na Peng An), mubaligh & menjabat Sekretaris Depertemen Komunikasi & Informasi/Korps Mubaligh DPP PITI (mualaf.com)]

♦♦♦♦♦♦

Tidak membeda-bedakan. Allah berfirman,

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah & apa yang diturunkan kepada kami, & apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub & anak cucunya, & apa yang diberikan kepada Musa & Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya.

Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka & kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.” [2:136]

***

Tidak dibunuh. Tidak disalib. Allah berfirman,

“& karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya & tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka.

Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. “ [3:157]

***

Cahaya Tuhan. Allah berfirman,

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” [39:22]

***

Jangan menukar ayat. Allah berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk & cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka & pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah & mereka menjadi saksi terhadapnya.

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” [5:44]

***

Tanpa ilmu. Allah berfirman,

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk & tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya,” [22:8]

***

Hanya yang Dia kehendaki. Allah berfirman,

“Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an & As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” [2:269]

***

Lapang dada. Allah berfirman,

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit.

Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” [6:125]

***

Hanya Islam. Allah berfirman,

“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” [3:19]

***

Petunjuk. Allah berfirman,

“Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah & (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab & kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu (mau) masuk Islam?”

Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, & jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” [3:20]

***

Amal shaleh. Allah berfirman,

“Hanya kepada-Nya-lah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman & yang mengerjakan amal shaleh dengan adil.

Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas & adzab yang pedih disebabkan kekafiran mereka.” [10:4]

***

Semua di langit & di bumi. Allah berfirman,

“Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit & semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, & mereka hanyalah menduga-duga.” [10:66]

***

Tenteram. Allah berfirman,

“(yaitu) orang-orang yang beriman & hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” [13;28]

Iklan

Tinggalkan Balasan, sopan, intelek, belajar lanjut

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s