Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @3/6

BID’AH YANG DIMAKSUDKAN ADALAH BERSIKAP BERLEBIH-LEBIHAN DALAM BERIBADAH

Dalam definisi asy-Syathibi juga terdapat redaksi, “yang dimaksudkan dengan melakukan hal itu (bid’ah) adalah sebagai cara berlebillan dalam beribadah kepada Allah SWT”.

Maksudnya, orang yang membuat suatu praktek bid’ah, biasanya melakukan hal itu dengan tujuan untuk berlebih-lebihan dalam bertaqarrub kepada Allah SWT. Karena, mereka merasa tidak cukup dengan praktek ibadah yang telah diajarkan oleh syariat sehingga mereka berusaha menambah suatu praktek baru. Dengan tindakan itu, seakan-akan mereka ingin mengoreksi syariat & menutupi kekurangannya sehingga akhirnya mereka menciptakan suatu praktek ibadah baru, hasil rekayasa pikiran mereka.

Apakah niat yang baik itu dapat menjustifikasikan tindakan mereka? Tentu saja tidak. Niat seperti itu tidak dapat memberikan justifikasi suatu perbuatan bid’ah. Kami telah katakan sebelumnya bahwa dalam masalah beribadah, kita harus melengkapi 2 hal: niat (hanya semata untuk Allah SWT) & mutaba’ah yaitu ‘beribadah dengan mengikuti cara yang diajarkan oleh Al-Qur’an & Rasulullah saw.’.

Ukuran & karakteristik ibadah yang benar amat jelas. Yaitu, harus mengikuti tuntunan Rasulullah saw., “Siapa yang mengerjakan suatu amal ibadah yang tidak diatur oleh sunnah kami maka amalnya itu tertolak.”

Ini adalah bid’ah dalam agama. Bid’ah dengan pengertian seperti ini adalah dhalaalah ‘sesat’, seperti disinyalir oleh hadits riwayat Irbaadh bin Saariah, “Karena setiap bid’ah adalah sesat.”

PEMBAGIAN MACAM BID’AH MENURUT ULAMA & PENDAPAT YANG PALING TEPAT

Ada ulama yang membagi bid’ah menjadi 2 macam. Yaitu bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) & bid’ah sayyi’ah (bid’ah yang buruk’). [28] Ada juga ulama yang membagi bid’ah menjadi 5 macam, seperti halnya 5 macam hukum syariat. Yaitu bid’ah wajibah (bid’ah yang wajib dilakukan), bid’ah mustahabbah (bid’ah yang dianjurkan untuk dilakukan), bid’ah makruhah (bid’ah yang makruh dilakukan), bid’ah muharramah (bid’ah yang haram dilakukan), & bid’ah mubaahah (bid’ah yang boleh dilakukan). [29]

Ungkapan yang paling tepat dalam masalah ini adalah bahwa pendapat tadi pada akhirnya bertemu pada muara yang sama & sampai pada kesimpulan yang sama pula. Karena, mereka — misalnya — memasukkan masalah pencatatan Al-Qur’an & pengkompilasiannya dalam satu mushaf, juga masalah pengkodifikasian ilmu nahwu, ilmu ushul fiqih, & pengkodifikasian ilmu-ilmu keislaman yang lain, dalam kategori bid’ah yang wajib & sebagai bagian dari fardhu kifayah (kewajiban kolektif).

Ulama yang lain menggugat penamaan perbuatan tadi sebagai bagian dari bid’ah. Menurut mereka, pengklasifikasian bid’ah semacam itu adalah pengklasifikasian bid’ah berdasarkan pengertian lughawi ‘etimologis’. Sedangkan pengertian kata bid’ah yang kami gunakan adalah pengertian secara terminologis syar’i. Sedangkan, hal-hal tadi (seperti pencatatan Al-Qur’an & pengkompilasiannya) tidak kami masukkan dalam kategori bid’ah. Adalah suatu inisiatif yang tidak tetap memasukkan hal-hal semacam tadi dalam kelompok bid’ah.

Yang terbaik adalah kita berpedoman pada pengertian bid’ah yang dipergunakan oleh hadits syarif. Karena, dalam hadits syarif diungkapkan redaksi yang demikian jelas ini, “Karena setiap bid’ah adalah sesat,” dengan pengertian yang general (umum).

Jika dalam hadits itu diungkapkan, “Karena setiap bid’ah adalah sesat,” maka tidak tepat kiranya jika kita kemudian berkata bahwa di antara bid’ah ada yang baik & ada yang buruk, atau ada bid’ah wajib & ada bid’ah yang dianjurkan, & sebagainya. Kita tidak patut melakukan pembagian bid’ah seperti ini.

Yang tepat adalah jika kita mengatakan seperti yang diungkapkan oleh hadits, “Karena setiap bid’ah adalah sesat.” Dan, kata bid’ah yang kami pergunakan itu adalah kata bid’ah dengan definisi yang diucapkan oleh Imam asy-Syathibi, “Bid’ah adalah suatu cara beragama yang dibuat-buat,” yang tidak mempunyai dasar & landasan, baik dari Al-Qur’an, sunnah Nabi saw., ijma’, qiyas, maupun maslahat mursalah, & tidak juga dari salah satu dalil yang dipakai oleh para fuqaha.

MENGAPA ISLAM BERSIKAP KERAS DALAM MASALAH BID’AH?

Mengapa Islam bersikap keras dalam masalah bid’ah, menilainya sebagai kesesatan, & pelakunya diancam akan dimasukkan ke neraka, serta Nabi saw. memberikan peringatan yang amat keras dalam masalah ini? Berikut ini adalah alasan-alasannya.

1. PEMBUAT DAN PELAKU BID’AH MENGANGKAT DIRINYA SEBAGAI PEMBUAT SYARIAT BARU & SEKUTU BAGI ALLAH SWT

Islam memberikan peringatan keras terhadap masalah bid’ah ini karena (seperti telah kami singgung sebelumnya) dalam kasus seperti ini, si pembuat bid’ah bertindak seakan-akan ingin mengoreksi Rabbnya. Dan dia memberikan kesan kepada kita atau kepada dirinya bahwa, dia mengetahui apa yang tidak diketahui oleh Allah SWT.

Seakan-akan dia berkata, “Tuhanku, apa yang Engkau telah syariatkan kepada kami itu tidak cukup. Oleh karena itu, kami menambah praktek ibadah baru atas apa yang telah Engkau syariatkan itu.” Dengan demikian, ia telah menetapkan dirinya sebagai pembuat syariat & memberikan kepada dirinya hak untuk menciptakan syariat baru. Padahal, hak membuat syariat adalah mi1ik Allah SWT semata. Oleh karena itu, Allah berfirman,

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?…. ” (asy-Syuura: 21)

Tindakan membuat syariat baru yang tidak dizinkan oleh Allah SWT adalah tindakan yang amat berbahaya. Karena, dalam kasus seperti itu, si pelakunya berarti telah mengangkat dirinya sebagai sekutu bagi Allah SWT & memberikan hak kepada dirinya untuk menciptakan syariat baru & berkreasi dalam agama, serta membuat tambahan dalam agama Allah SWT. Hal ini dapat menimbulkan bahaya yang amat besar & dapat menjerumuskan seseorang menjadi musyrik kepada Allah SWT. Tindakan seperti inilah yang telah merusak agama-agama langit sebelum Islam.

Apa yang telah terjadi pada agama-agama langit sebelum Islam itu? Yaitu, terjadi bid’ah secara besar-besaran & para pemeluk agama-agama itu memberikan kepada diri mereka hak untuk menambahkan hal-hal baru dalam agama mereka, yang secara khusus dipegang oleh para pendeta & orang-orang alim mereka. Sehingga, agama yang mereka anut bentuknya berubah sama sekali dari agama aslinya. Inilah yang dikecam oleh Islam & diabadikan oleh Al-Qur’an dalam firman Allah SWT,

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya & rahib-rahib mereka sehagai tuhan selain Allah, & (juga mereka mempertuhankan) Almasih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (at-Taubah: 31)

Al-Qur’an memandang mereka sebagai orang-orang musyrik. Saat Adi bin Hatim ath-Thaai (yang sebelumnya memeluk Kristen pada masa jahiliah) bertemu Rasulullah saw., ia membaca ayat,

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya & rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.”

Dan, iapun (Adi bin Hatim ath-Thaai) berkata, “(Pada kenyataannya) mereka tidak menyembah para pendeta & rahib itu.”

Rasulullah saw. menjawab, “Benar begitu, (namun) mereka (para pendeta & rahib itu) telah mengharamkan sesuatu yang halal bagi umatnya & menghalalkan apa yang haram bagi mereka, & mereka (umatnya) pun mengikuti ketetapan para pendeta & rahib itu dengan patuh. Itulah bentuk ibadah penyembahan mereka kepada para pendeta & rahib itu.” [30]

Adi bin Hatim memahami ibadah & penyembahan hanya berbentuk ritus-ritus saja: shalat, ruku, sujud, & semacamnya. Kemudian, Nabi saw. memberikan penjelasan kepadanya bahwa bentuk penyembahan mereka itu tidak semata-mata seperti itu; ibadah & penyembahan mempunyai makna yang lebih luas. Taat & tunduk secara mutlak terhadap apa yang mereka (para pendeta & para rahib) lakukan, apa yang mereka halalkan, apa yang mereka haramkan, apa yang mereka buat-buat, dalam perkara-perkara duniawi adalah bentuk penyembahan kepada mereka.

Karena, status rubbubiyah ‘ketuhanan’-lah yang memiliki hak untuk menetapkan syariat, menghalalkan, & mengharamkan. Dan, status itu pula yang memberikan-Nya hak untuk menetapkan bentuk praktek ibadah manusia kepada-Nya, sesuai yang Dia kehendaki. Tidak ada seorang pun yang mempunyai hak untuk beribadah kepada Allah SWT dengan cara yang dia kehendaki sendiri.

Dengan demikian, orang yang membuat bid’ah meletakkan dirinya seakan-akan pihak yang berwenang menetapkan hukum & menjadi sekutu bagi Allah SWT & dia mengoreksi apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

2. PEMBUAT BID’AH MEMANDANG AGAMA TIDAK LENGKAP & BERTUJUAN MELENGKAPINYA

Dari segi lain, orang yang mengerjakan bid’ah seakan-akan menganggap agama tidak lengkap, kemudian ia ingin menyempurnakan kekurangan & ketidaksempurnaannya. Padahal, Allah SWT telah menyempurnakan agama secara lengkap, sebagai bentuk kesempurnaan nikmat yang diberikan-Nya kepada kita. Dia berfirman,

” ..Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu & telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, & telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu .,” (al-Maa’idah: 3)

Oleh karena itu, Ibnu Majisyun meriwayatkan dari Imam Malik (Imam Darul Hijrah) bahwa dia berkata,

“Siapa yang telah membuat praktek bid’ah dalam agama Islam & ia melihatnya sebagai suatu tindakan yang baik, berarti ia telah menuduh Nabi Muhammad saw. telah mengkhianati risalah. Karena, Allah SWT berfirman, ‘Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.’ Jika saat itu agama Islam belum lengkap niscaya saat ini tidak ada agama Islam itu.” [31]

Membuat bid’ah dalam agama Islam secara tidak langsung berarti telah menuduh Nabi saw. berkhianat & tidak menyampaikan risalah agama secara lengkap. Allah SWT berfirman,

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan, jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya “ (al-Maa’idah: 67)

Agama Islam telah sempurna & tidak membutuhkan tambahan lagi. Karena, sesuatu yang sudah sempurna tidak menerima adanya penambahan sama sekali. Hanya sesuatu yang tidak sempurnalah yang dapat menerima penambahan & penyempurnaan baginya.

Oleh karena itu, para sahabat & para imam setelah mereka, amat memerangi praktek bid’ah karena hal itu berarti menuduh agama Islam tidak lengkap, & menuduh Rasulullah saw. telah berbuat khianat.

3. PRAKTEK BID’AH MEMPERSULIT AGAMA & MENGHILANGKAN SIFAT KEMUDAHANNYA

Agama yang disyariatkan oleh Allah SWT pada dasarnya bersifat mudah & Allah SWT juga mengutus nabi-Nya dengan hanifiah samhah ‘agama yang orisinal & mudah dijalankan’, hanif ‘orisinal’ dalam akidah, & samhah ‘mudah dijalankan dalam pemberian beban hukum & praktek ibadah’. Firman Allah:

“…Allah menghendaki kemudahan bagimu & tidak menghendaki kesukaran bagimu….” (al-Baqarah:185).

Juga dalam ayat lainnya, “,…& Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan,…” (al-Hajj: 78).

Juga dalam hadits Nabi SAW, “Kalian diutus sebagai orang-orang yang memberikan kemudahan, bukan sebagai orang-orang yang membuat kesulitan.” [32]

Agama Islam datang dengan sifat mudah dilaksanakan, kemudian orang-orang yang membuat praktek bid’ah mengubah sifat mudah Islam itu menjadi susah & berat. Mereka membebani manusia & menyulitkan mereka dengan berbagai macam praktek baru, serta menambahkan hal-hal baru dalam praktek keagamaan yang membuat manusia menjadi terbelenggu oleh beban berat.

Padahal, Nabi saw. datang untuk membebaskan manusia dari belenggu & beban yang berat itu yang dialami oleh umat sebelumnya. Seperti diterangkan tentang sifat Nabi saw. dalam kitab-kitab suci sebelumnya, Taurat & Injil,

“…& menghalalkan bagi mereka segala yang baik & mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, & membuang dari mereka beban-beban & belenggu-belenggu yang ada pada mereka”. (al-A’raaf:157)

Dan, dalam doa-doa Al-Qur’an yang terdapat dalam penghujung surah al-Baqarah tertulis,

“…Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami,…” (al-Baqarah: 286)

Para pembuat bid’ah itu berkeinginan mengembalikan beban-beban agama-agama langit sebelumnya ke dalam Islam & menambahkan taklif ‘beban hukum’ yang memberatkan manusia serta menyulitkan mereka. Padahal, seungguhnya beban-beban agama Islam ini bersifat sederhana & mudah dijalankan. Misalnya, Allah SWT berfirman,

“Sesungguhnya, Allah & malaikat-malaikat Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi & ucapkanlah salam penghormatan kepadanya,” (al-Ahzab: 56)

Dan, redaksi shalawat yang paling afdhal adalah,

“Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad & keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah sampaikan shalawat-Mu kepada Nabi Ibrahim & keluarga Nabi Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji & Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad & keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah berikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim & keluarga Nabi Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji & Maha Mulia.” [33]

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membaca shalawat dengan redaksi tadi? Mungkin hanya seperempat atau setengah menit! Namun, kemudian banyak orang yang mengarang kitab tentang redaksi-redaksi shalawat kepada Nabi saw. & menciptakan beragam redaksi shalawat baru yang tidak diperintahkan oleh Allah SWT.

Saya sering mendapati orang awam yang membaca redaksi shalawat yang beragam itu & ternyata ia tidak memahami sama sekali apa yang ia baca itu. Demikian juga halnya dengan redaksi-redaksi doa, banyak orang yang mengarang wirid & hizb yang beragam. Saat masih kecil, setiap kali saya berangkat ke masjid sebelum subuh, saya mendapati orang-orang awam menghafal & membaca doa yang dikenal dengan “wirid al-Bakri”, yaitu sebuah redaksi doa yang disusun berdasarkan abjad bahasa Arab. Redaksi doa yang pertama dimulai dengan huruf hamzah, kedua dengan huruf ba, ketiga dengan huruf tsa, & seterusnya.

Misalnya, redaksi doa yang dimulai dengan huruf ghain adalah, “Wahai Tuhanku, kekayaan Mu adalah kekayaan yang mutlak, sementara kekayaan kami adalah kekayaan yang muqayyad ‘terbatas'”. Jika Anda bertanya kepada salah seorang dari mereka yang membaca doa itu, “Apa makna mutlak & muqayyad?” niscaya ia tidak tahu sama sekali.

Wahai saudaraku seiman, apakah ada redaksi doa yang lebih afdhal, lebih indah, & lebih mudah dibandingkan redaksi doa Al-Qur’an & Sunnah? Redaksi doa dari Al-Qur’an misalnya adalah,

“…Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia & kebaikan di akhirat & peliharalah kami dari siksa neraka.” (al-Baqarah: 201)

[14010055;Sunnah & Bid’ah, Dr. Yusuf Qardhawi, GIP; HaditsWeb]

=========

Baca lainnya:

  1. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @1/6
  2. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @2/6
  3. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @3/6
  4. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @4/6
  5. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @5/6
  6. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @6/6
Iklan

Tinggalkan Balasan, sopan, intelek, belajar lanjut

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s