Zubair bin Awwam #1/3

00Menuju00004

Zubair bin Awwam, masih sepupu Nabi SAW, walau usianya berbeda jauh. Ibunya, Shafiyyah binti Abdul Muthalib saudara ayah Rasulullah SAW, Abdullah. Ayahnya adalah Awwam bin Khuwailid, saudara Khadijah, istri Nabi SAW.

Maka, tak heran jika Nabi SAW sangat menyayanginya. Ia telah memeluk pada masa-masa awal Islam didakwahkan. Ketika masih 12 tahun. Dalam riwayat lainnya, 15. Karena itu, ia termasuk kelompok sahabat as sabiqunal awwalin, yang memperoleh pujian langsung Allah, dalam Al Qur’an. Ia juga salah 1 dari 10 sahabat, yang dijamin masuk surga ketika hidupnya.

Tidak lama setelah Islam, ia mendengar berita bahwa penduduk Makkah telah membunuh Nabi SAW. Dengan marah, ia menghunus pedangnya & mencari tahu, siapa yang membunuh. Tetapi kemudian, ia bertemu Nabi SAW yang segar bugar saja. Pedangnya, masih terhunus, beliau bertanya, “Apa yang terjadi denganmu, wahai Zubair?”

“Aku mendengar bahwa tuan telah dibunuh..”, kata Zubair.
“Lalu, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Nabi SAW.
“Aku akan memancung kepala orang yang membunuh tuan…”

Nabi SAW tersenyum, melihat sikap & semangatnya. Beliau mendoakan dia & juga pedangnya, kemudian menyuruhnya pulang. Itulah pedang yang pertama kali dihunuskan demi membela Islam.

Peristiwa itu merupakan gambaran awal bagaimana sikap Zubair bin Awwam terhadap Nabi SAW & Islam. Tak heran jika kemudian, ia tak pernah absen dalam semua pertempuran bersama Nabi SAW & setelah beliau meninggal. Jiwa & semangat hidupnya dihabiskan untuk mengabdi pada perjuangan menegakkan panji-panji Islam.

Sebagaimana para sahabat pada masa awal, keislamannya membawanya kepada penyiksaan kaum Quraisy. Walau sebenarnya, ia dari keluarga terhormat & sangat disegani. Pamannya sendiri, Naufal bin Khuwailid yang dikenal dengan nama “Singa Quraisy”, pernah menggulungnya dengan tikar & menggantungnya terbalik dalam keadaan terikat, & di bawahnya api sehingga asapnya menyesakkan dadanya. Berbagai siksaan ditimpakan kerabatnya sendiri, tetapi itu tidak mampu mengembalikannya ke agama jahiliahnya.

Karena makin kerasnya tekanan & siksaan yang ditimpakan kaum kafir Quraisy pada orang-orang yang memeluk Islam, Nabi SAW mengijinkan mereka berhijrah ke Habasyah. Zubair termasuk di antaranya. Raja Habasyah, Najasyi, memberikan perlindungan kepada para muhajirin ini, & memberikan kebebasan melaksanakan ibadahnya sendiri.

Hal itu menimbulkan sekelompok orang memberontak, tidak setuju sikap Najasyi. Sempat terjadi pertempuran, yang dalam pertempuran tersebut Zubair ikut berperan serta sebagai mata-mata untuk kepentingan Najasyi & kaum muhajirin lainnya. Jika Najasyi kalah, ia harus segera memberitahukan agar kaum muslimin segera meninggalkan bumi Habasyah. Tetapi Allah menghendaki kemenangan di pihak Najasyi. Kaum muslimin dengan tenang tinggal di negeri Nashrani tersebut.

Walau hidup dalam keadaan damai & tenang melaksanakan ibadah, tetapi hati Zubair selalu gelisah. Sejak memeluk Islam, hatinya seolah terikat dengan Rasulullah SAW. Ada kerinduan menggejolak untuk selalu bersama, walau ada juga kekhawatiran. Karena itu, begitu mendengar keislaman Hamzah & Umar bin Khaththab, yang membuat posisi kaum muslimin lebih kuat, ia segera kembali ke Makkah untuk bisa selalu bertemu & melihat Rasulullah SAW. Kapan saja kerinduannya itu datang.

Zubair juga dikenal sebagai penunggang kuda yang handal. Dialah salah satu dari hanya dua penunggang kuda pasukan muslim, pada Perang Badar. Ia diserahi Nabi SAW memimpin front kanan. Satu lagi adalah Miqdad bin Aswad, diserahi memimpin front kiri.

Dengan pedang yang pernah didoakan Nabi SAW, jiwa kepahlawanannya makin menonjol. Dalam perang Badar, ia mampu membunuh jagoan-jagoan Quraisy andalan. Seperti: Naufal bin Khuwailid, Si Singa Quraisy pamannya sendiri, Ubaidah bin Said, Ibnul Ash bin Umayyah, & lain-lain.

Pada awal perang Uhud, Nabi SAW mengangkat sebuah pedang & berkata, “Siapa yang mau mengambil pedang ini dengan memberikan haknya?”
Beberapa sahabat yang berkumpul tidak segera memberikan kesanggupan, maka Zubair bin Awwam segera menyahutnya, “Saya, ya Rasulullah.”

Tetapi, Nabi SAW hanya memandangnya sekilas, kemudian mengulangnya hingga 3 kali. Hanya Zubair yang dengan segera menyanggupinya. Namun demikian, beliau tidak menyerahkan pedang kepadanya. Ketika Abu Dujanah yang menyanggupinya, beliau langsung menyerahkannya.

Ini bukan berarti Nabi SAW tidak mempercayainya, tetapi Zubair telah memiliki pedang yang pernah didoakan Nabi SAW, sehingga ia tidak memerlukan pedang lainnya. Biarlah pedang tersebut dipegang & dimiliki sahabat lain, mengukirkan kepahlawanannya kepada Islam.

Pada perang Uhud itu pula, pemegang panji kaum musyrikin, Thalhah bin Abu Thalhah menantang duel. Tetapi, tidak ada yang menyambutnya. Sehingga, dengan congkaknya ia meremehkan pasukan muslim. Ia memang jagoan Quraisy yang perkasa.

Segera saja Zubair keluar, menyambut tantangannya. Ia berhasil meloncat ke atas belakang unta Thalhah & mereka jatuh bergulingan di atas tanah. Zubair berhasil membantingnya, kemudian membunuhnya dengan pedang kesayangannya. Pedang yang pernah didoakan Rasulullah SAW.

Nabi SAW memuji ketangkasan Zubair tersebut & beliau bersabda, “Setiap nabi itu mempunyai hawariyyun (pembela), & hawariyunku adalah Zubair…”

Begitu juga dalam perang Khandaq. Saat itu, Naufal bin Abdullah bin Mughirah al Makhzumi menaiki tempat yang tinggi, kemudian menantang duel kaum muslimin. Nabi SAW sempat menawarkan pada salah seorang sahabat melayani tantangan tersebut. Ia menyanggupinya, kalau memang diperintahkan. Tetapi kemudian, Nabi SAW melihat keberadaan Zubair bin Awwam, beliaupun bersabda, “Bangunlah kamu, ya Abu Safiah, pergilah kepadanya!”

Majulah Zubair menghadapi Naufal. Mereka beradu kekuatan, saling merangkul & bergulingan di tanah. Nabi SAW menyatakan, siapa yang jatuh ke bawah lebih dahulu, dialah yang akan terbunuh. Beliau berdoa & diamini sahabat-sahabat lainnya. Tak lama kemudian, Naufal jatuh. Zubair jatuh di atas dadanya, ia segera membunuhnya.

Baca terusan kisahnya:

  1. Zubair bin Awwam #1/3
  2. Zubair bin Awwam #2/3
  3. Zubair bin Awwam #3/3
Iklan

Tinggalkan Balasan, sopan, intelek, belajar lanjut

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s