Bernard Nababan ‘Mantan Pendeta’: Ragu Isi Alkitab

[Journey to Islam; swaramuslim]

Menjadi pendeta adalah harapan orang tuanya. Bermula rencana melakukan misi di perkampungan Muslim, berlanjut memenuhi tawaran dialog dengan tokoh masyarakat muslim, akhirnya kehendak Allah SWT mengantarkan Bernard Nababan pada Hidayah Islam. Bahkan, akhirnya menjadi juru dakwah Islam. ♥♥♥

BernardSaya disekolahkan di lingkungan yang khusus mendidik calon pendeta. Seperti Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Kristen. Lalu berlanjut Sekolah Tinggi Teologi (STT) N, yaitu sekolah untuk calon pendeta di Medan. Di kampus STT ini mendapat pendidikan penuh.

Saya wajib mengikuti kegiatan seminari. Kemudian, diangkat menjadi Evangelist atau penginjil selama 3 tahun 6 bulan pada Gereja HKBP. Sebagai calon pendeta & penginjil Sekolah Tinggi Teologi, saya bersama beberapa teman wajib mengadakan kegiatan di luar sekolah, seperti KKN (Kulah Kerja Nyata).

Tahun 1989 saya diutus bersama beberapa teman berkunjung ke suatu wilayah. Tujuan kegiatan, selain memberi bantuan sosial kepada masyarakat, khususnya muslim, juga menyebarkan ajaran Injil. Dua prioritas inilah yang menjadi tujuan berkunjung. Sebagai penginjil kami diwajiban untuk itu. Sebab, agama kami (Kristen) sangat menaruh perhatian & mengajarkan rasa kasih terhadap sesamanya.

Berdialog

Dalam kegiatan ini saya sangat optimis. Namun, sebelum misi berjalan, saya bersama teman-teman harus berhadapan dulu dengan pemuka kampung. Mereka menanyakan maksud kedatangan. Kami menjawab terus terang. Keterusterangan kami ini dijawab ajakan berdialog. Diajak ke rumah tokoh itu.

Mulai berdialog seputar kegiatan tersebut. Tokoh masyarakat itu mengakui, tujuan kegiatan kami sangat baik. Namun, ia mengingatkan agar jangan dimanfaatkan menyebarkan agama. Mereka prinsipnya siap dibantu, tapi tidak untuk pindah agama.

Agama Kristen, masih menurut tokoh masyarakat itu, hanya diutus untuk Bani Israel (orang Israel) bukan warga di sini. Kami hanya diam. Akhirnya, tokoh masyarakat itu mulai membuka beberapa kitab suci agama yang kami miliki, dari berbagai versi. Satu per satu kelemahan Alkitab ia uraikan. la juga membahas buku Dialog Islam-Kristen antara K.H. Baharudin Mudhari di Madura dengan seorang pendeta.

Dialog antara kami & tokoh masyarakat tersebut kemudian terhenti setelah azan magrib. Kami kembali ke asrama sebelum kegiatan itu sukses. Dialog dengan tokoh masyarakat tersebut, terus membekas dalam pikiran. Lalu, saya pun membaca buku Dialog Islam Kristen tersebut, 12 kali ulang.

Lama-kelamaan buku itu menpengaruhi pikiran saya. Saya mulai jarang praktek mengajar selama 3 hari berturut-turut. Saya ditegur pendeta. Pendeta itu rupanya tahu saya berdialog dengan seseorang yang mengerti Alkitab. “Masa’ kamu kalah sama orang yang hanya tahu kelemahan Alkitab. Padahal kamu telah belajar selama 3,5 tahun. Dan kamu juga pernah mengikuti kuliah seminari,” katanya dengan nada menantang & sinis.

Kabur dari Asrama

Sejak peristiwa itu, saya jadi lebih banyak merenungkan kelemahan-kelemahan Alkitab. Benar juga apa yang dikatakan tokoh masyarakat itu tentang kelemahan kitab suci umat Kristen ini. Akhirnya saya putuskan berhenti menjadi calon pendeta. Saya harus meninggalkan asrama.

Tengah malam, dengan tekad bulat saya lari meninggalkan asrama. Tak tahu harus ke mana. Jika pulang ke rumah, pasti disuruh balik ke asrama, & tentu diinterogasi panjang lebar.

Saya naik kendaraan, entah ke mana. Dalam pelarian itu berkenalan dengan seorang muslim dari Pulau Jawa. Saya terangkan kepergian & posisi saya, yang dalam bahaya. Oleh orang itu, saya dibawa ke Jember, Jawa Timur. Di sana saya tinggal 1 tahun.

Saya dianggap seperti saudaranya sendiri. Saya bekerja membantu mereka. Kerja apa saja. Dalam pelarian itu, saya sudah tidak lagi menjalankan ajaran agama yang saya anut. Rasanya, saya kehilangan pegangan hidup.

Selama tinggal di rumah orang muslim tersebut, saya tenteram. Sangat kagum padanya. Ia tidak pemah mengajak, apalagi membujuk memeluk agamanya. la sangat menghargai kebebasan beragama.

Dari sinilah saya mulai tertarik ajaran Islam. Mulai bertanya tentang Islam. Saya diajak bertanya lebih jauh kepada ulama. Diajak ke rumah seorang pimpinan Pondok Pesantren Rhoudhotul ‘Ulum, K.H. Khotib Umar.

Saya utarakan keinginan mengetahui lebih jauh, ajaran Islam. Dan, saya jelaskan perihal agama & kegiatan saya. Tak lupa pula, saya jelaskan keraguan pada isi Alkitab yang selama ini saya imam sebagai kitab suci. Terdapat kontradiksi ayat-ayatnya. Setelah saya jelaskan kelemahan Alkitab panjang lebar, K.H. Khotib Umar sangat terharu.

Secara spontan beliau merangkul saya sambil berkata,

“Anda adalah orang yang beruntung, karena Allah telah memberi pengetahuan pada Anda, sehingga Anda tahu bahwa Alkitab itu banyak kelemahannya.”

Setelah itu beliau mengatakan, jika ingin mempelajari agama Islam secara utuh, itu memakan waktu lama. Sebab, ajaran Islam itu sangat luas cakupannya. Tapi yang terpenting, menurut beliau adalah dasar-dasar keimanan agama Islam, rukun iman.

Masuk Islam

Uraian K.H. Khotib Umar menjelaskan perbedaan jauh antara Islam & Kristen. Kristen, mengenal ada 2 Tuhan (dogma trinitas). Yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Anak, & Roh Kudus. Kristen tidak mempercayai kerasulan Muhammad SAW. Bahkan, menuduhnya tukang kawin.

Juga hanya percaya 3 kitab suci, Taurat, Zabur, & Injil. Ajaran Kristen tidak mempercayai siksa kubur, karena berkeyakinan setiap Kristen pasti masuk surga. Yang terpenting, adalah penyaliban Yesus. Hakekatnya, Yesus disalib untuk menebus dosa manusia di dunia.

Penjelasan K.H. Khotib Umar sangat menyentuh hati saya. Terus saya renungkan. Batin berkata, penjelasaan itu sangat cocok dengan hati nurani saya. Lalu, kembali saya bandingkan dengan agama Kristen. Ternyata Islam jauh lebih rasional (masuk di akal) daripada Kristen. Oleh karena itu, saya berminat memeluk Islam.

Keesokan harinya, saya ke rumah KH. Khotib Umar menyatakan niat masuk Islam. Beliau terkejut dengan pernyataan saya yang sangat cepat. Beliau bertanya,

“Apakah sudah dipikirkan masak-masak?”

“Sudah,” suara saya meyakinkan & menyatakan diri hati sudab mantap.

Beliau membimbing mengucapkan 2 kalimat syahadat. Sebelum ikrar, beliau menjelaskan & nasehat. Di antaranya,

“Sebenarnya saat ini Anda bukan masuk agama Islam, melainkan kembali kepada Islam. Karena dahulu pun Anda dilahirkan dalam keadaan Islam. Lingkunganmulah yang menyesatkan kamu.

Jadi, pada hakikatnya Islam adalah fitrah bagi setiap individu manusia. Artinya, keislaman manusia itu adalah sunnatullah, ketentuan Allah. Dan, menjauhi Islam itu merupakan tindakan irrasional. Kembali kepada Islam berarti kembali kepada fitrahnya,” ujar beliau panjang lebar.

Saya amat terharu. Tanpa terasa air mata meleleh. Sehari setelah ikrar, dikhitan. Menjadi Syamsul Arifin Nababan. Kemudian mendalami Islam kepada K.H. Khotib Umar & menjadi santrinya. Setelah beberapa tahun, saya amat rindu keluarga. Diizinkan pulang. Bahkan, beliau membekali Rp 10.000 untuk pulang ke Sumatra Utara.

Dengan bekal itu akhirnya sampai ke rumah orang tua. Dalam perjalanan, banyak kisah yang menarik yang menunjukkan kekuasaan Allah. Sampai di rumah, ibu, kakak, & semua adik, tidak lagi mengenali saya, karena mengenakan baju gamis & bersorban.

Lalu, saya terangkan saya adalah Bernard Nababan yang kabur dari rumah. Saya jelaskan pula agama yang kini saya anut. Ibu amat kaget & shok. Kakak-kakak amat marah. Akhirnya diusir dari rumah.

Usiran merekalah membuat tegar. Kemudian pergi ke beberapa kota, berdakwah. Alhamdulillah, mendapat sambutan saudara-saudara kaum muslimin. Akhirnya terdampar di Jakarta.

Aktivitas dakwah makin berkembang. Untuk mendalami ajaran-ajaran agama, saya pun aktif belajar di Ma’had al-Ulum al-Islamiyah wal abiyah atau UPIA Jakarta.

[Maulana/Albaz “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani gemainsani.co.id; Mualaf Online Center (MCOL)]

ooo

Kami tidak membeda-bedakan. Allah berfirman, 

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin):

“Kami beriman kepada Allah & apa yang diturunkan kepada kami, & apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub & anak cucunya, & apa yang diberikan kepada Musa & Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya.

Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka & kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.” [2:136]

“Katakanlah:

“Kami beriman kepada Allah & kepada apa yang diturunkan kepada kami & yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, & anak-anaknya, & apa yang diberikan kepada Musa, `Isa & para nabi dari Tuhan mereka.

Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka & hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.”” [3:84]

Cahaya Tuhan. Allah berfirman,

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?

Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” [39:22]

Hanya yang Dia kehendaki. Allah berfirman, 

“Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an & As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” [2:269]

Hanya Allah pemberi petunjuk. Allah berfirman, 

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. 

Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan).” [2:272]

Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit.

Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. [6:125]

 

Iklan

7 pemikiran pada “Bernard Nababan ‘Mantan Pendeta’: Ragu Isi Alkitab

    1. betul, memang kadang ada yg spt itu. disini, kita mo blajar, klo mau. memang, yg sy baca ada perintah semua mansia u ikutin muhammad & quran. yesus sendiri islam, artinya taat & patuh kpd pemilik alam semesta. tp pengikut yesus sendiri malah menuhankan beliau. kita sampaikan, itu salah. klo mau ikut syukur, klo gak ya kita kembalikan pd allah. tdk boleh kecewa, tdk boleh marah, emosi, musuhan. la mo gimana maksanya. krn yg bisa mengubah hanya dia, tuhan. bukan muhammad, bukan yesus. begitu…

      1. apakah clarissa sudah baca perjanjian lama, perjanjian baru, & perjanjian terakhir (Quran). kalau mau, bacalah dengan ‘hati’ mencari kebenaran, tanpa prasangka. sy ada referensi, dg penulis mantan kristen/katolik dlm & luar.

        keputusan, tetap di tangan anda. tidak ada paksaan dlm beragama. hanya yg taat kpd pemilik alam semesta yg beruntung, bukan kepada yesus atau isa al-masih. itu dapat dibaca di ke 3 perjanjian di atas. kalau mau.

Tinggalkan Balasan, sopan, intelek, belajar lanjut

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s