IMAM BUKHARI: PERAWI HADIS YANG MASHUR #2/2

[“Saya tidak memuat sebuah hadits pun dalam kitab ini kecuali hadits-hadits shahih”]

♦♦♦♦♦♦♦

Bolo Haus, BukharaBahkan, banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Beliau berkata “Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan & meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan”.

Banyak para ulama atau perawi yang ditemui, sehingga Bukhari banyak mencatat jati diri & sikap mereka secara teliti & akurat. Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadits, mencek keakuratan sebuah hadits, ia berkali-kali mendatangi ulama atau perawi. Meskipun berada di kota-kota, atau negeri yang jauh seperti Baghdad, Kufah, Mesir, Syam, Hijaz. Seperti yang dikatakan beliau,

“Saya telah mengunjungi Syam, Mesir & Jazirah masing-masing 2 kali, ke Basrah 4 kali menetap di Hijaz selama 6 tahun & tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah & Baghdad, untuk menemui ulama-ulama ahli hadits.”

Di sela-sela kesibukannya sebagai sebagai ulama, pakar hadits, ia juga dikenal sebagai ulama & ahli fiqih. Bahkan, tidak lupa dengan kegiatan kegiatan olahraga & rekreatif seperti belajar memanah sampai mahir. Bahkan, menurut suatu riwayat, Imam Bukhari tidak pernah luput memanah kecuali 2 kali.

Metode Imam Bukhari Menulis Kitab Hadits

Sebagai intelektual muslim yang berdisiplin tinggi, Imam Bukhari dikenal sebagai pengarang kitab yang produktif. Karya-karyanya tidak hanya dalam disiplin ilmu hadits, tapi juga ilmu-ilmu lain, seperti tafsir, fikih, & tarikh.

Fatwa-fatwanya selalu menjadi pegangan umat, sehingga ia menduduki derajat sebagai mujtahid mustaqil (ulama yang ijtihadnya independen). Tidak terikat mazhab tertentu. Sehingga, mempunyai otoritas tersendiri dalam berpendapat dalam hal hukum.

Pendapat-pendapatnya, terkadang sejalan dengan Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi, pendiri mazhab Hanafi). Tetapi, terkadang bisa berbeda dengan beliau. Sebagai pemikir bebas yang menguasai ribuan hadits shahih, suatu saat beliau bisa sejalan dengan Ibnu Abbas, Atha ataupun Mujahid & bisa juga berbeda pendapat dengan mereka.

Di antara puluhan kitabnya, yang paling masyhur ialah kumpulan hadits shahih yang berjudul Al-Jami’ as-Shahih. Belakangan lebih populer dengan sebutan Shahih Bukhari. Ada kisah unik tentang penyusunan kitab ini. Suatu malam, Imam Bukhari bermimpi bertemu Nabi Muhammad saw..

Seolah-olah, Nabi Muhammad saw. berdiri di hadapannya. Imam Bukhari lalu menanyakan makna mimpi itu kepada ahli mimpi. Jawabannya adalah, Imam Bukhari akan menghancurkan & mengikis habis kebohongan yang disertakan orang dalam sejumlah hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain yang mendorong beliau menulis kitab “Al-Jami ‘as-Shahih”.

Dalam menyusun kitab tersebut, Imam Bukhari sangat berhati-hati. Menurut Al-Firbari, salah seorang muridnya, ia mendengar Imam Bukhari berkata.

Ulugbeg Madrasah, Bukhara“Saya susun kitab Al-Jami’ as-Shahih ini di Masjidil Haram, Mekkah & saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah, & sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar shahih”. Di Masjidil Haram-lah ia menyusun dasar pemikiran & bab-babnya secara sistematis.

Setelah itu, ia menulis mukaddimah & pokok pokok bahasannya di Rawdah Al-Jannah. Sebuah tempat antara makam Rasulullah & mimbar di Masjid Nabawi di Madinah. Barulah setelah itu, ia mengumpulkan sejumlah hadits & menempatkannya dalam bab-bab yang sesuai. Proses penyusunan kitab ini dilakukan di 2 kota suci tersebut dengan cermat & tekun selama 16 tahun. Ia menggunakan kaidah penelitian secara ilmiah & cukup modern, sehingga hadits haditsnya dapat dipertanggung-jawabkan.

Dengan bersungguh-sungguh, ia meneliti & menyelidiki kredibilitas para perawi sehingga benar-benar memperoleh kepastian akan keshahihan hadits yang diriwayatkan. Ia juga selalu membandingkan hadits satu dengan yang lainnya, memilih & menyaring, mana yang menurut pertimbangannya secara nalar paling shahih.

Dengan demikian, kitab hadits susunan Imam Bukhari benar-benar menjadi batu uji & penyaring bagi sejumlah hadits lainnya. “Saya tidak memuat sebuah hadits pun dalam kitab ini kecuali hadits-hadits shahih”, katanya suatu saat.

Di belakang hari, para ulama hadits menyatakan, dalam menyusun kitab Al-Jami’ as-Shahih, Imam Bukhari selalu berpegang teguh pada tingkat keshahihan paling tinggi & tidak akan turun dari tingkat tersebut. Kecuali, terhadap beberapa hadits yang bukan merupakan materi pokok sebuah bab.

Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits. Selain itu, ada hadits-hadits yang dimuat secara berulang, & ada 4000 hadits yang dimuat secara utuh, tanpa pengulangan.

Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin An Nawawi dalam kitab At-Taqrib. Dalam hal itu, Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kata pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah atau penjelasan atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang dimuat dalam Shahih Bukhari (setelah dikurangi hadits yang dimuat secara berulang) sebanyak 2.602 buah.

Sedangkan hadits yang mu’allaq (ada kaitan 1 dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan), ada 159 buah. Adapun jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah. Perhitungan berbeda di antara para ahli hadits tersebut dalam mengomentari kitab Shahih Bukhari, semata-mata karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.

Terjadinya Fitnah

Muhammad bin Yahya Az-Zihli berpesan kepada para penduduk, agar menghadiri & mengikuti pengajian yang diberikannya. Ia berkata: “Pergilah kalian kepada orang alim & saleh itu, ikuti & dengarkan pengajiannya.” Namun tak lama kemudian ia mendapat fitnah dari orang-orang yang dengki. Mereka menuduh sang Imam sebagai orang yang berpendapat bahwa “Al-Qur’an adalah makhluk”.

Hal inilah yang menimbulkan kebencian & kemarahan gurunya, Az-Zihli kepadanya. Kata Az-Zihli :

“Barang siapa berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia adalah ahli bid’ah. Ia tidak boleh diajak bicara & majelisnya tidak boleh didatangi. Dan barang siapa masih mengunjungi majelisnya, curigailah dia.” Setelah adanya ultimatum tersebut, orang-orang mulai menjauhinya.

Sebenarnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Diceritakan, seseorang berdiri & mengajukan pertanyaan kepadanya: “Bagaimana pendapat Anda tentang lafadz-lafadz Al-Qur’an, makhluk ataukah bukan?” Bukhari berpaling dari orang itu & tidak mau menjawab, kendati pertanyaan itu diajukan sampai 3 kali.

Tetapi, orang itu terus mendesak. Ia pun menjawab: “Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk & fitnah merupakan bid’ah.” Pendapat yang dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama ahli tahqiq (pengambil kebijakan) & ulama salaf.

Tetapi, dengki & iri adalah buta & tuli. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Bukhari pernah berkata :

Masjid Kalyan, Bukhara, Uzbezkiztan2“Iman adalah perkataan & perbuatan, bisa bertambah & bisa berkurang. Al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW, yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman, & Ali. Dengan berpegang pada keimanan inilah aku hidup, aku mati & dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah.”

Di lain kesempatan, ia berkata: “Barang siapa menuduhku berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur’an adalah makhluk, ia adalah pendusta.”

Wafatnya Imam Bukhari

Suatu ketika, penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari. Isinya, meminta dirinya agar menetap di negeri itu (Samarkand). Ia pun pergi memenuhi permohonan mereka.

Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah desa kecil terletak 2 farsakh (sekitar 10 Km) sebelum Samarkand, ia singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan Akhirnya meninggal pada 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri. Dalam usia 62 tahun kurang 13 hari.

Beliau dimakamkan selepas Shalat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa, jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani 3 helai kain. Tanpa baju dalam & tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik masyarakat setempat. Beliau meninggal tanpa meninggalkan seorang anakpun. [disalin dari http://opi.110mb.com/haditsweb/sejarah/sejarah_singkat_imam_bukhari.htmhttp://id.wikipedia.org/wiki/Cara_Imam_Bukhari_dalam_menulis_kitab_hadits]

Iklan

Tinggalkan Balasan, sopan, intelek, belajar lanjut

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s