Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

albani-20

Hadits, merupakan salah 1 rujukan sumber hukum Islam. Di samping, kitab suci Al-Qur’an yang paling tinggi. Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW itulah, terkandung jawaban & solusi masalah yang dihadapi umat di berbagai bidang kehidupan. Bicara ilmu hadits, umat Islam tidak akan melupakan jasa Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Atau, yang lebih dikenal dengan Syeikh Al-Albani. Ia salah 1 tokoh pembaharu Islam abad ini.

Karya & jasa-jasanya cukup banyak & sangat membantu umat Islam. Terutama, dalam menghidupkan kembali ilmu hadits. Ia berjasa memurnikan ajaran Islam dari hadits-hadits lemah & palsu, serta meneliti derajat hadits.

Al-Albani mempunyai nama lengkap Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh al-Albani. Dilahirkan pada 1333 H di kota Ashqadar, ibu kota Albania masa lampau. Ia dibesarkan di tengah keluarga yang tak berpunya secara materi. Namun, sangat kaya ilmu. Ayah al-Albani bernama Al Haj Nuh adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari’at di ibukota negara dinasti Utsmaniyah (kini Istambul).

Ketika Raja Ahmad Zagha naik tahta di Albania & mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler. Syeikh Nuh, amat mengkhawatirkan dirinya & keluarganya. Akhirnya ia memutuskan berhijrah ke Syam, menyelamatkan agamanya & takut fitnah.

Dari sana, ia sekeluarga bertolak ke Damaskus. Setiba di Damaskus, Syeikh al-Albani kecil mulai mempelajari bahasa Arab. Al-Albani kecil masuk sekolah madrasah yang dikelola oleh Jum’iyah al-Is’af al-Khairiyah. Ia terus belajar di sekolah tersebut hingga kelas terakhir & lulus di tingkat Ibtida’iyah.

Selanjutnya, meneruskan belajarnya langsung kepada para syeikh. Ia mempelajari Al-Qur’an dari ayahnya sampai selesai. Disamping juga, mempelajari sebagian fikih madzab Hanafi.

Al-Albani, juga mempelajari keterampilan memperbaiki jam dari ayahnya sampai mahir. Keterampilan ini, kemudian menjadi salah 1 mata pencahariannya. Pada umur 20, Al-Albani mulai mengkonsentrasikan diri pada ilmu hadits. Ketertarikannya itu berawal dari pembahasan-pembahasan yang ada dalam majalah al-Manar. Sebuah majalah yang diterbitkan oleh Syeikh Muhammad Rasyid Ridha. Tulisan-tulisan sang Syeikh, sangat memukau hatinya.

xMadinah

 

 

Kegiatan pertama di bidang ini ialah, menyalin sebuah kitab berjudul Al-Mughni ‘an Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min al-Akhbar, karya al-Iraqi. Berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang terdapat pada Ihya’ Ulumuddin-nya Al-Ghazali. Awalnya, kegiatan Al-Albani dalam bidang hadits ini, ditentang ayahnya. Ia mengomentarinya begini, ‘‘Sesungguhnya, ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit (bangkrut).”

Namun, Syeikh al-Albani justru semakin cinta dunia hadits. Pada perkembangan berikutnya, Al-Albani tidak memiliki cukup uang untuk membeli kitab-kitab. Karenanya, beliau memanfaatkan Perpustakaan adh-Dhahiriyah di Damaskus. Di samping juga meminjam buku-buku dari beberapa perpustakaan khusus.

Begitulah, hadits menjadi kesibukan rutinnya sampai-sampai ia menutup kios reparasi jamnya. Al-Albani lebih betah berlama-lama dalam perpustakaan adh-Dhahiriyah, sehingga setiap harinya mencapai 12 jam. Tidak pernah istirahat menelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu shalat tiba.

Makannya, seringkali hanya sedikit yang dibawanya ke perpustakaan. Akhirnya, kepala kantor perpustakaan memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuknya. Bahkan kemudian diberi wewenang membawa kunci perpustakaan. Al-Albani makin leluasa mempelajari banyak sumber.

Syeikh Al-Albani pernah 2 kali mendekam dalam penjara. Kali pertama selama 1 bulan & kali kedua selama 6 bulan. Itu tidak lain karena, gigihnya beliau berdakwah kepada sunnah & memerangi bid’ah. Sehingga, orang-orang yang dengki kepadanya menebarkan fitnah.

Pengalaman mengajarnya dilakukan ketika menjadi pengajar di Jami’ah Islamiyah (Universitas Islam Madinah) selama 3 tahun. Dari 1381-1383 H. Ia mengajar hadits & ilmu-ilmu hadits. Setelah itu ia pindah ke Yordania. Pada 1388 H, Departemen Pendidikan meminta kepada Syeikh Al-Albani, menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di Kerajaan Yordania.

Tetapi situasi & kondisi saat itu tidak memungkinkan beliau memenuhi permintaan itu. Pada 1395-1398 H ia kembali ke Madinah, bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam’iyah Islamiyah. Di negeri itu pula, Al-Albani mendapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Saudi Arabia berupa King Faisal Fundation 14 Dzulkaidah 1419 H.

Sebelum berpulang, Syeikh Al-Albani berwasiat agar perpustakaan pribadinya, baik berupa buku-buku yang sudah dicetak, buku-buku hasil foto kopi, manuskrip-manuskrip (yang ditulis olehnya ataupun orang lain) seluruhnya diserahkan kepada pihak Perpustakaan Jami’ah. Ia wafat pada hari Jum’at malam Sabtu 21 Jumada Tsaniyah 1420 H. Bertepatan dengan 1 Oktober 1999 di Yordania.

Karya-karya beliau amat banyak. Ada yang sudah dicetak, ada yang masih berupa manuskrip & ada yang mafqud (hilang). Jumlahnya sekitar 218 judul. Karya yang terkenal antara lain :

1. Dabuz-Zifaf fi As-Sunnah al-Muthahharah
2. Al-Ajwibah an-Nafi’ah ‘ala as’ilah masjid al-Jami’ah
3. Silisilah al-Ahadits ash Shahihah
4. Silisilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah
5. At-Tawasul wa anwa’uhu
6. Ahkam Al-Jana’iz wabida’uha.

Di samping itu, beliau juga memiliki buku kumpulan ceramah, bantahan terhadap berbagai pemikiran sesat, & buku berisi jawaban-jawaban tentang pelbagai masalah yang bermanfaat. [14010156; http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=187%5D

Iklan

Tinggalkan Balasan, sopan, intelek, belajar lanjut

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s