Muhammad Reynold Hamdani : Cita-cita Gagal

[Dalam hati kecil, saya berkata: secara logika, saat Yesus disalib, dihina, diludahi, sebetulnya di mana sebenamya letak ketuhanan Yesus? Seharusnya, Tuhan tidak layak diperlakukan seperti itu.]

ooo

Masjid Cheng Ho Selaganggeng, Mrebet,Purbalingga, Jateng MalamHidayah Islam tak kenal usia & waktu. Jika Allah menghendaki, tak ada yang tak mungkin. Serba mungkin.

Kendati belia, Reynold telah menemukan kebenaran Islam. Padahal, omanya sangat mengharapkan cucu kesayangannya itu, mengikuti jejaknya. Menjadi pendeta. Allah berkehendak lain. Usia muda tak menghalangi seseorang bersikap kritis.

Reynold Hamdani, lelaki kelahiran 11 Mei 1981, sejak SMR sudah bertanya tentang Tuhan, Ia punya segudang pertanyaan tentang Tuhan sebenar-benar Tuhan. Tuhan yang bisa diterima secara logika, bukan konsep Tuhan yang membuat bingung & gelisah.

Untuk menceritakan perjalanan rohaninya, Reynold datang ke redaksi Amanah, wawancara. Katanya, kampusnya tak jauh dari kantor Amanah. “Usai wawancara, saya bisa langsung meluncur ke kampus kuliah,” ujar Reynold saat membuka percakapan. Berikut penuturan Reynold kepada Amanah usai shalat Ashar, beberapa waktu lalu;

Awal ketertarikan saya pada Islam, sebetulnya karena peran mama (Yetty Pangau) yang lebih dahulu Islam. Sebagai keturunan Tionghoa, keluarganya penganut Kristen Pantekosta taat, kecuali papa. Oma & opa saya, keduanya pendeta.

Saya sendiri, anak ketiga dari 4 bersaudara. Dibanding saudara yang lain, boleh dibilang, saya yang paling dekat oma (Theresia Pangau). Mengingat, sejak kecil, saya sering tinggal di rumah oma ketimbang mama-papa. Dekatnya rumah oma dengan gereja, membuat saya banyak menghabiskan waktu di lingkungan gereja.

Dalam keseharian, Oma adalah orang yang paling berperan mendidik iman Kristiani. Oma pula, yang melatih berpikir kritis, tentang segala hal. Di sekolah minggu misalnya, saya sudah biasa memimpin, & bercerita kepada anak-anak tentang Al Kitab.

Keinginan oma, kelak saya menjadi pendeta. Makanya, oma terus mendorong agar masuk sekolah khusus pendeta di Surabaya, setelah lulus SD nanti. Didikan oma agar saya mampu berpikir kritis, akhirnya malah seolah berbalik. Mengkritisi dogma Kristen yang selama ini diterima dari oma.

Bagaimana pun, oma adalah orang yang sangat saya sayangi. Begitu juga oma sangat menyayangi saya. Dari kedekatan emosional dengan oma, telah membuat saya shock. Ketika mendengar kabar oma meninggal dunia (1992). Saat menyaksikan tubuh oma rebah tanpa nyawa, saya sempat tidak bisa berjalan, shok. Meninggalnya oma, saya kehilangan orang yang saya cintai, & yang mencintai saya.

Namun, di balik meninggalnya oma, ternyata Tuhan punya rencana & kehendak lain. Semula oma yang mengharapkan melanjutkan jejaknya, tak pemah terwujud. Begitu oma meninggal, saya justru mempelajari Islam. Bahkan memeluk Islam. Saya berpikir, kalau saja oma masih hidup, boleh jadi saya akan memantapkan keinginan oma. Menjadi pendeta! Juga boleh jadi, oma sangat membenci saya, karena menanggalkan iman Kristiani.

Pada tahun yang sama, selang beberapa hari wafatnya, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (BPPS), tempat saya kebaktian & sekolah minggu di bilangan Tanjung Perak digusur. Sejak itu, praktis tidak ke gereja lagi.

Benci Mama

Setelah wafatnya oma, Reynold tinggal bersama mama-papanya. Ketimbang papanya, ia lebih dekat mamanya. Itulah sebabnya, Reynold banyak meluangkan waktu bersama mamanya. Semula Reynold betul-betul tidak tahu, mamanya ternyata diam-diam telah memeluk Islam.

Hebatnya, sang mama pandai menyembunyikan kerahasiannya memeluk Islam, kepada keluarga dalam beberapa tahun. Suatu ketika, Reynold memergoki mamanya shalat di rumah tetangga. Begitu kepergok, Reynold mulai mencari tahu, ihwal sang mama tertarik Islam. Berikut penuturan Reynold:

Begitu saya memergoki mama sedang shalat di rumah tetangga, spontan saya bertanya pada mama. Kenapa mama masuk Islam? Lalu dijawab mama, “Mama mimpi berteriak Allahu Akbar. Mimpi itu bukan hanya datang sekali, tetapi beberapa kali. Mama pikir, mungkin ini sudah panggilan memeluk Islam.” Singkat cerita mama memutuskan menjadi Muslimah.

Mendengar pengakuan mama, saya betul-betul marah & membenci. Bagaimana tidak, saya yang selama ini mendapat doktrin gereja tentang konsep ketuhanan Yesus, mama justru bertolak belakang dengan apa yang saya terima selama ini. Sebelum meninggalkan mama, tetangga saya yang Muslim menganjurkan saya mempelajari Islam, katanya: Apa benar Yesus itu Tuhan. Bukankah Yesus itu manusia biasa. Karena itu, terlalu tinggi kalau Yesus dijadikan Tuhan.

Sekalipun marah & pergi meninggalkan mama, tapi marahnya, tetap menyimpan banyak pertanyaan. Berbekal sikap kritis yang diajarkan oma, saya mulai mengkritisi ajaran Kristiani. Sesampai di rumah, dalam keadaan gelisah, saya banyak bertanya dalam hati. “Kenapa mama masuk Islam? Ada apa dengan Islam?”

Ke Toko Buku Islam

Saya renungkan soal konsep ketuhanan, secara tak sadar saya melontarkan pertanyaan nakal, yang tak seharusnya saya lontarkan kepada diri saya sendiri. Dalam hati kecil, saya berkata: secara logika, saat Yesus disalib, dihina, diludahi, sebetulnya di mana sebenamya letak ketuhanan Yesus? Seharusnya, Tuhan tidak layak diperlakukan seperti itu.

Untuk mencari jawaban, diam-diam masuk ke toko buku Islam di Sarinah, Jakarta dengan hati dag dig dug. Saat itu, saya cari buku yang berhubungan dengan pertanyaan tentang konsep Tuhan. Kebetulan, saya menemukan buku berjudul “Bibel dalam Timbangan”. Saya menemui jawaban pertanyaan selama ini. Saya beli buku tersebut, baca isinya sampai habis. Juga membuka tafsir Al Our’an & Al Kitab, untuk saya pelajari & bandingkan.

Yang pasti, mama tidak tahu, saya sedang mempelajari Islam diam-diam. Adapun, tujuan mempelajari Islam awalnya adalah agar bisa menyerang balik mama, tentang Islam. Saya ingin mengcounter mama. Tapi belum ‘mengcounter’, iman Kristiani saya justru malah goyah.

Terlebih, ketika membuka ayat Al Qur’an tentang keesaan Tuhan. Dari situ, entah kenapa, saya seperti diyakinkan. Tuhan itu Esa. Sedangkan Yesus itu hanyalah perantara atau messenger (utusan) yang menghantarkan manusia menuju Tuhan.

Secara logika, saya juga berpikir, Tuhan itu tidak ada perantara. Yesus hanyalah utusan saja yang mengajak kita mengenal Tuhan. Saya menyadari, ternyata Islam, menjelaskan konsep ketuhanan itu lebih gampang ketimbang Kristiani. Maka, dalam kurun waktu setahun, saya betul-betul mempeiajari Islam, & mencari hakikat Tuhan yang sejati.

Sebelum masuk Islam, mama mengajak saya ke Yayasan Islam Haji Kariem Oei, sebuah komunitas Tionghoa Muslim, di Sawah Besar, Jakarta. Setiap minggu, mama ke sana. Anehnya saya menurut saja. Di Yayasan Karim Oei itulah, saya berkenalan dengan banyak keluarga Tionghoa Muslim.

Saya akui, dalam pandangan Tionghoa non-Muslim, Islam adalah agama yang rendah, terbelakang, & menakutkan. Padahal, sebetulnya, bukan Islamnya yang rendah, tapi umatnya yang merendahkan diri. Di Karim Oei, ada upaya menjembatani antara pribumi dengan keturunan Tionghoa soal terjadinya misinformasi. Di Yayasan inilah, disampaikan syiar di kalangan Cina non-Muslim, tentang ajaran Islam yang indah, sejuk, & bermartabat.

Kenapa ke Karim Oei? Karena, biasanya kaum Tionghoa akan merasa nyaman bila berada di lingkungan & budaya yang sama, yakni dengan sesama keturunan Tionghoa. Saya sendiri merasa nyambung dalam berkomunikasi, & seperti di rumah sendiri.

Ketika dibentuk wadah remaja Islam bernama Hirko (Himpunan Remaja Islam Karim Oei) tahun 1995, saya terlibat di dalamnya. Waktu itu belum Islam, lucunya malah ikut-ikutan. Akhirnya, tahun 1996 memutuskan masuk Islam.

Sebelum mengucapkan 2 kalimat syahadat di rumah Hartono, mantan KASAD dengan dibimbing oleh Imam Besar Al Aznar (tepat bulan Ramadhan), lebih dulu memberi tahu mama. Kata saya, “Ma, saya mau masuk Islam.” Ah betul nih? tanya mama. “Betul! Sudah setahun saya mempelajari Islam, Ma,”.

Tahun pertama masuk Islam, baik-baik saja, setelah itu, teman dekat menjauh. Lebih menyakitkan lagi, saya didiamkan teman-teman 1 kelas. Termasuk guru. Saat itu masih cuek saja. Tapi, lama-lama mulai merasa tidak betah. Meski begitu, tetap meneruskan, hingga tamat.

Sejak awal mama masuk Islam, tidak ada keluarga papa & mama pun yang tahu. Apalagi saya. Suatu ketika, mama tampil di salah 1 stasiun televisi swasta, sebagai narasumber untuk diwawancara tentang keislamannya. Kebetuian saja, tetangga saya ada yang menonoton tayangan itu.

Akhirya tersebarlah kabar, mama masuk Islam hingga semua orang tahu. Tak terkecuali, saudara papa & mama. Keluarga papa lebih menghormati ketimbang keluarga mama. Sampai saat ini, saudara mama, betul-betul telah putus hubungan. Mereka menjaga jarak dengan kami.

Setelah Reynold memeluk Islam, ia memilih nasyid sebagai jalur dakwahnya. Di Tim Nasyid “Lampion”, Reynold, berdakwah melalui pendekatan budaya. Menurut Reynold, jalur budaya sangat efektif untuk berdakwah.

“Di Kristen saja, ada paduan suara, ada drama tentang pengorbanan Yesus. Pola ini, terbukti bisa diterima banyak orang, Sebagai Muslim, saya berharap, Islam kian berkembang. Dalam dakwah pun, kita harus memperkenalkan Islam lebih indah, sejuk & damai. Dengan demikian, Islam tidak dinilai dalam kacamata personal atau pribadi semata.

Kerena itu, kita harus merubah pola pikir di kalangan non Muslim, Islam adalah agama rendah, buruk & terbelakang. Terpenting, tantangan dakwah di kalangan Tionghoa non-Muslim adalah dengan memberi keteladanan & akhlak yang baik,” tandas Reynold yang kini kuliah di Universitas Islam Jakarta. (amanahonline; Journey to Islam ; Redaksi 07 Aug 2005)

ooo

Kafir. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolong pun.” [5:72]

Rasul sesudah Isa. Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat & memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”.” [61:6]

Wasiat para nabi. Allah berfirman, “Dia telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh & apa yang telah Kami wahyukan kepadamu & apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa & Isa yaitu: Tegakkanlah agama & janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya & memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” [42:13]

Isa al-Masih Nabi. Allah berfirman, “Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) & Dia menjadikan aku seorang nabi.” [19:30]

Melampaui batas. Allah berfirman, “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, & janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah & (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, & (dengan tiupan) roh dari-Nya.

Maka berimanlah kamu kepada Allah & rasul-rasul-Nya & janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit & di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” [4:171]

Kami tidak membeda-bedakan. Allah berfirman, “Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah & apa yang diturunkan kepada kami, & apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub & anak cucunya, & apa yang diberikan kepada Musa & Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka & kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.” [2:136]

Cahaya Tuhan. Allah berfirman, “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” [39:22]

Tanpa ilmu. Allah berfirman, “Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk & tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya,” [22:8]

Melapangkan dada. Allah berfirman, “Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” [6:125]

Semuanya kembali. Allah berfirman, “Hanya kepada-Nya-lah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman & yang mengerjakan amal shaleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas & adzab yang pedih disebabkan kekafiran mereka.” [10:4]

Tuhan ESA. Allah berfirman, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, & rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, & (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” [9:31]

Mengingat. Allah berfirman, “(yaitu) orang-orang yang beriman & hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” [13;28]

Iklan

Tinggalkan Balasan, sopan, intelek, belajar lanjut

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s