BISARA SIANTURI: PENDAKWAH Di Rumah Walikota

“Sebenarnya, yang membawa agama ini berapa? Kenapa saya tidak boleh sembahyang di tempat lain?”

@@@@@@@

Bibi-Khanym Mausoleum, UzbekistanBisara Sianturi adalah anak muda fanatik Prostestan. Bisara mencoba, mempengaruhi keluarga muslim di Medan, agar menerima ajaran Kristen Prostestan, gagal. Dialog dengan haji, mendapat hidayah Allah SWT.

Bisara Sianturi lahir di Tapanuli Utara pada Jun 1949. Dibesarkan dalam keluarga taat Prostestan. Tahun 1968, Bisara merantau ke Medan. Nasibnya baik, berkenalan dengan keluarga Walikota (Datuk Bandar) Medan ketika itu, Ahmad Syah.

Kemesraan hubungan, dia berkesempatan tinggal di rumah walikota. Selama tinggal di rumah walikota, dia mencoba berdakwah anak-anak walikota, melalui lagu-lagu gereja. Anak-anak walikota dekat dengannya & suka lagu-lagu yang diajarkannya. Walikota, tidak marah. Bahkan, dia pernah bertanya kepada walikota, agama apa yang baik. Jawabnya, semua agama baik.

Pemikiran terbuka walikota membuatnya senang & berani, mengajarkan lagu-lagu gereja itu. Menurutnya, kalau orang sudah memeliki pemikiran seperti ini, biasanya mudah diajak Kristen.“Saya berniat mengkristiankan keluarga ini. Pertama-tama anak-anaknya. Makanya saya ajari mereka lagu-lagu gereja. Anehnya, mereka suka sekali lagui-lagu yang saya ajarkan,” kenang Bisara Sianturi.

Usaha Bisara, ternyata tidak lancar. Di rumah walikota, tinggal juga bapak mertuanya, Haji Nurdin. Walikota tidak keberatan, tetapi Haji Nurdin tidak suka cucu-cucunya diajarkan lagu-lagu gereja. Suatu petang, di ruang depan rumah walikota, Haji Nurdin mengajak Bisara bercakap serius. Haji Nurdin luas pengetahuan agamanya, mengajaknya berdialog. Beliau menawarkan diri masuk Kristian, jika Bisara mampu menyakinkannya melalui hujah-hujahnya.

“Kalau kamu boleh menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan benar, saya berserta keluarga saya seluruhnya dengan ikhlas & sukarela akan mengikuti kepercayaan kamu,” kata Haji Nurdin waktu itu. Tawaran itu tentu saja menggugat hati Bisara. Dia bersemangat menyanggupinya. Dia mengira, akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan mudah. Ternyata semua pertanyaan-pertanyaan Haji Nurdin, justru membuat keyakinnan Kristiannya goyah.

“Mana lebih dahulu Tuhan dengan air?” tanya Haji Nurdin. “Pak Haji ini bercanda. Anak kecil juga bisa menjawab,” ucap Bisara.

“Saya tidak bercanda. Kalau kamu bisa menjawabnya, saya & keluarga masuk agamamu!” tegas Haji Nurdin.

“Tentu lebih dahulu Tuhan, kerana Tuhanlah yang menciptakan air,” jawab Bisara. “Kalau begitu, bila Tuhan kamu lahir? Bukankan Tuhanmu, Jesus, lahir pada tahun 1 Masehi? Bukankah tarikh Masehi yang kita pakai sekarang ini mengikuti tarikh kelahiran Jesus? Bukankah sebelum Jesus lahir setelah ada air? Kalau begitu air lebih dulu ada sebelum adanya Tuhanmu?” balas Haji Nurdin. Bisara kebingungan. Dia dengan mudah menjawabnya kembali.

“Jesus itu’ kan anaknya Tuhan.” “Bukankah dalam ajaran agamamu dikenal ajaran “Trinitas” yang menganggap 3 tuhan, Tuhan Bapak, Jesus & Roh Kudus sebagai 1 kesatuan yang tidak boleh dipisahkan? Satu bererti tiga & tiga bererti satu. Kalau demikian, tidak mungkin kita memisahkan Tuhan Bapak, Jesus & Roh Kudus. “Kalau Tuhan Jesus jatuh atau diragukan dengan pertanyaan seperti tadi, bererti yang lain juga ikut jatuh,” kata Haji Nurdin.

Bisara tambah bingung, tak membantah lagi. “Yang kedua. Dalam Injil Matius pasal 27 ayat 46, disebutkan bahawa Jesus meminta tolong ketika sedang disalib. Coba fikir, bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Sempurna minta tolong, Kalau Tuhan minta tolong, bererti dia tidak pantas dianggap Tuhan,” kata Haji Nurdin.

Kali ini Bisara tambah terkejut. Dia tidak menyangka Haji Nurdin mengerti banyak tentang Injil. Oleh itu, dia tidak mampu menjawab lagi. Bisara kesal, meskipun semua meresap ke dalam hatinya, tetapi ia tidak menerima begitu saja. Dia balik bertanya kepada Haji Nurdin tentang kebiasaan orang Islam menyunat anak-laki-lakinya.

“Saya heran, orang Islam. Katanya Tuhan Maha Sempurna, apa yang diciptakan Tuhan sudah sempurna, tetapi umat Islam malah merubah ciptaan Tuhan, Bererti orang Islam lebih hebat daripada Tuhan? “Buktinya, Allah sudah menciptakan lelaki dengan sempurna, mengapa oleh orang islam lelaki itu harus disunat? Bukankah ini bererti orang Islam lebih hebat dari Tuhan?”
tanya Bisara.

Haji Nurdin, tidak hilang akal. Dia minta anak muda itu diam di tempatnya, beliau segera pergi ke pinggir jalan.

“Kamu tunggu di sini dulu sebentar. Saya akan kembali lagi cepatnya,” jawab Haji Nurdin seraya melangkah keluar rumah. Tidak lama kemudian, Haji Nurdin kembali, membawa sebiji durian.

“Kamu suka durian?” tanya Haji Nurdin. “Suka!” jawab Bisara. “Sekarang kamu makan durian ini, tetapi jangan kamu buka kulitnya,” tawar Haji Nurdin. “Bagaimana mungkin saya makan buah ini tanpa membuka kulitnya?” tanya Bisara.

“Bukankah Tuhan sudah menciptakan durian dengan sempurna seperti itu?” balas Haji Nurdin.
Bisara makin terkejut. Tidak menduga orang tua di hadapannya, begitu cerdas & luas pengetahuannya, sehingga sebiji durian dijadikan jawaban pertanyaannya. Percakapan dengan Haji Nurdin, membuat bangunan keyakinannya, rapuh. Bimbang. Ketika itulah, hidayah Allah datang. Dia tersadar semua perkataan Haji Nurdin yang benar. Tetapi, Haji Nurdin yang bijak itu meminta berfikir masak-masak.

“Sekarang fikirkanlah lagi masak-masak. Apakah selama ini keyakinan itu benar-benar telah membuat kebahagian dalam hatimu? Kalau pun kamu akan masuk Islam, fikirkan juga masak-masak untung ruginya. Fikirkan apakah Islam membahagiakan kamu? Saya beri 1 minggu memikirkannya. Jangan sampai menyesal!” ujar Haji Nurdin.

“Sebelum selesai percakapan, Haji Nurdin sempat menjelaskan cara Islam mengatur kebersihan orang muslim dengan beristinjak & berwudhu. Penjelasan Haji Nurdin saya semaikn percaya, Islam yangebenarnya,” kenang Bisara. Sebenarnya, sebelum dialog dengan Haji Nurdin pun, Bisara 2 kali meragukan keyakinannya.

Pertama, ketika masih di kampungnya, setiap tahun baru di kampungnya diadakan pesta pora. Anak-anak muda sekenyang-kenyangnya. Hampir semua orang setiap malam tahun baru, mabuk kekenyangan. Bisara remaja berfikir, apakah tidak ada aturan agama yang mengatur ukuran makanan yang boleh dimakan? Saat itulah ia mulai ragu dengan agama yang dianutinya.

Kedua, Minggu, dia terlambat ke gerejanya. Di tengah jalan di melewati geraja lain. Dia masuk ke gereja itu, tetapi di gereja itu dia tidak boleh melakukan sembahyang, kerana sembahyang di gereja itu berbeda dengan di gerejanya. Esoknya, bertanya kepada pendetanya. “Sebenarnya, yang membawa agama ini berapa? Kenapa saya tidak boleh sembahyang di tempat lain?” tanya Bisara kepada pendetanya.

Pendeta tidak dapat menjawabnya. Dia mengatakan, hal itu sudah peraturan yang tidak boleh dipertanyakan. Bisara kecewa. Semua peristiwa itu berlalu begitu saja. Dia tidak memperdulikannya lagi. Sampai akhirnya, dia bercakap-cakap dengan Haji Nurdin yang membuat keyakinan runtuh. Kesempatan berfikir itu, dimanfaatkan Bisara merenungi keyakinan yang selama ini.

Dia ingat betul keterangan Haji Nurdin mengenai istinjak & wudhuk yang merupakan salah satu ketentuan ibadah. Kagum ajaran islam yang,  mengatur umatnya sampai hal-hal yang kecil & remah, tetapi bermanfaat bagi kebersihan manusia, baik dari segi fizikal mahu pun segi rohani.

Berlalu 1 minggu, dia meminta walikota untuk diislamkan. Walikota memanggi ulama teman walikota itu. Bisara lupa nama Ulama. Disaksikan walikota Medan Ahmad Syah, Haji Nurdin & seorang tokoh Muhammadiyah Ende Pane serta ulama yang mengislamkannya, Bisara pun mengucapkan 2 kalimah syahadah.

Selesai syahadah, ulama memberikan nama baru kepadanya. Proses pemberian nama itu agak unik. Ulama itu membuka al-Quran yang ada di depannya secara sembarangan. Dari al-Quran itulah diambil nama Mahmud yang ditambahkan pada namanya. Bahkan ulama itu sampai 3 kali membuka al-Quran & menemukan nama yang sama iaitu Mahmud. Tetapi Bisara sendiri tidak tahu surah & ayat berapa yang diambil ulama sebagai namanya.

“Ulama itu sampai 3 kali membuka al-Quran secara sembarangan. Tidak ada yang diberi tanda. Tetapi begitu dibuka, selalu yang terbuka muka yang sama. Dari ayat Quran itulah ulama itu memberikan nama Mahmud kepada saya. Saya sendiri tidak tahu surah & ayat yang mana yang diambil untuk nama saya,” Kenang Bisara Mahmud Siantur.

Sejak islam, dia belajar dari satu ulama kepada ulama lain. Ternyata memeluk islam bukan perkara mudah yang tidak sebarang. Berbagai cobaan datang kepadanya. Tpga bulan islam, ditangkap polisi dituduh menghina agama lain & memecah belah masyarakat. Kejadiannya, waktu itu diminta berceramah, isinya menceritakan dia memeluk Islam.

Ceramah diselenggarakan di lapangan terbuka. Isi ceramahnya itu membuat penganut agama lain tersinggung. Maka dia pun ditangkap & dikenakan hukuman penjara selama setahun. “Saya tidak memfitnah atau memburuk-burukkan agama lain. Saya hanya memaparkan fakta. Saya boleh menunjukkan bukti-buktinya yang boleh dibaca baik dalam al-Quran & Injil, tidak ada yang bohong. Tapi pihak polis tetap menuduh saya menghina agama lain,” kenang Mahmud.

Ketika pertama masuk ke dalam kurungan, dia sempat ditawari pembebasan agama lamanya, dengan syarat dia bersedia murtad. Rupanya keyakinannya Islam sudah teguh, dia menolak tawaran itu tegas. “Kalau pun kamu beri seluruh kekayaan kamu kepada saya, saya tidak akan mahu kembali kepada agamamu,” jawab Mahmud Sianturi pada waktu itu.

Setelah tahanan 1 tahun, dibebaskan setelah mendapat jaminan Ende Pane, tokoh Muhammadiyah yang saksi ketika memeluk Islam. Ende Pane juga menawarkan kepadanya sekolah lagi di mana yang dia mahu, sama ada di Medan, Bukit Tinggi atau di tempat lain. Tawaran itu diterimanya. Dia memilih Perguruan Islam Menengah Atas Bukit Tinggi. Setelah tamat. dia meneruskan pelajaranya ke Fakuliti Hukum Universiti Muhammadiyah Bukit Tinggi.

Baru sampai tahun 3 di Unervisiti, tahun 1977 dia berhenti kerana bertemu jodoh dengan seorang gadis bernama Siti Syamsiyah Boru Tobing. Selepas itu baru 3 bulan menikmati indahnya dunia perkahwinan, kembali ditangkap polis. Seperti penangkapan pertama di Medan, di Bukit Tinggi ini pun ditangkap dengan tuduhan menghina agama lain & memecah belah masyarakat. Ia ditahan selama 2 tahun tanpa pengadilan. Setelah 2 tahun ditahan, barulah disidangkan & dia dibebaskan kerana tidak bersalah.

Di tahanan Bukit Tinggi inilah dia mengaku menghadapi cobaan yang sangat berat. Kalau di Medan dulu dia menghafal banyak ayat-ayat al-Quran & mempelajari buku-buku Islam.

Ketika di Bukit Tinggi dia tidak boleh melakukan apa-apa. Dia hampir gila. Mengapa? Ternyata, selama di Bukit Tinggi, dia disatukan dengan 13 orang gila yang senghaja dikumpulkan dari jalan-jalan di kota Bukit Tinggi. Jangankan menghafal al-Quran, untuk solatpun sering diganggu orang-orang gila yang menghuni kamar bersamanya.

“Beberapa kali tikar solat saya ditarik ketika saya sedang bersolat. Saya jatuh & terguling-guling. Saya sendiri hairan, mengapa orang-orang gila itu dimasukan ke dalam sel saya. Terus terang saya hampir jadi gila,” kenang ayah 5 orang anak ini.

Selama memeluk Islam, Mahmud Sianturi disingkirkan keluarganya. Warisan tidak diberikan. Dia tetap menjaga hubungan baik. Beberapa tahun setelah Islam, dia sempat ke rumahnya. Semua keluarganya membujuknya untuk kembali kepada agamanya. Bahkan ibunya menangis di hadapannya, berharap Mahmud Sianturi kembali memeluk agama asal mereka. Tetapi Mahmud Sianturi tidak goyah. Malah mengajak ibu & bapanya.

Pernah suatu malam dia bangun tengah malam & berdoa agar Allah SWT menurunkan hidayahnya kepada bapa & ibunya. Tetapi rupanya ibunya pun bangun pada malam itu & berdoa kepada Tuhannya agar anaknya mahu kembali semula kepada agamanya yang asal. Mahmud mangaku sedih ketika ibunya hampir meninggal, beliau mengajak ibunya memeluk Islam, ibunya tidak mahu.

“Waktu itu ibu bilang,” biar kamu saja yang memeluk Islam. Ibu biar di sini saja.” Terus terang saya sedih waktu itu,” kenangnya.

Dari sudut seluruh rangkaian perjalanan hidupnya sebagai muslim yang penuh pelbagai cubaan, Mahmud Sainturi semakin kental keimanannya. Semakin lama, keyakinannya terhadap Islam semakin dalam. Dia mengakui Islam telah memberikan kebahagian batin yang tidak ternilai harganya, yang tidak dia dapatkan pada keyakinan yang lama. Oleh itu, kini dia abadikan dirinya & seluruh hidupnya untuk dakwah Islam. Dakwah merupakan kewajipan baginya.

“Islam mampu memberikan kebahagian batin yang sesungguhnya, yang tidak mungkin ternilai harganya, Sejujurnya, agama saya yang lama tidak mungkin mampu memberikan kebahagian itu.

“Kalau saya mengejar kekayaan, agama lama saya, saya lebih mudah mengumpulkan harta. Tetapi saya memilih Islam kerana ianya mempu menunjukkan kebenaran & memberikan kebahagaian sejati bagi saya & bagi manusia seluruhnya,”ujar Mahmud Sianturi. H -petikan majalah Hidayah Jun 2001; Journey to Islam ; 14 2 2005]

Iklan

Tinggalkan Balasan, sopan, intelek, belajar lanjut

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s