DALIL ANJING TIDAK BOLEH DIMAKAN

Rabu, Agustus 10, 2011 | Diposkan oleh Mantan kiyai NU ; B1 & B2 Satu Dalam Warteg

Bapak admin menulis berita sbb:

Kawasan Cililitan, Cawang & UKI di jalan Letjen Soetoyo, Jakarta, merupakan kawasan yang cukup ramai. Sebagai salah satu pintu gerbang Jakarta di bagian selatan, banyak warga pendatang yang masuk Jakarta melalui kawasan ini. Hal itu juga ditandai dengan banyaknya agen bus antar kota antar propinsi yang menjual tiket ke berbagai tujuan, baik di Jawa maupun luar Jawa.

Kawasan tersebut juga merupakan arus pertemuan antara jalur Jawa Barat (Bogor, Sukabumi, Bandung) & Jawa Tengah-Jawa Timur melalui jalan tol Jagorawi & jalan tol Cikampek. Tak heran jika di tempat itu selalu ramai manusia yang lalu lalang, datang & pergi silih berganti serta bertukar kendaraan dari bus antar kota dengan metro mini atau mikrolet & sebaliknya.

Sebagai konsekuensi ramainya kawasan tersebut, para pedagang pun sibuk dengan dagangannya masing-masing, yang mengharap rizki dari orang-orang yang lalu lalang tersebut. Ada yang jualan berbagai makanan, minuman, buah-buahan, barang-barang kebutuhan sehari-hari hingga kaset & CD. Merekapun terlihat ramai pengunjung. Tetapi bagi Anda yang lewat & berjalan kaki di tempat tersebut harap hati-hati, karena selain pedagang, tukang ojek & calo, ada juga para pencopet yang siap merogoh kantung siapa saja yang lengah.

Apa yang ingin kami sampaikan bukan saja bahaya copet yang selalu mengintip & menunggu kita lengah, tetapi juga penjual makanan & minuman haram. Bukan rahasia lagi kalau di kawasan tersebut banyak warung & tempat makan yang menjual menu babi dengan berbagai variasinya. Ada yang secara terus terang menyebutkan menu babinya, ada pula yang masih malu-malu menyebutnya dengan berbagai kode.

Terdapat beberapa warung yang menuliskan menu babinya, seperti ‘sate babi’ & ‘babi panggang’ dengan tulisan yang jelas & mudah dibaca. Dengan penulisan tulisan tersebut tentu saja sangat memudahkan bagi para pengguna & konsumen yang memang mencari menu tersebut, disamping juga memudahkan konsumen muslim untuk menghindarinya dengan mudah pula.

Di samping itu ada pula beberapa warung yang menggunakan kode-kode dalam menunjukkan menu yang ditawarkannya. Sebut saja rumah makan Horas, Pardede, Tao Hutagaol & Betlehem, menuliskan menu-menu berkode B1 & B2 di depan warung mereka. Sebenarnya dari nama-nama rumah makan tersebut orang sudah bisa menduga apa sebenarnya menu yang dihidangkannya. Tidak ada salahnya ketika mereka menjual menu babi ataupun anjing yang menurut keyakinan mereka & konsumen khususnya tidak bermasalah.

Pertanyaannya adalah, mengapa harus digunakan kode-kode tersebut? Ketika sebuah warung menjual ayam goreng, maka dengan tulisan ‘ayam goreng’ secara besar-besar di depan warungnya, dengan mudah akan terbaca tanpa penafsiran lain oleh semua konsumennya. Demikian juga dengan sop kaki sapi, sate kambing, mie ayam & sebagainya. Mengapa untuk yang dua jenis ini harus menggunakan kode khusus?

Penggunaan kode ini tentu saja mengundang penafsiran & memerlukan pengetahuan khusus untuk menelaah & mengetahuinya. Kebanyakan orang memang sudah maklum & tahu bahwa B1 & B2 itu adalah babi & anjing. Tetapi dalam kenyataannya masih ada juga masyarakat yang tidak mengerti maksud di balik kode tersebut. Apalagi bagi konsumen yang baru tiba dari daerah, baik dari Jawa maupun luar Jawa yang kenyataannya cukup banyak terdapat di kawasan ini.

Di sebuah warung, masih di kawasan yang sama, Jurnal Halal juga menemukan adanya ‘Warteg’ yang menjual B1 & B2. Penggunaan istilah ‘Warteg’ ini berkonotasi pada warung makan yang dikelola oleh masyarakat yang berasal dari Tegal, sebuah kota di Jawa Tengah. Selama ini Warteg dikenal luas oleh masyarakat sebagai warung makan yang menjual menu-menu halal, atau setidaknya tidak ada unsur babi & minuman keras. Penggunaan istilah ‘Warteg’ dalam konteks sebagai warung yang menjual anjing & babi ini tentu saja sangat tidak menguntungkan bagi konsumen muslim. Mereka bisa saja beranggapan bahwa warung itu sama dengan warteg-warteg lain yang biasa dijumpai di Jakarta & di tempat-tempat lain.

Dari kenyataan-kenyataan tersebut, aturan main mengenai warung makan memang harus segera dibenahi, khususnya yang menyangkut penjualan menu-menu haram bagi umat Islam. Penggunaan istilah ‘warteg’ serta kode B1 & B2 perlu diluruskan oleh berbagai pihak yang berwenang, agar tidak menimbulkan kerancuan pada masyarakat awam.

Bagi konsumen muslim, hal ini menjadi pelajaran berharga agar kita lebih waspada dalam memilih menu masakan yang ditawarkan rumah makan. Ketika kita harus makan di luar, maka semua menu, baik yang halal maupun yang haram, siap mengintai kita. Meskipun di tempat yang kelihatannya tidak rawan. Kalau menjumpai istilah-istilah yang aneh atau daging yang mencurigakan, sebaiknya jangan segan untuk menanyakannya. [1]

Komentarku (Mahrus Ali): Kali ini saya ingin memberikan komentar kepada anjing karena masalah babi telah sering saya jelaskan dengan panjang lebar. Setahu saya, Rasulullah SAW & para sahabatnya tidak pernah makan anjing, begitu juga nabi – nabi yang terdahulu. Dan saya bila mau makan daging anjing, maka saya akan bertanya kepada diri saya sendiri, manakah dalilmu?

Ternyata saya tidak bisa menjawab. Kalau sudah begitu, saya tidak akan menyatakan sesuatu tanpa dalil. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ

مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Sesungguhnya berbuat bohong kepadaku tidak sebagaimana kebohongan kepada seseorang. Barang siapa berbuat kedustaan kepadaku dengan sengaja bertempatlah di tempat duduknya di neraka (masuk nerakalah) [2]

Al Quran juga ikut mendukungnya sebagaimana firman Allah:

وَلاَتَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan & hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Isra` 36).

Setahu saya, Rasulullah SAW menyatakan anjing nakal boleh dibunuh dimanapun sbb:

خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ الْحَيَّةُ وَالْغُرَابُ اْلأَبْقَعُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ وَالْحُدَيَّا *

Lima binatang fasik boleh dibunuh di tanah halal maupun haram: Ular,gagak hitam lekam,tikus,anjing gila (anjing yang suka menggigit ) & burung raja wali [3]

فِي رِوَايَةِ الْعَقْرَبِ بَدَلَ الْحَيَّةِ

Dalam suatu riawayat kala jengking sebagai ganti ular [4]

Anjing dibunuh, lalu dagingnya dibuang & tidak dimakan & tiada sahabat yang memakannya. Dalam hadis lain, Abu Juhaifah ra berkata:

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ وَآكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَنَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَكَسْبِ الْبَغِيِّ وَلَعَنَ الْمُصَوِّرِينَ

Nabi SAW melaknat wanita yang mentato, minta ditato, pemakan riba, yang memberi makan riba. Beliau melarang hasil penjualan anjing, bayaran wanita zina & melaknat orang – orang yang memfoto atau menggambar [5]

Anjing tidak boleh dijual belikan, berarti, tidak sama dengan sapi yang boleh dijual belikan & boleh juga disembelih untuk dimakan dagingnya. Bahkan anjing itu punya baksil yang berbahaya kepada manusia. Lihat di bab cacing pita anjing. Dari realita ini saja anjing tidak boleh dimakan oleh manusia.

Dan anjing termasuk binatang buas. Rasulullah SAW juga melarangnya sebagaimana hadis sbb:

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ وَعَنْ كُلِّ ذِي مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ

Rasulullah SAW melarang setiap binatang buas bertaring & setiap burung yang punya cakar [6]


[1] Halal guide

[2] Muttafaq alaih.

[3] HR Bukhori / Bad`ul kholq/3314. Muslim/salatul musafirin/ 728. Muslim/ Haji / 1198/ Nasa`I / Haji / 2882,2887,2888. Ahmad / Baqi musnad Ansor / 25150,25225. Tafsir qurthubi 245/1 Musnad mustakhraj ala sahihi muslim 286/3 Mu`jamus syuyukh 572/2 Musnad Thoyalisi 214/1 Ta`wil mukhtalafil hadis 137/1 Tamhid libni abdil bar 184/15.Syarah Nawawi ala sahihi muslimin 113/8.

[4] Syarah Nawawi ala sahihi muslim 113/8

[5] Bukhori 5347

[6] Muslim 1934

Artikel Terkait

 

Label: Makanan haram

4 komentar:

Frans Putary mengatakan…

Mau tanya Kyai,
1. Bacaan do’a pasca adzan itu yang shahih yang kayak apa? yang sunah mendo’a itu yang adzan saja apa yang mendengar juga sunah mendo’a?. Makasih.

11 Agustus 2011 01:02

Mantankyainu mengatakan…

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ
Allohumma robba haadzihid da`watit tammah wassholaatil qaa`imah aati Muhammadanil wasiilata wal fadhiilata wab`atshu maqoomaam mahmuudanil ladzii wa`adtah.
Ya Allah Tuhan seruan sempurna ini & salat yang didirikan Hendaklah Engkau memberikan wasilah (derajat tinggi) & keutamaan kepada Muhammad & bangkitkan dia di kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan.
untuk yang mendengar

11 Agustus 2011 21:27

jagona mengatakan…

Assalamualaikum war., wab.

Saya menebak bahwa pa Kyai tidak mempunyai KTP, karena pada KTP ada foto pemilik KTP itu, sedangkan Rasulullah melaknat orang yang memfoto, tentunya termasuk yang difoto ?
Mudah-mudahan tebakan saya salah

Wassalamualaikum

23 September 2011 18:43

Mantankyainu mengatakan…

setahu saya, foto untuk KTP itu diperkenankan karena keperluan yang sangat dibutuhkan untuk identitas. Jadi masih diperkenankan. Begitu juga untuk paspor bila ingin pergi ke luar Negri.

24 September 2011 00:29
Read more: http://mantankyainu.blogspot.com/2011/08/dalil-anjing-tidak-boleh-di-makan.html#ixzz1nLX598Sj

Iklan

Tinggalkan Balasan, sopan, intelek, belajar lanjut

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s