Abdullah bin Amr bin Ash ra. #3/3

00_AbdulahBinAsh2Amr bin Ash hanya diam. Justru Abdullah berkata dengan tegas tanpa ketakutan sedikitpun,

“Aku tidak gila, tetapi aku telah mendengar Nabi SAW bersabda kepada Ammar, bahwa ia akan dibunuh oleh kaum yang durhaka atau aniaya…!”

“Kalau begitu, kenapa engkau ikut bersama kami?” tanya Muawiyah.
Tidak, “ kata Abdullah bin Amr,

“Aku hanya mengikuti wasiat Nabi SAW untuk taat kepada ayahku, & aku telah menaatinya dengan pergi kesini, tetapi aku tidak pernah ikut berperang bersamamu…!!”

Di tengah pembicaraan, pengawal Muawiyah mengabarkan kalau pembunuh Ammar ingin menghadap masuk. Abdullah bin Amr langsung berkata,

“Suruhlah dia masuk, & sampaikan kabar gembira kepadanya, dia akan menjadi umpan api neraka…!”

Muawiyah menjadi murka, mendengar perkataannya tersebut. Abdullah bin Amr tetap bertahan dengan perkataannya. Pembunuh Ammar bin Yasir, adalah kaum yang durhaka & berperang di jalan yang salah. Begitu Nabi SAW mengabarkan bertahun-tahun sebelumnya, & ia meyakini kebenarannya. Ia berpaling kepada ayahnya & berkata,

“Kalau tidaklah Rasulullah menyuruh saya menaati ayah, saya tidak akan pernah menyertai perjalanan ayah ke sini, & kini saya telah memenuhi wasiat beliau…”

Setelah itu, Abdullah bin Amr kembali ke Madinah & mengurung diri di mushalla rumahnya. Ia tidak habis-habisnya menyesali keterlibatannya di perang Shiffin & berada di pihak Muawiyah. Ia selalu menangis & mengeluh,

“Wahai, apa perlunya aku ke Shiffin…apa perlunya aku memerangi kaum muslimin…!”

Suatu hari, ia duduk di masjid bersama beberapa orang sahabat. Lewatlah Husein bin Ali. Setelah menyampaikan salam, ia berlalu masuk ke masjid tanpa memperdulikan kumpulan sahabat. Abdullah bin Amr berkata,

“Tahukah kalian penduduk bumi yang paling dicintai penduduk langit? Dialah Husein bin Ali yang baru saja berlalu di hadapan kita. Sejak perang Shiffin, ia tidak mau berbicara denganku…Sungguh, ridhanya kepadaku lebih aku sukai daripada barang berharga apapun juga…!”

Ia meminta tolong kepada sahabat Abu Sa’id al Khudri untuk bisa bertemu Husein, & mereka diijinkan berkunjung ke rumah cucu kesayangan Rasulullah SAW itu. Terjadilah berbagai macam pembicaraan, sampai akhirnya Husein bertanya,

“Apa yang membawamu ikut berperang di pihak Muawiyah?”

Abdullah bin Amr berkata,

“Ayahku pernah mengadukan aku kepada Rasulullah karena berpuasa setiap hari, shalat malam sepanjang malam & mengkhatamkan al Qur’an setiap hari, maka Nabi SAW berwasiat kepadaku, ‘Hai Abdullah puasalah & berbuka, shalatlah malam & tidurlah, bacalah Qur’an & berhentilah, & taatilah ayahmu…’

Saat perang Shiffin terjadi, ayahku mendatangiku & memaksaku mengikutinya dengan membawa wasiat Nabi SAW tersebut…tetapi demi Allah, aku tidak pernah menghunus pedang, melemparkan tombak atau melepaskan anak panah pada perang tersebut….”

Abdullah bin Amr juga menjelaskan, apa yang dilakukannya terhadap Muawiyah setelah terbunuhnya Ammar bin Yasir, & sikapnya meninggalkan pertempuran tersebut. Husein akhirnya ridha kepadanya, setelah semua penjelasannya tersebut. Abdullah bin Amr menangis penuh haru.

Pada masa pemerintahan Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Amr meninggal pada usia 72 di mushalla rumahnya. Ia baru selesai shalat & sedang bermunajat kepada Allah. Sungguh saat akhir yang amat indah (khusnul khotimah) yang amat dirindukan semua kaum muslimin.

***

Baca kelanjutan kisahnya di:

  1. Abdullah bin Amr bin Ash ra. #1/3
  2. Abdullah bin Amr bin Ash ra. #2/3
Iklan

Satu pemikiran pada “Abdullah bin Amr bin Ash ra. #3/3

  1. Ping-balik: Abdullah bin Amr bin Ash ra. #1/3 – menujumu

Tinggalkan Balasan, sopan, intelek, belajar lanjut

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s