Kitab Permulaan Turunnya Wahyu


Bab Bagaimana Permulaan Turunnya Wahyu kepada Rasulullah saw. & Firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh & nabi-nabi yang kemudiannya.”

1. Dari Alqamah bin Waqash al-Laitsi, ia berkata, “Saya mendengar Umar ibnul Khaththab r.a. (berpidato 8/59) di atas mimbar, ‘Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘(Wahai manusia), sesungguhnya amal-amal itu hanyalah dengan niatnya (dalam satu riwayat: amal itu dengan niat 6/118) & bagi setiap orang hanyalah sesuatu yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya (kepada Allah & Rasul Nya, maka hijrahnya kepada Allah & Rasul Nya. Lanjutkan membaca “Kitab Permulaan Turunnya Wahyu”

Iklan

Pengertian Hadits


Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan & ketetapan & persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam Islam. Menjadi sumber hokum, selain: Al-Qur’an, Ijma & Qiyas. Kedudukan hadits, merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an.

Ada banyak ulama periwayat hadits, yang sering dijadikan referensi hadits-haditsnya. Ada 7 ulama, yakni: Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Ahmad, Imam Nasa’i, & Imam Ibnu Majah. Lanjutkan membaca “Pengertian Hadits”

Imam Malik


Dalam sebuah kunjungan ke Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun Al Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti ceramah al muwatta’ (himpunan hadits) yang diadakan Imam Malik. Untuk ini, khalifah mengutus orang memanggil Imam. Namun Imam Malik memberikan nasihat kepada Khalifah Harun,

”Rasyid, leluhur Anda selalu melindungi pelajaran hadits. Mereka amat menghormatinya. Bila sebagai khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat lagi. Manusia yang mencari ilmu, sementara ilmu tidak akan mencari manusia.” Lanjutkan membaca “Imam Malik”

Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @6/6


Catatan Kaki:

[1] Maksudnya di Qathar,penj.

[2] Penjelasan lebih terperinci tentang hal ini dapat dibaca pada buku karya Dr. Yusuf al-Qardhawi, al-Madkhal li Dirasat As-Sunnah an-Nabawiyyah (Kairo: Maktabah wahbah), hlm. 7-13.

[3] Redaksi hadits di atas merupakan bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, an-Nasa’i, Ibnu Majah, & Tirmidzi dengan periwayatan secara ringkas. Lihat karya Dr. Yusuf al-Qardhawi, al-Muntaqa min Kitab at-Targhib tva Tarhib, 1/115, hadits 41. Dan, pengertian “barangsiapa membiasakan (memulai atau menghidupkan) suatu perbuatan baik dalam Islam” adalah selama masa hidupnya, bukan setelah kematiannya, atau karena peran orang tua atau keturunan-keturunannya.

[4] Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam kitab shahih-nya, & Ahmad. Tirmidzi berkata bahwa hadits ini hasan sahih. Lihat al-Muntaqa min Kitab at Targhib wa Tarhiib 1/ 110, hadits 24.

[5] Hadits diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir r.a.. Lihat karya an-Nawawi, Riyadhush Shalihin, bab “an-Nahyu’an al-Bida’ wa Muhdatsaat al-Umur”.

[6] Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah, al-Hakim dalam al-Mustadrak dari jalan periwayatan Imam Ahmad, & oleh Ibnu Abi Ashim dengan sanad hasan dalam kitab as-Sunnah, hadits no. 48, dengan takhrij al-Albani, & ia mensahihkannya dengan lanjutannya. Lihat kitab al-Muntaqa min Kitab at-Targhib wa Tarhib, 1/114, hadits no. 39.

[7] Ia adalah Ibrahim bin Musa bin Muhammad al-Lakhami al-Garnathi yang terkenal dengan asy-Syathibi. Ia adalah seorang ahli ushul fiqih & hafizh hadits dari kalangan penduduk Garnathah (Grenada, saat ini). Di samping itu, ia juga seorang imam mazhab Maliki.

Wafat pada tahun 790 H/1388 M (lihat: al-A’laam, Zerekly, 10/75). Di antara karya-karyanya adalah kitab al-Muwafaqaat fi Ushul asy-syari’ah, sebuah kitab yang amat bagus yang ditulis dalam bidang itu. Juga kitab al-I’tishaam fi Bayaan assunnah wal-Bid’ah.

Kitab terakhir itu juga kitab yang amat bagus yang ditulis dalam bidang itu. Namun sayangnya, sampai saat ini manuskrip nash kitab itu hanya ada 1 buah, yang kemudian dicetak, di-tashih, & diberikan anotasi oleh Imam Salafiah kontemporer: Syeikh Muhammad Rasyid Ridha r.a. pengasuh majalah al-Manar & pengarang tafsir al-Manar.

Di dalam kitab itu terdapat banyak kontradiksi antar kalimat, & redaksi-redaksi yang tidak jelas, namun karena manuskrip nash yang ada hanya 1 buah saja sehingga naskah itu tidak dapat dikomparasikan antara 2 naskah atau antara berbagai naskah manuskrip, untuk mencapai bentuk redaksional yang sebaik-baiknya, seperti yang dilakukan oleh para pen-tahqiq manuskrip-manuskrip lama. Sebagai tambahan, asy-Syathibi juga tidak menyelesaikan penulisan kitab itu.

[8] Asy-Syathibi, al-I’tishaam (Beirut: Darul Ma’rifah), juz 1, hlm. 37.

[9] Hadits Muttafaq ‘alaih dari hadits riwayat Aisyah r.a.. Lihat: Syarh Sunnah, karya al-Baghawi, dengan tahqiq Zuhair asy-Syawisy & Syu’ aib al-Arnauth, 1/211, hadits no: 103.

[10] Hadits diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, & Ibnu Majah. Lihat al-Muntaqa min Kitab at Targhiib wa Tarhiib, 1/112, hadits no: 32.

[11] Potongan dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, & Nasai, dari Umar bin Khaththab r.a. Lihat al-Muntaqa min Kitab at-Targhiib wat-Tarhiib, 1/102-103, hadits no: 3.

[12] Lebih jauh tentang hal ini dapat dibaca dalam buku al-Madkhal li Dirasat As-Sunnah an-Nabawiyyah, hlm. 24-32, karya Dr. Yusuf al-Qardhawi. Juga sebuah kuliah yang pernah disampaikan olehnya di Fakultas syari’ah Universitas Qathar tentang topik seputar “Sunnah Nabi & Ragamnya”.

Di samping itu, ia juga mempunyai 2 tulisan yang berkaitan dengan topik ini, yaitu al-Janib at-Tasyriri fi Sunnah an-Nabawiyah yang dipublikasikan oleh Markaz Sunnah & Sirah dalam jurnal tahunannya. Demikian juga bukunya as-Sunnah Mashdaran lil Ma’rifah wal-Hadharah. (Buku terakhir telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Abdul Hayyie al-Kattani, & diterbitkan oleh Gema Insani Press, 1998].

[13] Dari Aisyah r.a., ia berkata, “Nabi saw. setiap kali beliau usai melaksanakan shalat dua rakaat sebelum shubuh, beliau berbaring pada sisi kanan beliau.” Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab at-Tahajjud, bab “adh-Dhaj’ah ‘ala syaqqil-Aiman Ba’da Rak’atai al-Faji’.

[14] Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq. Dalam mata rantai periwayatannya terdapat seorang perawi yang namanya tidak disebut dengan jelas. Lihat Fathul Bari, kitab at-Tahajjud, bab “Man Tahaddatsa Ba’da Rak’ataul wa lam Yadhthaji”.

[15] Hadits Muttafaq ‘alaih dari hadits Umar bin Abi salmah, Syarh Sunnah karya al-Baghawi, tahqiq asy-Syawisy & al-Amauth, 11 /275, hadits no. 2823.

[16] Hadits diriwayatkan oleh Muslim, Tirmidzi, & Malik serta Abu Dawud juga meriwayatkan hadits yang sama redaksinya dari hadits Ibnu Umar. Lihat juga al-Muntaqa min Kitab at Targhib wa Tarhib, 2:598-599, hadits 1238.

[17] Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Iyas bin Salmah bin Akwa’ bahwa ayahnya meriwayatkan kepadanya bahwa seseorang makan bersama Rasulullah saw. sambil menggunakan tangan kirinya. Kemudian, Rasulullah saw. memerintahkan orang itu, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Ia menjawab, “Aku tidak bisa.” Rasulullah saw. kembali bersabda, “Engkau pasti bisa.” Yang menghalangi dirinya untuk makan dengan tangan kanan hanyalah semata kesombongannya saja. sang periwayat kembali berkata bahwa orang itu kemudian tidak lagi dapat mengangkat tangannya ke mulutnya. Lihat Kitab al-ASyribah, bab “Adab ath-Tha’am wa Syarab wa Ahkamuha”.

[18] Oleh karena itu, Ibnu Umar r.a. dikenal sebagai sahabat yang amat senang mengikuti segala tingkah laku Rasulullah saw. karena ia amat senang mengikuti ucapan & perbuatan beliau.

[19] Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahih-nya & Baihaqi dalam Sunan-nya dari Zaid bin Aslam. Ia berkata, “Aku melihat Ibnu Umar shalat dengan kancing yang terbuka. Kemudian, aku bertanya kepadanya mengapa ia melakukan hal itu, ia menjawab, “Karena aku pernah melihat Rasulullah saw. melakukannya.”

[20] Dari Mujahid, ia berkata, “Suatu saat kami berjalan bersama Ibnu Umar r.a. dalam sebuah perjalanan. selanjutnya, kami melewati suatu tempat. Tiba-tiba di tempat itu Ibnu Umar menepi dari jalan. Saat ia ditanya, ‘Mengapa engkau melakukan hal ihi?’ ia menjawab, ‘Karena aku pernah melihat Rasulullah saw. melakukan hal itu maka aku pun melakukannya.” Diriwayatkan oleh Ahmad & Bazzaar dengan sanad yang baik. Haitsami berkata bahwa para perawinya dapat dipercaya, Lihat al-Muntaqa min Kitab at-Targhib wa Tarhib, 1/112, hadits 31.

[21] Dari Ibnu Sirin, ia berkata: kami bersama Ibnu Umar r.a. di Arafat. Saat ia istirahat, kami pun ikut istirahat bersamanya. Hingga datang imam shalat, maka ia pun shalat zhuhur & ashar bersamanya. Kemudian aku & sahabat-sahabatku wukuf bersamanya hingga imam bergerak keluar dari Arafah. Setelah itu, kami pun ikut bergerak. Hingga sampai ke suatu tempat sebelum Ma’zamain. Di situ, Ibnu Umar mengistirahatkan kendaraannya, maka kami pun mengikutinya.

Kami menyangka ia akan melaksanakan shalat. Namun pembantunya yang menjaga kendaraannya mengatakan bahwa ia tidak hendak melaksanakan shalat, namun ia mengatakan bahwa Nabi saw., saat beliau sampai ke tempat itu, beliau melaksanakan hajatnya. Oleh karena itu, Ibnu Umar pun ingin melaksanakan hajat juga di tempat itu. Diriwayatkan oleh Ahmad, & para perawinya adalah para perawi yang dijadikan andalan dalam kitab-kitab sahih. Atsar ini juga disebutkan oleh Al Hafizh al Manawi dalam kitab At Targhiib wa at Tarhiib, fashal at Targhiib fi ittiba’ as sunnah. Lihat: al Madkhal li Dirasat as Sunnah an Nabawiah, karya Dr. Yusuf al Qaradhawi, hal: 24-32.

[22] Asy-Syathibi, al-I’tisham (Beirut: Darul Ma’rifah), juz 1/36.

[23] Demikian juga halnya dengan Zaid bin Tsabit yang diperintahkan oleh Abu Bakar untuk mengumpulkan catatan-catatan ayat Al-Qur an & mengkompilasikannya. Namun, Abu Bakar terus mendorong Zaid hingga Allah SWT melapangkan dadanya, sebagaimana telah terjadi dengan Umar & Abu Bakar r.a..

[24] Asy-Syathibi berkata bahwa Umar menamakannya seperti itu, dengan melihatnya dari unsur luarnya, yaitu suatu pebuatan yang tidak dilakukan oleh Rasulullah saw.. Juga tidak pernah terjadi pada masa Abu Bakar r.a.. Namun, bid’ah yang diucapkannya itu bukan bid’ah dengan pengertian terminologis. Maka, siapa yang menamakan perbuatan tadi sebagai bid’ah, dengan pengertian bid’ah seperti itu, maka tidak ada yang perlu diperdebatkan dalam masalah istilah & terminologi. Lihat al-I’tishaam, 1/195.

[25] Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shalat Tarawih bab “Fadhlu man Qaama Ramadhaan”. Dan, lafal hadits tadi dikutip darinya. Juga diriwayatkan oleh Malik dalam kitab al-Muwaththa, bab “Bad’u Qiyaam Layaali Ramadhaan”

[26] Aisyah r.a. berkata,”Nabi saw. shalat (sunnah pada malam bulan Ramadhan) di masjid, maka orang-orang kemudian mengikuti shalat beliau itu. Pada malam kedua, beliau kembali shalat, & kali ini para jamaah semakin bertambah banyak. Setelah itu, pada malam ketiga atau keempat, orang-orang berkumpul di masjid, namun Nabi saw. tidak keluar dari rumah beliau. Pada pagi harinya, Rasulullah saw. bersabda, “Aku melihat apa yang kalian lakukan itu, & yang menghalangi diriku untuk keluar & shalat (tarawih) bersama kalian adalah karena aku takut jika shalat itu sampai diwajibkan atas kalian.” hadits Muttafaq ‘afaih. Lihat karya Asy-Syaukani, Nailul Authar, 3/61, Darul Fikr.

[27] Asy-Syathibi berkata bahwa perhatikanlah, dalam hadits ini–yakni hadits Aisyah tadi–ada indikasi yang menunjukkan bahwa perbuatan itu adalah sunnah karena, dengan kenyataan Rasulullah saw. melakukan qiyamullail Ramadhan (shalat sunnah pada malam bulan Ramadhan) dengan berjamaah di masjid, pada hari pertama & kedua. Ini menunjukkan bahwa perbuatan itu sah & boleh dilaksanakan. Sementara, dengan tidak keluarnya Rasulullah saw (pada malam ketiga atau keempat) itu karena mengkhawatirkan jika shalat qiyamullail Ramadhan diwajibkan bagi umat Islam, hal itu sama sekali tidak menunjukkan pelarangan perbuatan itu.

Karena, masa ini adalah masa turunnya wahyu & syariat sehingga bisa saja jika perbuatan itu kemudian diwajibkan bagi umat Islam. Oleh karena itu, ketika illat syariat itu telah hilang dengan wafatnya Rasulullah saw., maka kembalilah hukum masalah itu kepada hukum asalnya. Dengan demikian, perbuatan ihi secara jelas dibolehkan & tidak ada penasakhan (penghapusan hukum) baginya. Lihat al-I’tishaam, 1/194.

[28] Syekh Islam Ibnu Taimiyah telah menulis redaksinya yang amat bagus, yang meng-counter orang yang menganggap baik perbuatan bid’ah, seperti yang beliau tulis dalam kitabnya “Iqtidha shiiraathal-Mustaqim, Mukhalafatu Ashhabu al-Jahim”, (Beirut: Darul Ma’rifah), him. 270 & seterusnya. Silakan dibaca kitab itu.

[29] Pendapat mereka ini telah dibahas & didiskusikan oleh Imam asy-Syathibi secara mendetail. Pada akhirnya, ia berkesimpulan bahwa pembagian bid’ah seperti ini adalah suatu perbuatan mengada-ada yang sama sekali tidak didukung oleh syariat. Bahkan, ia bersifat kontradiktif dalam dirinya sendiri.

Karena, hakikat suatu bid’ah adalah sesuatu yang sama sekali tidak mempunyai dalil, baik dari nash syariat maupun dari kaidah-kaidahnya. Seandainya di dalam syariat ada sesuatu dalil yang menunjukkan kewajiban, sunnah, atau bolehnya sesuatu (perbuatan bid’ah) itu, niscaya tidak ada bid’ah & niscaya perbuatan itu masuk dalam kelompok perbuatan-perbuatan yang harus dikerjakan atau diberi kesempatan untuk dikerjakan. Lihat al-I’tishaam, (Beirut: Darul Ma’rifah), 1/188-211.

[30] Ini merupakan bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, & Ibnu Jarir dari beberapa jalan periwayatan dari Adi bin Hatim. Lihat dalam Tafsir Ibnu Katsir, (Istanbul: Dar Dakwah), 2/328

[31] Asy-Syathibi menyebut hal ini dalam kitabnya, al-I’tisham,l /49.

[32] Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah r.a.. Nash lengkapnya adalah sebagai berikut, “Pada suatu hari, seorang arab badwi kencing di masjid. Melihat hal itu, beberapa orang langsung berdiri untuk menghajarnya. Namun, Rasulullah saw. segera bersabda, Biarkanlah dia & tuangkanlah di bekas kencingnya sesiraman atas seember air. Karena, kalian semata diutus untuk memberikan kemudahan, bukan untuk memberikan kesulitan.” (Riyadhush Shalihin, an-Nawawi, bab “al-Hilm, wal-Inat war-Rifq)

[33] Hadits Muttafaq ‘alaih, dari hadits Ka’ab bin Ajrah. Syarh Sunnah III Baghawi, tahqiq asy-Syawisy & al-Amauth, 3/190, hadits 681.

[34] Hadits diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Hurairah dalam adz-Dzikr wa Du’a, 2720.

[35] Tentang hal ini, lihat fatwa Dr. Yusuf al-Qardhawi berkenaan tentang doa-doa wudhu yang ma’tsur & yang tidak ma’tsur, dalam bukunya, Fatwa-Fatwa Kontemporer, juz I, him. 213-214.

[36] Yaitu mimpi Abdullah bin Zaid, seperti terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud & disahihkan oleh Tirmidzi & Ibnu Khuzaimah. Lihat Subulus-Salam, ash-shan’ani, bab “al-Adzaan”.

[37] Bahkan dikotomi (pembagian / pencabangan) antara ilmu pengetahuan agama & ilmu pengetahuan umum itu sendiri adalah bid’ah yang sebelumnya sama sekali tidak ada dalam wacana keilmuan Islam. Karena, Islam tidak bersifat terpisah dari dunia. Penjelasan lebih mendalam tentang hal ini dapat dilihat pada subjudul “al-Fisham an-Nakd”, dari buku al-Mustaqbal Li Hadza Din, karya asy-Syahid Sayyid Quthb.

[38] Sanadnya hasan, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Al Musnad, juga Ath Thabari, Al Hakim, ia juga mensahihkannya, & disetujui oleh Adz Dzahabi. Lihat: Syarh as Sunnah, al Baghawi, tahqiq: Asy-Syawisy & al-Arnauth:l/196-197, hadits 97.

[39] Rasulullah saw. mengajarkan sahabatnya dengan alat peraga, & salah satu alat peraga yang biasa dipergunakan untuk mereka adalah pasir.

[40] Bahkan, Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku tidak bergembira jika seluruh sahabat Rasulallah saw. tidak berbeda pendapat sama sekali. Karena jika mereka tidak berbeda pendapat sama sekali niscaya kita tidak mungkin mendapatkan rukhshah (keringanan).”

[41] Dari Abi Hurairah r.a. ia meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah akan mengutus bagi umat ini pada setiap awal seratus tahun seseorang yang akan memperbarui agamanya.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Hakim, al-Baihaqi & selainnya, serta disahihkan oleh al-Iraqi & as-Suyuthi.

Yang dimaksud dengan pembaruan agama, seperti disinyalir dalam hadits itu, adalah pembaruan pemahaman terhadapnya, serta keimanan & beramal dengannya. Dr. Yusuf Qardhawi telah menjelaskan panjang lebar tentang hadits ini dalam bukunya min Ajli Shahwahtin Raasyidah, Tujaddiduddiin wa Tanhadhu bid-Dunya, hlm. 936, al-Maktab al-Islami, Beirut; diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Membangun Masyarakat Baru, Gema Insani Press, 1997.

[42] Ibnu Jarir, Tammam dalam Fawa’id-nya, Ibnu Adi & lainnya meriwayatkan dari Nabi saw. hadits, “Ilmu ini akan dijunjung oleh orang yang mencermati musuh kecenderungannya (pembuat bid’ah). Ia akan melenyapkan penyelewengan orang-orang yang melakukan kesesatan dalam agama, kecenderungan orang-orang yang membuat kebatilan, & takwil orang-orang bodoh.” Lihat syarah-nya dalam al-Madkhal li Dirasat as-Sunnah an-Nabawiyah, Dr. Yusuf al-Qardhawi, hlm. 95-98.

[43] Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah SWT tidak akan mengumpulkan umatku — atau umat Muhammad saw. — dalam kesesatan. “Tangan Allah bersama jamaah. Siapa yang menyempal dari jamaah maka ia menyempal ke dalam neraka.” Diriwayatkan oleh Tirmidzi & ia menilainya sebagai hadits gharib, serta diriwayatkan oleh al-Hakim dengan redaksi sejenis. Lihat ash-Shahwah al Islamiah, baina al-Ikhtilaf al-Masyru’ wa at-Tafarruq al-Madzmum, Dr. Yusuf al-Qardhawi, hlm. 25, Muassasah ar-Risalah, Beirut.

[14010055;Sunnah & Bid’ah, Dr. Yusuf Qardhawi, GIP; HaditsWeb]

=========

Baca lainnya:

  1. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @1/6
  2. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @2/6
  3. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @3/6
  4. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @4/6
  5. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @5/6
  6. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @6/6

Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @4/6


Dan, redaksi doa dari Sunnah misalnya adalah,

“Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan pegangan utama bagiku & perbaikilah duniaku yang merupakan bekal hidupku, perbaikilah akhiratku tempat kembaliku nanti, jadikanlah hidup yang kulalui sebagai tambahan segala kebaikan yang dapat kuraih, & jadikanlah kematianku sebagai tempat istirahatku dari segala kejahatan & keburukan.” [34]

Lantas, mengapa kita harus menyusahkan diri sendiri & menyusahkan orang lain untuk menghafal doa-doa dengan redaksi buatan sendiri itu?

Suatu kali, saya pernah bertanya kepada seseorang, “Mengapa Anda tidak melaksanakan shalat?” Ia menjawab, “Karena aku tidak bisa berwudhu.” Aku kembali bertanya, “Apakah engkau tidak mengetahui bagaimana membasuh muka, kedua tangan, mengusap kepala, & membasuh kedua kaki?” Ia menjawab, “Kalau itu, aku mengetahuinya, namun aku tidak hafal (do’a) apa yang harus dibaca pada setiap kali membasuh anggota wudhu itu.”

Maksudnya, ia tidak mengetahui doa yang harus dibaca saat akan memulai berwudhu, misalnya doa, “Segala puji bagi Allah Yang telah menjadikan air sebagai media untuk menyucikan (diri) & Islam sebagai cahaya.” Saat istinsyaaq ‘memasukkan air ke hidung’, “Ya Allah, rahmatilah aku dengan semerbak surga & Engkau meridhaiku.”

Saat membasuh muka, “Ya Allah, putihkanlah wajahku pada saat wajah-wajah (kalangan beriman) memutih & wajah-wajah (kalangan kafir & pembuat dosa) menghitam.” Saat membasuh 2 tangan, “Ya Allah, berikanlah buku catatan amal perbuatanku ke tangan kananku, & jadikanlah Nabi Muhammad sebagai pemberi syafaat & penanggungku.” Dan, saat mengusap kepala, “Ya Allah, haramkanlah rambut & kulitku dari api neraka.” [35]

Oleh sebagian orang, setiap gerakan wudhu disertai doa tertentu sehingga rekan kita yang malang ini menyangka bahwa agar shalat & wudhunya sah maka ia harus menghafal seluruh doa yang banyak itu, padahal ia tidak memiliki kemampuan untuk menghafal seluruh redaksi doa yang banyak itu. Mengapa hal ini harus terjadi?

Contoh yang lain adalah apa yang dinamakan oleh sebagian orang sebagai azan syar’i. Pada dasarnya, redaksi & cara pelafalan azan mudah saja dilakukan, yaitu Allahu Akbar Allahu Akbar & seterusnya. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengumandangkan azan seperti itu? Paling lama 1 atau satu setengah menit. Namun, jika kita menguman-dangkan azan dengan cara yang biasa dilakukan pada saat ini, yaitu dengan membaca hayya ‘alash-shalaaaaaah, hayya ‘alal falaaaaaaah, berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk itu? Tentu akan memerlukan lebih dari 5 menit.

Oleh mereka, kata “falah” harus dibaca lebih panjang dari kata “shalaah”. Demikian juga redaksi kedua harus dibaca lebih panjang dari redaksi pertama. Tidak hanya itu, mereka juga kemudian mengarang redaksi-redaksi shalawat kepada Nabi saw yang harus dibaca selepas mengumandangkan azan.

Wahai saudaraku seiman, Rabb kita mensyariatkan lafal-lafal azan ini & mewahyukan bentuk lafal itu kepada Nabi-Nya melalui jalan mimpi [36] yang ditetapkan oleh Nabi saw.. Hal ini dimaksudkan agar Allah SWT mempunyai peran tertentu dalam penentuan azan itu, demikian juga Nabi saw. mempunyai peran tersendiri. Lantas, mengapa Anda kemudian menambahkan redaksi shalawat & kata-kata tambahan terhadap azan itu yang membuat bagian Nabi saw. dalam azan lebih besar dari bagian Rabb kita? Ini tidak sepatutnya terjadi.

Islam amat memerangi bid’ah agar manusia tidak memasukkan hal-hal baru yang mempersulit pelaksanaan agama, serta agar tidak menambahkan hal-hal yang membuat beban agama menjadi berlipat-lipat banyaknya daripada apa yang diturunkan oleh Allah SWT. Karena, hal itu akan membuat manusia menjadi berat untuk menjalankan perintah-perintah agama.

4. BID’AH DALAM AGAMA MEMATIKAN SUNNAH

Ada ungkapan yang diriwayatkan dari kalangan salaf, secara mauquf & marfu’, “Setiap kali suatu kaum menghidupkan bid’ah maka saat itu pula mereka mematikan sunnah dengan kadar yang setara.” Ini adalah suatu keniscayaan (kepastian), sesuai dengan hukum alam & hukum sosial.

Ada orang yang berkata, “Setiap kali aku melihat suatu sikap berlebihan dalam satu segi maka saat itu pula aku dapati adanya suatu hak yang ditelantarkan.” Jika Anda menjumpai suatu sikap berlebih-lebihan pada satu segi, Anda pasti akan mendapati adanya sikap mengurang-ngurangi pada segi lain.

Jika seseorang mencurahkan energinya untuk melaksanakan perbuatan bid’ah, niscaya energinya untuk menjalankan sunnah menjadi berkurang karena kemampuan manusia terbatas. Oleh karena itu, Anda dapat menandai dengan mudah pada segi apa seorang pelaku bid’ah giat berusaha & pada segi apa pula ia malas bekerja. Ia giat & bersegera dalam menjalankan perbuatan-perbuatan bid’ah, sementara lemah & bermalasan dalam menjalankan hal-hal yang sunnah.

Saya masih ingat ketika masih berstatus pelajar sekolah menengah al-Azhar di Madrasah al-Azhar cabang Thantha. Di kota Thantha itu terdapat makam sayyid Ahmad Badawi yang terkenal itu. Di antara syekh kami ada yang menghabiskan sebagian besar siang & malamnya di samping makam sayyid Badawi. Saya pernah berdialog dengan salah seorang syekh kami tersebut, seorang ahli fiqih mazhab Hanafi, namun ia termasuk dalam kelompok orang-orang yang menyakralkan tasawuf & para wali.

Saat itu, ia sedang mengajarkan kepada kami bab al-Udhhiah ‘kurban’ (& saya saat itu adalah orang yang senang mengaitkan fiqih dengan kehidupan sehari-hari). Saya berkata kepadanya, “Pak guru, saat ini, masyarakat sudah melupakan sunnah ini sehingga orang yang berkurban amat sedikit sekali. Saya pikir para syekh bertanggung jawab dalam masalah ini & mereka dapat memperingatkan masyarakat untuk memperhatikan sunnah ini.”

Syekh kami itu menukas, “Hal itu terjadi karena kemampuan finansial masyarakat saat ini lemah.” Saya kembali berkomentar, “Namun, dalam kesempatan lain, mereka malah berkurban untuk sesuatu yang bukan sunnah.” Mendengar itu ia bertanya, “Apa yang engkau maksud?” Saya menjawab,

“Maksud saya, mereka berkurban pada saat peringatan kelahiran sayyid Badawi. Saat peringatan itu, masyarakat menyembelih puluhan, bahkan ratusan atau ribuan domba, sementara pada Idul Adha amat sedikit yang berkurban. Seandainya para syekh mengarahkan masyarakat untuk menghidupkan sunnah berkurban ini, yaitu sebagai ganti mereka berkurban pada saat peringatan kelahiran sayyid Badawi maka mereka berkurban pada hari Idul Adha, niscaya dengan itu mereka telah menjalankan Sunnah. Sekalipun mereka tidak menyedekahkan sedikit pun dari kurban mereka, namun semata mengalirkan darah kurban pada hari itu sudah menjadi bentuk penghidupan syiar Islam. ”

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu & berkorbanlah.” (al-Kautsar: 2)

Setelah saya berkata seperti itu, guru saya langsung marah kepada saya & mengeluarkan saya dari ruang kelas. Ia kemudian menganggap saya sebagai pembuat onar yang membenci para wali serta kaum shalihin.

Ini mengingatkan saya pada satu pernyataan bahwa setiap kali suatu kaum menghidupkan bid’ah & menyibukkan diri mereka dengan bid’ah itu, niscaya saat itu pula mereka mematikan sunnah sejenis. Inilah salah satu rahasia mengapa bid’ah diperangi dalam Islam.

5. BID’AH DALAM AGAMA MEMBUAT MANUSIA TIDAK KREATIF DALAM URUSAN-URUSAN KEDUNIAAN

Dari segi lain, sebagaimana telah saya singgung sebelumnya, jika manusia mencurahkan energi & perhatiannya untuk melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah yang ditambahkan ke dalam agama, niscaya mereka tidak lagi mempunyai energi untuk berusaha di dunia & berkreasi dalam urusan-urusan duniawi.

Bid’ah, seperti telah kami sinyalir sebelumnya, adalah “jalan beragama yang dibuat-buat”. Pada dasarnya, manusia harus mengembangkan kreativitasnya dalam bidang keduniaan, namun karena manusia telah mencurahkan seluruh kreativitasnya dalam urusan-urusan agama maka ia tidak lagi dapat berkreasi dalam urusan-urusan duniawi.

Oleh karena itu, generasi Islam yang pertama banyak menelurkan kreativitas dalam bidang-bidang duniawi & memelopori banyak hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Sehingga, mereka dapat membangun peradaban yang besar & tangguh yang menyatukan antara ilmu pengetahuan & keimanan, antara agama & dunia.

Ilmu-ilmu Islam yang dihasilkan pada masa itu, seperti ilmu alam, matematika, kedokteran, astronomi, & sebagainya menjadi ilmu-ilmu yang dipelajari di seluruh dunia & masyarakat dunia belajar tentang ilmu-ilmu itu dari kaum muslimin.

Mayoritas motif yang melatarbelakangi kaum muslimin generasi pertama untuk menggeluti & mengembangkan ilmu-ilmu tadi adalah motif agama. Apakah Anda mengetahui mengapa al-Khawarizmi menciptakan ilmu aljabar? Ia menelurkan ilmu itu untuk menyelesaikan masalah-masalah tertentu dalam bidang wasiat & warisan. Tentang warisan, juga wasiat, sebagian darinya memerlukan hitung-hitungan matematika. Oleh karena itu, al-Khawarizmi menulis bukunya yang berbicara tentang ilmu aljabar dalam 2 juz; juz pertama tentang wasiat & warisan, juz kedua tentang aljabar.

Saat Dr. Musa Ahmad & kelompoknya mentahqiq kitab al-Khawarizmi itu, mereka memberikan anotasi-anotasi pada juz yang berbicara tentang aljabar, sedangkan pada juz yang berbicara tentang wasiat & warisan, mereka berkata, “Kami tidak memahaminya & kami tidak mengerti sedikit pun apa yang tertulis di dalamnya.” Pada masa generasi pertama Islam, ilmu pengetahuan berkaitan erat dengan agama. Tidak ada dikotomi (pembagian / pencabangan) di antara keduanya.[37]

Para ilmuan & dokter saat itu juga berstatus ulama dalam bidang agama. Ibnu Rusyd, pengarang kitab al-Kulliyyat dalam bidang kedokteran, adalah juga seorang qadhi, pengarang kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul-Muqtashid dalam bidang fiqih. Kitab itu merupakan kitab fiqih komparatif yang paling baik.

Yang aku ingin tekankan adalah, kaum muslimin pada masa keemasan Islam, dalam bidang agama, mereka semata berpegang pada nash & Sunnah, sedangkan dalam bidang-bidang kehidupan, mereka berkreasi, menciptakan hal-hal baru, & mengembangkan ilmu pengetahuan & penemuan yang telah ada.

Sementara, pada masa kemunduran Islam, yang terjadi adalah sebaliknya. Orang banyak sekali menciptakan hal-hal baru dalam bidang agama, sementara beku & statis dalam bidang-bidang keduniaan. Mereka (kaum muslimin era kemunduran Islam) berkata, “Generasi pertama Islam sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya untuk menciptakan hal-hal baru & kita sama sekali tidak dapat melakukan seperti apa yang mereka telah perbuat.”

Sehingga, kehidupan umat Islam menjadi beku & statis, seperti air yang terjebak tak bergerak & berubah menjadi busuk. Dengan demikian, pengingkaran perbuatan bid’ah dalam bidang agama bermakna menyiapkan energi manusia untuk berkreasi & mengembangkan urusan-urusan keduniaan.

6. BID’AH DALAM AGAMA MEMECAH BELAH & MENGHANCURKAN PERSATUAN UMAT

Yang keenam adalah berpegang teguh pada Sunnah akan menyatukan umat sehingga membuat mereka menjadi satu barisan yang kokoh di bawah bimbingan kebenaran yang telah diajarkan oleh Nabi saw.. Karena, Sunnah hanya satu, sedangkan bid’ah tidak terbilang banyaknya.

Kebenaran hanya 1, sedangkan kebatilan beragam warna & bentuknya. Jalan Allah SWT hanya 1, sedangkan jalan-jalan setan amat banyak. Dalam hadits riwayat Ibnu Mas’ud r.a.,[38] ia berkata,

“Suatu hari, Rasulullah saw. membuat garis lurus di hadapan kami,[39] kemudian beliau bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah.’ Setelah itu, beliau menggaris beberapa garis di samping kiri & samping kanan garis yang pertama tadi, & bersabda, ‘Jalan-jalan ini (adalah selain jalan Allah), masing-masing didukung oleh setan yang menggoda manusia untuk mengikuti jalan itu.’ selanjutnya, beliau membaca ayat, “Dan, bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia….” (al-An’aam:153)

Oleh karena itu, saat umat secara konsekuen mengikuti Sunnah maka saat itu mereka bersatu padu. Sementara, saat timbul beragam sekte & mazhab maka umat terpecah menjadi lebih dari 70 golongan. Bahkan, masing-masing golongan itu pada gilirannya kembali terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil. Dan, masing-masing golongan & kelompok itu meyakini bahwa mereka sajalah penganut agama Islam yang sebenarnya. Selanjutnya, masing-masing golongan itu menciptakan bid’ah tersendiri yang demikian banyak.

Sebagian bid’ah itu dalam bidang akidah hingga kadang-kadang ada yang sampai kepada kekafiran, seperti golongan yang mengingkari ilmu Allah SWT & berkata, “Hal ini adalah sesuatu yang baru sama sekali.” Maksud ucapan mereka itu adalah Allah SWT tidak mengetahui hal itu sebelumnya. Mereka itulah yang dikecam dengan keras oleh Ibnu Umar & ia pemah berkata tentang mereka,

“Sekalipun mereka melakukan amal kebaikan sebesar Gunung Uhud, (namun karena perkataan & sikap mereka tadi) niscaya Allah SWT tidak menerima amal perbuatan mereka itu.”

Juga ada kelompok yang menganut antropomorfisme yang menyerupakan wujud Allah SWT dengan makhluk-Nya, mereka terkenal sebagai kelompok Musyabbihah & Mujassimah. Di antara mereka ada yang mengingkari kodrat Allah SWT, meskipun mereka tidak mengingkari ilmu-Nya.

Di antara mereka ada yang mengkafirkan kaum muslimin & menghalalkan darah mereka, seperti kalangan Khawarij, meskipun ketekunan ibadah mereka amat mengagumkan & meskipun dalam hadits Nabi saw. pernah diungkapkan tentang mereka,

“Dan kalian ada yang melihat shalatnya lebih sederhana dari shalat mereka, qiyamullailnya lebih sederhana dari qiyamullail mereka, & bacaannya lebih sederhana dari bacaan mereka.”

Setelah itu, timbul kalangan tasawuf yang sebagian mereka mengungkapkan hal-hal yang sama sekali tidak dilandasi syariat, seperti berpedoman hanya kepada dzauq ‘rasa’ & intuisi, bukan kepada syariat. Menurut mereka, orang tidak perlu berpegang pada apa yang difirmankan oleh Rabbnya, namun yang terpenting adalah berpedoman pada apa yang dikatakan oleh hatinya.

Salah seorang dari mereka dengan bangga berkata, “Hatiku berkata kepadaku berdasarkan informasi dari Tuhanku.” Karena, ia mengambil informasi langsung dari “atas”. Oleh karena itu, saat dikatakan kepada salah seorang dari mereka, “Marilah kita membaca kitab Mushannaf Abdurrazzaq,” ia menjawab, “Apa manfaatnya karya Abdurrazzaq itu bagi orang yang mengambil ilmunya langsung dari sang Khaliq?” Maksudnya, ia mengambil ilmunya langsung dari Allah SWT, tanpa melalui perantara!

Dari mereka ada yang berkata, “Kalian mengambil ilmu kalian dari orang yang telah mati yang mendapatkannya dari orang yang telah mati pula, sementara kami mengambil ilmu kami dari Zat Yang Maha Hidup, Yang tidak mati!” Malik dari Nafi dari Ibnu Umar, mereka semua telah mati; mata rantai riwayat emas ini (seperti dinamakan oleh para ahli hadits) bagi kalangan tasawuf dipandang sebagi mata rantai karatan yang tidak bermanfaat sama sekali.

Di antara istilah yang dikembangkan oleh mereka adalah hakikat & syariat. Kalangan ahli syariat melihat & memperhatikan sisi yang zahir, sedangkan kalangan ahli hakikat melihat & memperhatikan sisi batin. Oleh karena itu, mereka berkata,

“Orang yang melihat manusia dengan mata syariat, niscaya ia akan membenci mereka, sedangkan orang yang melihat manusia dengan mata hakikat, niscaya ia akan memberikan uzur (sikap memaklumi) kepada mereka.”

Orang yang berzina, bermabuk-mabukan, pembuat kezaliman, & kediktatoran, yang menyiksa manusia & membunuh ratusan, bahkan ribuan orang, serta yang menghancurkan kampung-kampung & kota-kota; mereka itu, jika Anda lihat mereka dengan mata syariat niscaya Anda akan membenci mereka karena syariat membenci kemungkaran, kezaliman, & para pelakunya. Namun, jika Anda memandang mereka dengan mata hakikat, niscaya Anda akan memberikan uzur kepada mereka.

Karena, meskipun mereka tidak menjalankan perintah Allah SWT, namun pada hakikatnya mereka menjalankan iradah ‘kehendak’ Allah SWT karena Allah SWT-lah yang menghendaki semua hal itu. Allah SWT menggerakkan manusia sesuai dengan kehendak-Nya, lantas apakah Anda ingin turut campur dalam kekuasaan Allah SWT? Biarkanlah kekuasaan berjalan di tangan raja, sementara manusia yang lain, biarkanlah mereka hidup sesuai dengan kehendak sang Khalik.

[14010055;Sunnah & Bid’ah, Dr. Yusuf Qardhawi, GIP; HaditsWeb]

=========

Baca lainnya:

  1. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @1/6
  2. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @2/6
  3. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @3/6
  4. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @4/6
  5. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @5/6
  6. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @6/6

Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @3/6


BID’AH YANG DIMAKSUDKAN ADALAH BERSIKAP BERLEBIH-LEBIHAN DALAM BERIBADAH

Dalam definisi asy-Syathibi juga terdapat redaksi, “yang dimaksudkan dengan melakukan hal itu (bid’ah) adalah sebagai cara berlebillan dalam beribadah kepada Allah SWT”.

Maksudnya, orang yang membuat suatu praktek bid’ah, biasanya melakukan hal itu dengan tujuan untuk berlebih-lebihan dalam bertaqarrub kepada Allah SWT. Karena, mereka merasa tidak cukup dengan praktek ibadah yang telah diajarkan oleh syariat sehingga mereka berusaha menambah suatu praktek baru. Dengan tindakan itu, seakan-akan mereka ingin mengoreksi syariat & menutupi kekurangannya sehingga akhirnya mereka menciptakan suatu praktek ibadah baru, hasil rekayasa pikiran mereka.

Apakah niat yang baik itu dapat menjustifikasikan tindakan mereka? Tentu saja tidak. Niat seperti itu tidak dapat memberikan justifikasi suatu perbuatan bid’ah. Kami telah katakan sebelumnya bahwa dalam masalah beribadah, kita harus melengkapi 2 hal: niat (hanya semata untuk Allah SWT) & mutaba’ah yaitu ‘beribadah dengan mengikuti cara yang diajarkan oleh Al-Qur’an & Rasulullah saw.’.

Ukuran & karakteristik ibadah yang benar amat jelas. Yaitu, harus mengikuti tuntunan Rasulullah saw., “Siapa yang mengerjakan suatu amal ibadah yang tidak diatur oleh sunnah kami maka amalnya itu tertolak.”

Ini adalah bid’ah dalam agama. Bid’ah dengan pengertian seperti ini adalah dhalaalah ‘sesat’, seperti disinyalir oleh hadits riwayat Irbaadh bin Saariah, “Karena setiap bid’ah adalah sesat.”

PEMBAGIAN MACAM BID’AH MENURUT ULAMA & PENDAPAT YANG PALING TEPAT

Ada ulama yang membagi bid’ah menjadi 2 macam. Yaitu bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) & bid’ah sayyi’ah (bid’ah yang buruk’). [28] Ada juga ulama yang membagi bid’ah menjadi 5 macam, seperti halnya 5 macam hukum syariat. Yaitu bid’ah wajibah (bid’ah yang wajib dilakukan), bid’ah mustahabbah (bid’ah yang dianjurkan untuk dilakukan), bid’ah makruhah (bid’ah yang makruh dilakukan), bid’ah muharramah (bid’ah yang haram dilakukan), & bid’ah mubaahah (bid’ah yang boleh dilakukan). [29]

Ungkapan yang paling tepat dalam masalah ini adalah bahwa pendapat tadi pada akhirnya bertemu pada muara yang sama & sampai pada kesimpulan yang sama pula. Karena, mereka — misalnya — memasukkan masalah pencatatan Al-Qur’an & pengkompilasiannya dalam satu mushaf, juga masalah pengkodifikasian ilmu nahwu, ilmu ushul fiqih, & pengkodifikasian ilmu-ilmu keislaman yang lain, dalam kategori bid’ah yang wajib & sebagai bagian dari fardhu kifayah (kewajiban kolektif).

Ulama yang lain menggugat penamaan perbuatan tadi sebagai bagian dari bid’ah. Menurut mereka, pengklasifikasian bid’ah semacam itu adalah pengklasifikasian bid’ah berdasarkan pengertian lughawi ‘etimologis’. Sedangkan pengertian kata bid’ah yang kami gunakan adalah pengertian secara terminologis syar’i. Sedangkan, hal-hal tadi (seperti pencatatan Al-Qur’an & pengkompilasiannya) tidak kami masukkan dalam kategori bid’ah. Adalah suatu inisiatif yang tidak tetap memasukkan hal-hal semacam tadi dalam kelompok bid’ah.

Yang terbaik adalah kita berpedoman pada pengertian bid’ah yang dipergunakan oleh hadits syarif. Karena, dalam hadits syarif diungkapkan redaksi yang demikian jelas ini, “Karena setiap bid’ah adalah sesat,” dengan pengertian yang general (umum).

Jika dalam hadits itu diungkapkan, “Karena setiap bid’ah adalah sesat,” maka tidak tepat kiranya jika kita kemudian berkata bahwa di antara bid’ah ada yang baik & ada yang buruk, atau ada bid’ah wajib & ada bid’ah yang dianjurkan, & sebagainya. Kita tidak patut melakukan pembagian bid’ah seperti ini.

Yang tepat adalah jika kita mengatakan seperti yang diungkapkan oleh hadits, “Karena setiap bid’ah adalah sesat.” Dan, kata bid’ah yang kami pergunakan itu adalah kata bid’ah dengan definisi yang diucapkan oleh Imam asy-Syathibi, “Bid’ah adalah suatu cara beragama yang dibuat-buat,” yang tidak mempunyai dasar & landasan, baik dari Al-Qur’an, sunnah Nabi saw., ijma’, qiyas, maupun maslahat mursalah, & tidak juga dari salah satu dalil yang dipakai oleh para fuqaha.

MENGAPA ISLAM BERSIKAP KERAS DALAM MASALAH BID’AH?

Mengapa Islam bersikap keras dalam masalah bid’ah, menilainya sebagai kesesatan, & pelakunya diancam akan dimasukkan ke neraka, serta Nabi saw. memberikan peringatan yang amat keras dalam masalah ini? Berikut ini adalah alasan-alasannya.

1. PEMBUAT DAN PELAKU BID’AH MENGANGKAT DIRINYA SEBAGAI PEMBUAT SYARIAT BARU & SEKUTU BAGI ALLAH SWT

Islam memberikan peringatan keras terhadap masalah bid’ah ini karena (seperti telah kami singgung sebelumnya) dalam kasus seperti ini, si pembuat bid’ah bertindak seakan-akan ingin mengoreksi Rabbnya. Dan dia memberikan kesan kepada kita atau kepada dirinya bahwa, dia mengetahui apa yang tidak diketahui oleh Allah SWT.

Seakan-akan dia berkata, “Tuhanku, apa yang Engkau telah syariatkan kepada kami itu tidak cukup. Oleh karena itu, kami menambah praktek ibadah baru atas apa yang telah Engkau syariatkan itu.” Dengan demikian, ia telah menetapkan dirinya sebagai pembuat syariat & memberikan kepada dirinya hak untuk menciptakan syariat baru. Padahal, hak membuat syariat adalah mi1ik Allah SWT semata. Oleh karena itu, Allah berfirman,

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?…. ” (asy-Syuura: 21)

Tindakan membuat syariat baru yang tidak dizinkan oleh Allah SWT adalah tindakan yang amat berbahaya. Karena, dalam kasus seperti itu, si pelakunya berarti telah mengangkat dirinya sebagai sekutu bagi Allah SWT & memberikan hak kepada dirinya untuk menciptakan syariat baru & berkreasi dalam agama, serta membuat tambahan dalam agama Allah SWT. Hal ini dapat menimbulkan bahaya yang amat besar & dapat menjerumuskan seseorang menjadi musyrik kepada Allah SWT. Tindakan seperti inilah yang telah merusak agama-agama langit sebelum Islam.

Apa yang telah terjadi pada agama-agama langit sebelum Islam itu? Yaitu, terjadi bid’ah secara besar-besaran & para pemeluk agama-agama itu memberikan kepada diri mereka hak untuk menambahkan hal-hal baru dalam agama mereka, yang secara khusus dipegang oleh para pendeta & orang-orang alim mereka. Sehingga, agama yang mereka anut bentuknya berubah sama sekali dari agama aslinya. Inilah yang dikecam oleh Islam & diabadikan oleh Al-Qur’an dalam firman Allah SWT,

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya & rahib-rahib mereka sehagai tuhan selain Allah, & (juga mereka mempertuhankan) Almasih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (at-Taubah: 31)

Al-Qur’an memandang mereka sebagai orang-orang musyrik. Saat Adi bin Hatim ath-Thaai (yang sebelumnya memeluk Kristen pada masa jahiliah) bertemu Rasulullah saw., ia membaca ayat,

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya & rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.”

Dan, iapun (Adi bin Hatim ath-Thaai) berkata, “(Pada kenyataannya) mereka tidak menyembah para pendeta & rahib itu.”

Rasulullah saw. menjawab, “Benar begitu, (namun) mereka (para pendeta & rahib itu) telah mengharamkan sesuatu yang halal bagi umatnya & menghalalkan apa yang haram bagi mereka, & mereka (umatnya) pun mengikuti ketetapan para pendeta & rahib itu dengan patuh. Itulah bentuk ibadah penyembahan mereka kepada para pendeta & rahib itu.” [30]

Adi bin Hatim memahami ibadah & penyembahan hanya berbentuk ritus-ritus saja: shalat, ruku, sujud, & semacamnya. Kemudian, Nabi saw. memberikan penjelasan kepadanya bahwa bentuk penyembahan mereka itu tidak semata-mata seperti itu; ibadah & penyembahan mempunyai makna yang lebih luas. Taat & tunduk secara mutlak terhadap apa yang mereka (para pendeta & para rahib) lakukan, apa yang mereka halalkan, apa yang mereka haramkan, apa yang mereka buat-buat, dalam perkara-perkara duniawi adalah bentuk penyembahan kepada mereka.

Karena, status rubbubiyah ‘ketuhanan’-lah yang memiliki hak untuk menetapkan syariat, menghalalkan, & mengharamkan. Dan, status itu pula yang memberikan-Nya hak untuk menetapkan bentuk praktek ibadah manusia kepada-Nya, sesuai yang Dia kehendaki. Tidak ada seorang pun yang mempunyai hak untuk beribadah kepada Allah SWT dengan cara yang dia kehendaki sendiri.

Dengan demikian, orang yang membuat bid’ah meletakkan dirinya seakan-akan pihak yang berwenang menetapkan hukum & menjadi sekutu bagi Allah SWT & dia mengoreksi apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

2. PEMBUAT BID’AH MEMANDANG AGAMA TIDAK LENGKAP & BERTUJUAN MELENGKAPINYA

Dari segi lain, orang yang mengerjakan bid’ah seakan-akan menganggap agama tidak lengkap, kemudian ia ingin menyempurnakan kekurangan & ketidaksempurnaannya. Padahal, Allah SWT telah menyempurnakan agama secara lengkap, sebagai bentuk kesempurnaan nikmat yang diberikan-Nya kepada kita. Dia berfirman,

” ..Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu & telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, & telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu .,” (al-Maa’idah: 3)

Oleh karena itu, Ibnu Majisyun meriwayatkan dari Imam Malik (Imam Darul Hijrah) bahwa dia berkata,

“Siapa yang telah membuat praktek bid’ah dalam agama Islam & ia melihatnya sebagai suatu tindakan yang baik, berarti ia telah menuduh Nabi Muhammad saw. telah mengkhianati risalah. Karena, Allah SWT berfirman, ‘Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.’ Jika saat itu agama Islam belum lengkap niscaya saat ini tidak ada agama Islam itu.” [31]

Membuat bid’ah dalam agama Islam secara tidak langsung berarti telah menuduh Nabi saw. berkhianat & tidak menyampaikan risalah agama secara lengkap. Allah SWT berfirman,

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan, jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya “ (al-Maa’idah: 67)

Agama Islam telah sempurna & tidak membutuhkan tambahan lagi. Karena, sesuatu yang sudah sempurna tidak menerima adanya penambahan sama sekali. Hanya sesuatu yang tidak sempurnalah yang dapat menerima penambahan & penyempurnaan baginya.

Oleh karena itu, para sahabat & para imam setelah mereka, amat memerangi praktek bid’ah karena hal itu berarti menuduh agama Islam tidak lengkap, & menuduh Rasulullah saw. telah berbuat khianat.

3. PRAKTEK BID’AH MEMPERSULIT AGAMA & MENGHILANGKAN SIFAT KEMUDAHANNYA

Agama yang disyariatkan oleh Allah SWT pada dasarnya bersifat mudah & Allah SWT juga mengutus nabi-Nya dengan hanifiah samhah ‘agama yang orisinal & mudah dijalankan’, hanif ‘orisinal’ dalam akidah, & samhah ‘mudah dijalankan dalam pemberian beban hukum & praktek ibadah’. Firman Allah:

“…Allah menghendaki kemudahan bagimu & tidak menghendaki kesukaran bagimu….” (al-Baqarah:185).

Juga dalam ayat lainnya, “,…& Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan,…” (al-Hajj: 78).

Juga dalam hadits Nabi SAW, “Kalian diutus sebagai orang-orang yang memberikan kemudahan, bukan sebagai orang-orang yang membuat kesulitan.” [32]

Agama Islam datang dengan sifat mudah dilaksanakan, kemudian orang-orang yang membuat praktek bid’ah mengubah sifat mudah Islam itu menjadi susah & berat. Mereka membebani manusia & menyulitkan mereka dengan berbagai macam praktek baru, serta menambahkan hal-hal baru dalam praktek keagamaan yang membuat manusia menjadi terbelenggu oleh beban berat.

Padahal, Nabi saw. datang untuk membebaskan manusia dari belenggu & beban yang berat itu yang dialami oleh umat sebelumnya. Seperti diterangkan tentang sifat Nabi saw. dalam kitab-kitab suci sebelumnya, Taurat & Injil,

“…& menghalalkan bagi mereka segala yang baik & mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, & membuang dari mereka beban-beban & belenggu-belenggu yang ada pada mereka”. (al-A’raaf:157)

Dan, dalam doa-doa Al-Qur’an yang terdapat dalam penghujung surah al-Baqarah tertulis,

“…Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami,…” (al-Baqarah: 286)

Para pembuat bid’ah itu berkeinginan mengembalikan beban-beban agama-agama langit sebelumnya ke dalam Islam & menambahkan taklif ‘beban hukum’ yang memberatkan manusia serta menyulitkan mereka. Padahal, seungguhnya beban-beban agama Islam ini bersifat sederhana & mudah dijalankan. Misalnya, Allah SWT berfirman,

“Sesungguhnya, Allah & malaikat-malaikat Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi & ucapkanlah salam penghormatan kepadanya,” (al-Ahzab: 56)

Dan, redaksi shalawat yang paling afdhal adalah,

“Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad & keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah sampaikan shalawat-Mu kepada Nabi Ibrahim & keluarga Nabi Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji & Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad & keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah berikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim & keluarga Nabi Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji & Maha Mulia.” [33]

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membaca shalawat dengan redaksi tadi? Mungkin hanya seperempat atau setengah menit! Namun, kemudian banyak orang yang mengarang kitab tentang redaksi-redaksi shalawat kepada Nabi saw. & menciptakan beragam redaksi shalawat baru yang tidak diperintahkan oleh Allah SWT.

Saya sering mendapati orang awam yang membaca redaksi shalawat yang beragam itu & ternyata ia tidak memahami sama sekali apa yang ia baca itu. Demikian juga halnya dengan redaksi-redaksi doa, banyak orang yang mengarang wirid & hizb yang beragam. Saat masih kecil, setiap kali saya berangkat ke masjid sebelum subuh, saya mendapati orang-orang awam menghafal & membaca doa yang dikenal dengan “wirid al-Bakri”, yaitu sebuah redaksi doa yang disusun berdasarkan abjad bahasa Arab. Redaksi doa yang pertama dimulai dengan huruf hamzah, kedua dengan huruf ba, ketiga dengan huruf tsa, & seterusnya.

Misalnya, redaksi doa yang dimulai dengan huruf ghain adalah, “Wahai Tuhanku, kekayaan Mu adalah kekayaan yang mutlak, sementara kekayaan kami adalah kekayaan yang muqayyad ‘terbatas'”. Jika Anda bertanya kepada salah seorang dari mereka yang membaca doa itu, “Apa makna mutlak & muqayyad?” niscaya ia tidak tahu sama sekali.

Wahai saudaraku seiman, apakah ada redaksi doa yang lebih afdhal, lebih indah, & lebih mudah dibandingkan redaksi doa Al-Qur’an & Sunnah? Redaksi doa dari Al-Qur’an misalnya adalah,

“…Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia & kebaikan di akhirat & peliharalah kami dari siksa neraka.” (al-Baqarah: 201)

[14010055;Sunnah & Bid’ah, Dr. Yusuf Qardhawi, GIP; HaditsWeb]

=========

Baca lainnya:

  1. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @1/6
  2. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @2/6
  3. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @3/6
  4. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @4/6
  5. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @5/6
  6. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @6/6

Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @2/6


Saya pernah didebat oleh seorang penulis besar-yaitu seorang tokoh yang sering menulis artikel di majalah-majalah & kadang-kadang menulis tentang topik keislaman–tentang tuntunan makan dengan tangan kanan. Ia berkata bahwa hal itu bukan sunnah karena ia hanyalah suatu bentuk adat kebiasaan belaka.

Saya menjawab bahwa bukan begitu permasalahannya. Dalam masalah seperti ini, kita harus memperhatikannya dengan cermat. Benar, masalah makan dengan sendok & garpu, atau makan di lantai atau di meja makan, adalah masalah yang bersifat praktikal, & setiap orang melakukan hal itu sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di tengah kaumnya; selama tidak ada indikasi yang menunjukkan bahwa suatu cara tertentu dilakukan sebagai bentuk beribadah, atau ada tuntunan sunnah di situ.

Sedangkan, masalah makan dengan tangan kanan, tampak dengan jelas adanya petunjuk Nabi saw. untuk melakukan hal itu. Karena, secara eksplisit Rasulullah saw. memerintahkan hal itu, yaitu saat beliau bersabda kepada seorang anak, “Bacalah nama Allah, Nak, kemudian makanlah dengan tangan kananmu, & makanlah makanan (hidangan) yang dekat dengan kamu.” [15]

Lebih jauh lagi, Rasulullah saw. melarang melakukan tindakan sebaliknya, seperti alam sabda beliau, “Hendaklah kalian tidak makan & minum dengan tangan kiri kalian karena setan makan & minum dengan tangan kirinya.”[16]

Oleh karena itu, ada ulama yang mengatakan bahwa hal itu menunjukkan keharaman (makan & minum dengan tangan kiri) karena beliau menyerupakan orang yang melakukan tindakan seperti itu dengan setan. Dan, beliau tidak pernah menyerupakan sesuatu perbuatan sebagai perbuatan setan dalam masalah yang makruh.

Saat Rasulullah saw. melihat seseorang makan dengan tangan kirinya, beliau bersabda kepadanya, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Orang itu menjawab, “Aku tidak bisa.” Rasulullah saw. kembali bersabda, “Engkau pasti bisa.” [17] Kemudian Rasulullah saw. menyumpahi orang itu sehingga ia tidak lagi dapat mengangkat tangan kanannya setelah itu. Ini menunjukkan bahwa masalah ini (makan dengan tangan kanan) amat ditekankan.

Oleh karena itu, dalam masalah seperti ini kita harus memperhatikannya dengan cermat agar mengetahui batasan & aturan-aturannya yang terdapat dalam tuntunan Rasulullah saw.. Untuk kemudian kita usahakan untuk mengetahui mana tindakan yang ditujukan sebagai perbuatan sunnah & sebagai bentuk beribadah kepada Allah SWT, & mana tindakan yang bersifat sekadar kebiasaan & alami.

Kadang-kadang Nabi saw. melakukan sesuatu seperti cara kaum beliau melakukan hal itu, beliau makan dengan cara seperti mereka makan, beliau minum dengan cara seperti mereka minum, & beliau berpakaian dengan cara seperti mereka berpakaian. Dan, terkadang beliau melakukan sesuatu sesuai dengan kecenderungan selera beliau. Misalnya, beliau senang makan labu. Apakah kita semua harus senang makan labu? Masalah-masalah seperti ini ditentukan oleh selera masing-masing orang; ada orang yang senang sop kaki, ada yang senang sayur bayam, & seterusnya.

Rasulullah saw. juga menyenangi daging kaki depan; apakah kita semua juga harus menyenangi daging kaki depan? Ada orang yang senang dengan daging punggung, ada yang senang dengan daging paha, & seterusnya. Jika selera Anda kebetulan sama dengan selera Nabi saw, hal itu adalah baik & berkah.

Dan, jika ada seseorang yang berusaha sedapat mungkin mencontoh seluruh perilaku Rasulullah saw hingga pada masalah-masalah yang tidak berkaitan dengan tuntunan agama karena semata dorongan kecintaannya yang demikian besar terhadap Rasulullah saw., & kesungguhannya untuk mencontoh segala hal yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw., ini juga suatu tindakan yang terpuji, meskipun hal itu tidak dianjurkan oleh agama.

Jika ada seseorang yang berkata, “Aku ingin mencontoh segala perilaku Rasulullah saw., meskipun apa yang dilakukan oleh beliau tidak termasuk dalam tuntunan ibadah. Aku akan makan dengan bersila di lantai & dengan menggunakan tanganku (tanpa menggunakan sendok & garpu), seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw..”

Kepada orang seperti itu kami katakan, semoga Allah SWT memberikan balasan kebaikan kepadamu. Kami tidak akan mengingkari tindakannya itu, & barangkali orang itu akan mendapatkan pahala sesuai dengan niatnya.

Adalah Ibnu Umar r.a. karena kesungguhannya yang besar untuk mengikuti segala perbuatan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. & kesempurnaan cintanya kepada beliau, ia mengikuti segala apa pun yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw., meskipun hal itu tidak termasuk perbuatan ibadah atau bukan perbuatan yang diperintahkan untuk dikerjakan. [18] Demikian juga sebagian sahabat yang lain.

Misalnya, ada seorang sahabat yang melihatnya sedang shalat dengan kancing yang terbuka; saat ia ditanya mengapa ia melakukan hal itu, ia menjawab bahwa ia melihat Rasulullah saw. melakukan perbuatan seperti itu.[19] Padahal, barangkali Nabi saw. melakukan hal itu semata karena pada saat itu beliau sedang kegerahan atau dalam keadaan musim panas. Lantas, apakah Anda akan melakukan tindakan yang sama pula pada saat musim dingin!

Itu hanyalah pendapat Ibnu Umar saja. Suatu saat Ibnu Umar sedang berada dalam perjalanan bersama rombongan, tiba-tiba ia meminggirkan kendaraannya dari jalan sehingga rombongan yang menyertainya merasa heran. Lantas, pembantunya menjelaskan bahwa ia melakukan hal itu karena dahulu ia pernah berjalan bersama Nabi saw. di tempat itu, kemudian saat tiba di tempat itu Rasulullah saw. bergerak minggir ke pinggir jalan.[20]

Dalam salah satu perjalanan ibadah haji, ia juga pernah mengistirahatkan kendaraannya di suatu tempat & rombongan yang menyertainya juga ikut beristirahat bersamanya. Para anggota rombongan itu bertanya-tanya, apa yang ia ingin kerjakan di tempat itu? Ternyata, ia pergi ke suatu tempat & melaksanakan hajatnya (membuang air kecil atau besar) di tempat itu. Dan, saat ia ditanya mengapa ia melakukan hal itu, ia menjawab bahwa hal itu dilakukannya karena pada saat Nabi saw. melaksanakan ibadah haji & sampai ke tempat ini, beliau melaksanakan hajat beliau di tempat itu. [21]

Apakah tindakan seperti ini diperintahkan untuk dikerjakan oleh insan muslim? Tentu saja tidak, namun, perbuatan tadi adalah suatu bentuk manifestasi kesempurnaan cinta kepada Nabi saw.. Ia juga senang meletakkan untanya di tempat Rasulullah saw. meletakkan unta beliau.

Perbuatan semacam ini tidak kami cela kecuali jika orang itu mengharuskan manusia untuk melakukan tindakan seperti itu juga. Karena, perbuatan seperti itu tidak diperintahkan oleh agama. Oleh karena itu, ia harus mengetahui bahwa apa yang ia lakukan itu tidak harus dilakukan oleh manusia & tidak wajib bagi mereka, juga bukan perbuatan yang sunnah.

Orang yang melakukan hal itu telah melakukan tindakan yang baik, namun ia menjadi salah jika ia menginginkan–atau malah memaksakan–orang lain untuk melakukan tindakan yang sama seperti yang ia lakukan, atau mengingkari & mencela orang yang tidak melakukannya. Atau juga jika ia meyakini bahwa hal itu adalah bagian dari pokok agama, atau bagian darinya, atau menganggap orang yang meninggalkan perbuatan itu berarti telah meninggalkan sunnah. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penting bagi kita memisahkan antara sunnah yang sebenarnya & bid’ah.

KREASI DAN PENEMUAN BARU SEHARUSNYA HANYA DALAM URUSAN DUNIAWI

Bid’ah. Seperti kami katakan sebelumnya, adalah “tindakan mengada-ada dalam beragama”. Karena, Islam menghendaki para pemeluknya untuk menjalankan agama sesuai batas ketentuan yang telah diberikan & tidak mengada-ada. Untuk kemudian, mencurahkan energi kreatif mereka untuk membuat kreasi baru dalam bidang-bidang keduniawian. Inilah yang dilakukan oleh generasi salafus saleh.

Kalangan salaf menjalankan agama pada batas ajaran yang jelas telah ada, dalam riwayat yang pasti dari Rasulullah saw. & pada sunnah-sunnah. Untuk kemudian, mereka mencurahkan segenap potensi & energi mereka untuk berkreasi & bekerja untuk memperbaiki kehidupan duniawi.

Dalam biografi Umar Ibnul-Khaththab r.a., Anda akan menemukan banyak hal yang dikenal dengan awwaliyyaat Umar ‘pioniritas Umar’. Yaitu, ia adalah orang yang pertama kali mengadakan sistem administrasi di negara Islam, yang pertama kali membangun kota-kota terpadu, pemimpin yang pertama kali mengadakan investigasi langsung kepada rakyat, & lain-lain.

Ada kitab yang berjudul al-Awaail ‘Hal-Hal yang Pertama’ atau apa-apa yang pertama kali dibudayakan oleh kalangan salaf. Para sahabat telah menciptakan banyak kreasi untuk menciptakan kemaslahatan bagi kaum muslimin.

Dan, makna ‘mengada-ada’ adalah hal itu tidak mempunyai sumber dalam syariat. Asal kata bid’ah adalah diambil dari kata bad’a & ibtada’a, yang bermakna ‘menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya’. Oleh karena itu, Al-Qur’an mendeskripsikan Allah SWT sebagai, “Allah Pencipta langit & bumi.” Artinya, Allah SWT menciptakan langit & bumi dari nol, tanpa adanya contoh sebelumnya. [22]

Membuat bid’ah adalah menciptakan ajaran agama yang tidak ada aturannya dari Rasulullah saw., juga dari Khulafa ar-Rasyidin, yang diperintahkan kepada kita agar mengikuti sunnah mereka.

SESUATU YANG MEMILIKI LANDASAN DALAM SYARIAT TIDAK DINILAI SEBAGAI BID’AH

Sesuatu yang baru itu, jika ia mempunyai asal & sumber dalam syariat, maka ia tidak dapat dikatakan sebagai bid’ah. Banyak hal yang dibuat oleh kaum Muslimin yang mempunyai asal & landasan dalam syariat. Misalnya, penulisan & pengkompilasian (penggabungan) Al-Qur’an dalam satu mushaf, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar berdasarkan usul Umar r.a..

Sebelumnya Abu Bakar merasa berat untuk melaksanakan rencana itu. Ia berkata, “Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw.?” Namun, Umar terus membujuknya & memberikan argumentasi betapa pentingnya hal itu hingga akhirnya Abu Bakar menerima usul itu & melaksanakannya.[23]

Karena, hal itu demi kebaikan & kepentingan kaum muslimin, meskipun hal itu tidak dilakukan oleh Nabi saw.. Agama Islam dapat dipertahankan dengan menjaga & memelihara Al-Qur an itu, & Al-Qur an adalah pokok agama, sumber, & pokok yang abadi. Oleh karena itu, kita harus menjaga Al-Qur’an dari kemungkinan tercecer atau mengalami kesimpangsiuran.

Nabi saw telah mengizinkan pencatatan wahyu saat wahyu diturunkan. Dan, beliau memiliki sekretaris yang bertugas mencatat wahyu-wahyu yang diturunkan (Zaid bin Tsabit). Semua itu dilakukan dalam upaya menjaga & memelihara Al-Qur’an.

Selama masa hidup Nabi saw., beliau tidak mengkompilasikan Al-Qur’an dalam satu kesatuan. Karena, pada saat itu, ayat-ayat Al-Qur’an terus turun secara beriringan, & Allah SWT terkadang mengubah sebagian ayat yang telah diturunkan kepada Rasulullah saw. itu. Sehingga, jika ayat-ayat yang diturunkan itu langsung dikompilasikan ke dalam satu kesatuan, niscaya akan ditemukan kesulitan jika terjadi perubahan dari Allah SWT.

Terkadang, saat suatu ayat diturunkan, Rasulullah saw. memerintahkan kepada para pencatat wahyu, letakkanlah ayat ini dalam surah itu (surah tertentu), & masing-masing surah dalam Al-Qur’an belum diketahui sudah lengkap atau belum ayat-ayatnya, hingga seluruh ayat Al-Qur’an selesai diturunkan.

Surah al-Baqarah misalnya, ia turunkan pada permulaan era Madinah. Namun, ayat-ayat dalam surah itu baru terlengkapi setelah lewat 8 tahun. Dan, di dalamnya terdapat ayat-ayat yang oleh ulama dikelompokkan sebagai ayat-ayat yang terakhir diturunkan.

Seperti pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa, ayat Al-Qur’an yang terakhir diturunkan adalah firman Allah SWT:

“Dan, peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian, masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (al-Baqarah: 281)

Oleh karena itu, selama masa itu, Nabi saw. melarang upaya pengkompilasian Al-Qur an. Namun, saat kelengkapan Al-Qur’an telah diketahui, setelah wafatnya Rasulullah saw., maka para sahabat merasa aman dari kemungkinan adanya penambahan & pengurangan Al-Qur an. Oleh karena itu, mereka segera mencatat ayat-ayat Al-Qur’an yang berserakan dalam berbagai media & mengkompilasikannya dalam satu mushaf. Dengan demikian, hal ini mempunyai dasar & sandaran dalam syariat sehingga perbuatan itu tidak dapat dianggap sebagai bid’ah.

Contoh yang lain adalah tindakan Umar r.a. yang menyatukan orang-orang yang melaksanakan shalat tarawih dalam satu jamaah shalat di bawah satu imam shalat, yaitu Ubay bin Ka’ab. Sebelumnya, mereka melaksanakan shalat tarawih secara terpisah-pisah dengan imam shalat masing-masing. Bukhari meriwayatkan dari Abdurrahman bin Abdul Qaari bahwa ia berkata,

“Aku berjalan bersama Umar Ibnul-Khaththab pada malam bulan Ramadhan menuju masjid. Pada saat itu, kami menemukan masyarakat melakukan shalat (tarawih) secara terpisah-pisah. Ada yang shalat sendirian & ada pula yang shalat dengan diikuti oleh beberapa orang makmum. Melihat itu Umar berkata, “Aku berpendapat, seandainya semua orang disatukan dalam jamaah shalat (tarawih) di bawah pimpinan satu orang imam niscaya akan lebih baik.”

Dan, rencananya Umar akan mengangkat Ubay bin Ka’ab sebagai imam shalat mereka. Kemudian, pada malam lainnya, aku kembali berjalan bersama Umar (menuju masjid). Saat itu, kami telah mendapati orang-orang sedang melaksanakan shalat (tarawih) di bawah pimpinan satu imam shalat mereka. Melihat itu Umar berkomentar,

“Bid’ah [24] yang paling baik adalah ini. Dan, orang yang saat ini tidur adalah lebih baik dari mereka yang melaksanakan qiyamullail pada saat ini karena mereka (yang masih tidur) akan melaksanakannya pada akhir malam, sedangkan orang lainnya melaksanakannya pada awal malam.” [25]

Kata “bid’ah” yang diucapkan oleh Umar tadi, yakni kalimat “bid’ah yang paling baik adalah ini” adalah kata bid’ah dengan pengertian lughawi ‘etimologis’, bukan dengan pengertian terminologis syariat.

Karena, kata bid’ah dalam pengertian etimologis adalah “sesuatu yang baru diciptakan atau baru diperbuat” yang belum pernah ada sebelumnya. Yang dimaksud oleh Umar dengan ucapannya itu adalah, manusia sebelumnya belum pemah melaksanakan shalat tarawih dalam kesatuan jamaah shalat seperti itu. Meskipun pada dasarnya, shalat tarawih secara jamaah itu sendiri pernah terjadi pada masa Nabi saw..

Karena, beliau mendorong kaum muslimin untuk melaksanakan shalat itu. Dan, banyak orang yang mengikuti shalat tarawih beliau selama beberapa malam. Namun, saat beliau mendapati banyak orang yang berkumpul untuk melaksanakan shalat tarawih bersama beliau, beliau tidak menemui mereka lagi untuk shalat bersama. Kemudian, pada pagi harinya, beliau bersabda,

“Aku melihat apa yang kalian lakukan itu, & yang menghalangi diriku untuk keluar & shalat (tarawih) bersama kalian adalah karena aku takut jika shalat itu sampai diwajibkan atas kalian.” [26]

Kekhawatiran ini, yakni kekhawatiran Rasulullah saw. jika Allah SWT mewajibkan shalat tarawih itu, menjadi hilang dengan wafatnya Nabi saw.. Dengan begitu, hilang pula faktor yang menghalangi dilaksanakannya shalat tarawih dalam satu kesatuan jamaah shalat. [27]

Yang terpenting, makna “mukhtara’ah (sesuatu yang baru diciptakan atau baru diperbuat)” itu adalah sesuatu yang tidak diperintahkan oleh syariat.

Dari sini, ulama salaf kemudian mengkompilasikan ilmu-ilmu syariat, kemudian menciptakan ilmu-ilmu baru untuk mendukung syariat itu. Seperti, ilmu ushul fiqih, ilmu musthalah hadits, ilmu-ilmu bahasa Arab, & sebagainya.

MENIRU JALAN SYARIAT

Kembali kepada definisi bid’ah yang diberikan oleh asy-Syathibi. Kalimat “meniru syariat”, artinya hal itu meniru jalan syariat, padahal pada kenyataannya tidak seperti itu. Ada banyak hal yang diciptakan oleh manusia yang tidak mempunyai sandaran & dasar dalam syariat. Hanya saja, ia mempunyai sisi kemiripan kepada suatu ajaran syariat itu.

Karena, hal itu suatu bentuk beribadah & pada satu segi ia meniru jalan syariat. Sisi inilah yang dianggap baik oleh para pembuat bid’ah & para pengikut mereka. Karena, jika hal itu tidak memiliki suatu kemiripan dengan manusia, niscaya orang banyak akan menolaknya. Mereka menganggap hal itu baik karena ada segi kemiripannya dengan jalan syariat.

[14010055;Sunnah & Bid’ah, Dr. Yusuf Qardhawi, GIP; HaditsWeb]

=========

Baca lainnya:

  1. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @1/6
  2. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @2/6
  3. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @3/6
  4. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @4/6
  5. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @5/6
  6. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @6/6

Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @1/6


PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah, kami melantunkan puja-puji, meminta pertolongan & memohon ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah SWT dari kejahatan diri kami & keburukan amal perbuatan kami. Siapa yang diberikan petunjuk oleh Allah SWT maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, & siapa yang disesatkan oleh Allah SWT maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya, & aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba & rasul-Nya. Shalawat & salam atasnya, keluarganya, sahabatnya, & mereka yang melanjutkan dakwahnya, memegang sunnahnya, & memperjuangkan agamanya, hingga hari kiamat.

Salam hormat yang paling baik, yang aku ucapkan kepada kalian adalah salam Islam, yaitu as-salamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Pembahasan kita pada kesempatan ini adalah seputar permasalahan sunnah & bid’ah. Hal ini berkaitan dengan sebuah artikel yang diterbitkan oleh sebuah majalah yang diterbitkan di negara kita ini.[1]

Artikel itu menyandang judul yang amat nyeleneh, yaitu “Istinkaarul-Bid’ah wa Kuraahatul-Jadiid, Mauqifun Islami am jahili?” Artinya, “Mengingkari Bid’ah & Membenci Hal yang Baru, Apakah Sikap Islami ataukah Sikap Jahiliah?’ Di situ, si penulis artikel ingin menyampaikan pesan bahwa mengingkari bid’ah adalah suatu sikap jahiliah. Menurutnya, kita tidak boleh mengingkari bid’ah & harus membiarkan manusia menciptakan apa pun yang dikehendaki oleh inspirasi mereka atau oleh setan mereka, baik setan yang berbentuk manusia maupun jin.

Oleh karena itu, kami ingin mengembalikan masalah ini kepada pokok yang sebenarnya & kita perlu meredefinisikan (mendefiniskan ulang) pemahaman-pemahaman kita tentang masalah ini karena masalah ini sangat penting. Membiarkan suatu pemahaman tanpa pendefinisian yang jelas akan membuat suatu masalah menjadi seperti karet yang dapat ditarik ulur & kembali pada keadaan semula, serta membuat setiap orang dapat menafsirkannya sekehendak hatinya. Ini tentunya amat berbahaya.

Karena itulah, kita harus mengetahui makna sunnah yang sebenarnya, juga makna bid’ah, & apa sikap Islam terhadap bid’ah itu? Mengapa Islam mengingkari bid’ah? Dan, apakah mengingkari bid’ah berarti bid’ah hal yang baru, apa pun bentuk hal yang baru itu?

Dengan penjelasan seperti itu, diharapkan kita dapat mengetahui sikap yang benar tentang masalah ini & hakikat kebenaran dapat diketahui dengan baik serta ketidakjelasan dapat disibakkan. Sehingga, orang yang kemudian binasa adalah karena kesengajaannya semata setelah melihat fakta yang sebenarnya, & orang yang hidup bahagia adalah orang yang memilih jalan kebenaran setelah melihat kebenaran itu.

MAKNA SUNNAH SECARA ETIMOLOGIS &TERMINOLOGIS [2]
Sunnah secara etimologis bermakna ‘perilaku atau cara berperilaku yang dilakukan, baik cara yang terpuji maupun yang tercela. Ada sunnah yang baik & ada sunnah yang buruk. Seperti yang diungkapkan oleh hadits sahih yang diriwayatkan oleh Muslim & lainnya:

“Barangsiapa membiasakan (memulai atau menghidupkan) suatu perbuatan baik dalam Islam, dia akan mendapatkan pahala dari perbuatannya itu & pahala dari perbuatan orang yang mengikuti kebiasaan baik itu setelahnya dengan pahala yang sama sekali tidak lebih kecil dari pahala orang-orang yang mengikuti melakukan perbuatan baik itu.

Sementara, barangsiapa yang membiasakan suatu perbuatan buruk dalam Islam, ia akan mendapatkan dosa atas perbuatannya itu & dosa dari perbuatan orang yang melakukan keburukan yang sama setelah nya dengan dosa yang sama sekali tidak lebih kecil dari dosa-dosa yang ditimpakan bagi orang-orang yang mengikuti perbuatannya itu.”[3]

Kata “sunnah” yang dipergunakan oleh hadits tadi adalah kata sunnah dengan pengertian etimologis. Maksudnya, siapa yang membuat perilaku tertentu dalam kebaikan atau kejahatan. Atau, siapa yang membuat kebiasaan yang baik & yang membuat kebiasaan yang buruk.

Orang yang membuat kebiasaan yang baik akan mendapatkan pahala dari perbuatannya itu & dari perbuatan orang yang mengikuti perbuatannya, & orang yang membuat kebiasaan yang buruk maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatannya itu & dari perbuatan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Adapun dalam pengertian syariat, kata sunnah mempunyai pengertian tersendiri atau malah lebih dari satu pengertian.

Banyak kata yang mempunyai makna etimologis yang kemudian diberikan makna-makna baru oleh syariat. Seperti kata thaharah; secara etimologis, ia bermakna ‘kebersihan’, sedangkan dalam pengertian terminologis yang diberikan oleh syariat, ia bermakna ‘menghilangkan hadats atau menghilangkan najis, & sejenisnya’.

Demikian juga halnya dengan kata shalat; secara etimologis ia bermakna ‘doa’, sedangkan dalam pengertian terminologis yang diberikan oleh syariat ia bermakna ‘ucapan-ucapan & perbuatan-perbuatan tertentu yang diawali dengan takbiratul ihram & diakhiri dengan salam’. Demikian juga halnya dengan kata sunnah, ia mempunyai pengertian etimologis & pengertian terminologis syariat.

Pada hakikatnya, dalam terminologi syariat, sunnah mempunyai lebih dari satu makna. Kata sunnah dalam pengertian terminologis fuqaha adalah ‘salah satu hukum syariat’ atau antonim dari fardhu & wajib. Ia bermakna sesuatu yang dianjurkan & didorong untuk dikerjakan. Ia adalah sesuatu yang diperintahkan oleh syariat agar dikerjakan, namun dengan perintah yang tidak kuat & tidak pasti.

Sehingga, orang yang mengerjakannya akan mendapatkan pahala, & orang yang tidak mengerjakannya tidak mendapatkan dosa kecuali jika orang itu menolaknya & sebagainya. Dalam pengertian ini, dapat dikatakan bahwa shalat 2 rakaat sebelum shalat shubuh adalah sunnah. Sementara shalat shubuh itu sendiri adalah fardhu.

Menurut para ahli ushul fiqih, sunnah adalah apa yang diriwayatkan dari Nabi saw. Berupa: ucapan, perbuatan, atau persetujuan. Ia dalam pandangan ulama ushul ini, adalah salah satu sumber dari berbagai sumber syariat. Oleh karena itu, ia bergandengan dengan Al-Qur’an. Misalnya, ada redaksi ulama yang mengatakan tentang hukum sesuatu: masalah ini telah ditetapkan hukumnya oleh Al-Qur’an & sunnah.

Sementara, para ahli hadits menambah definisi lain tentang sunnah. Mereka mengatakan bahwa sunnah adalah apa yang dinisbatkan kepada Nabi saw, berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, atau deskripsi–baik fisik maupun akhlak–atau juga sirah (biografi Rasul saw.).

Ada juga makna sunnah yang lain yang menjadi perhatian para ulama syariat, yaitu sunnah dengan pengertian antonim dari bid’ah. Atau, apa yang disunnahkan & disyariatkan oleh Rasulullah saw. bagi umatnya versus apa yang dibuat-buat oleh para pembuat bid’ah setelah masa Rasulullah saw..Pengertian sunnah seperti inilah yang disinyalir oleh hadits riwayat Irbadh bin Sariah, salah satu hadits dari seri empat puluh hadits Nawawi yang terkenal itu (Hadits Arba’in, ed.),

“… orang yang hidup setelahku nanti akan melihat banyak perbedaan pendapat (di kalangan umat Islam). Dalam keadaan seperti itu, hendaklah kalian berpegang pada Sunnahku & Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu & janganlah kalian mengikuti hal-hal bid’ah, karena setiap perbuatan bid’ah adalah sesat.” [4]

Oleh karena itu, di kalangan sahabat sering ditemukan adanya pengoposisian antara sunnah & bid’ah. Mereka berkata bahwa setiap kali suatu kaum membuat bid’ah maka pada saat itu pula mereka menelantarkan sunnah dalam kuantitas yang sama.

Ibnu Mas’ud berkata, “Mencukupkan diri dengan berpegang pada sunnah, lebih baik daripada berijtihad dalam bid’ah.”

Ini adalah pengertian terakhir kata sunnah, & ini pula pengertian sunnah yang menjadi topik pembicaraan kami dalam kesempatan ini. Sedangkan, pengertian-pengertian sunnah yang lain, tidak menjadi topik pembicaraan kami ini.

Kami telah membicarakan sebagian dari sunnah dengan pengertian-pengertian lainnya itu, misalnya kami telah membicarakan sunnah sebagai salah satu sumber syariat, atau tentang sunnah sebagai ucapan, perbuatan, persetujuan, sifat, & sirah Rasulullah saw.. Namun, dalam kesempatan ini, kami hanya ingin mengkaji tentang sunnah dengan pengertian sebagai antonim bid’ah. Atau, apa yang disunnahkan oleh Nabi saw. bagi umatnya.

Petunjuk Nabi saw. adalah sebaik petunjuk, seperti dikatakan oleh Umar ibnul Khaththab r.a., “Keduanya (Al-Qur’an & sunnah) adalah kalam & petunjuk, sebaik-baik kalam adalah kalam Allah SWT & sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw..”

Umar mengutip redaksi ini dari sabda Rasulullah saw. yang diucapkan oleh beliau dalam khotbahnya, “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik pembicaraan adalah Kitab Allah, & sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah perbuatan bid’ah, & setiap bid’ah adalah sesat.”[5]

Nabi saw. telah memperingatkan dengan keras perbuatan bid’ah serta memerintahkan umat Islam untuk mengikuti Sunnah beliau & menjaganya. Beliau bersabda,

“Aku tinggalkan kalian dalam keutamaan & kemuliaan (ajaran agama) yang terang-benderang, malamnya seterang siangnya, & tiada orang yang menyimpang darinya kecuali ia akan binasa.”[6]

MAKNA BID’AH MENURUT IMAM ASY-SYATHIBI [7]

Kemudian, apakah makna bid’ah? Dan, apa pengertian bid’ah yang dinilai oleh Nabi saw. sebagai kesesatan dalam agama? Bid’ah, seperti yang didefinisikan oleh Imam asy Syathibi’, adalah “cara beragama yang dibuat-buat, yang meniru syariat, yang dimaksudkan dengan melakukan hal itu sebagai cara berlebihan dalam beribadah kepada Allah SWT”. [8] Ini merupakan definisi bid’ah yang paling tepat, mendetail, & mencakup serta meliputi seluruh aspek bid’ah.

MEDAN OPERASIONAL BID’AH ADALAH AGAMA

Dari definisi tadi dapat dipetakan bahwa medan operasional bid’ah adalah agama. Ia adalah “tindakan mengada-ada dalam beragama”. Dalil pernyataan ini adalah sabda Rasulullah saw., “Siapa yang menciptakan hal baru dalam ajaran agama kita yang bukan bagian darinya, maka perbuatannya itu tertolak.”[9]

Dalam riwayat yang lain, “Siapa yang menciptakan hal baru dalam urusan (ajaran agama) kita, yang bukan bagian darinya, maka perbuatannya itu tertolak.” [10]

Artinya, dikembalikan kepada pelakunya, sebagaimana halnya uang palsu yang tidak diterima untuk dijadikan sebagai alat jual-beli, & ia dikembalikan kepada pemiliknya. Hadits ini juga dinilai oleh para ulama sebagai salah satu pokok agama Islam. Ia adalah bagian dari seri empat puluh hadits Nawawi yang terkenal itu (Hadits Arba’in, ed.).

Para ulama berkata bahwa ada dua hadits yang saling melengkapi satu sama lain; pertama hadits yang amat penting karena ia adalah timbangan bagi perkara yang batin, yaitu hadits, “Sesungguhnya keabsahan segala amal ibadah ditentukan oleh niat.” [11]

Kedua, hadits yang juga amat penting karena ia adalah timbangan bagi perkara yang zahir, yaitu makna yang dikandung oleh hadits ini, “Siapa yang menciptakan hal baru dalam ajaran agama kita yang bukan merupakan bagian darinya, maka perbuatannya itu tertolak.”

Agar amal ibadah seseorang diterima oleh Allah SWT, harus dipenuhi dua hal ini:
1. Meniatkan amal perbuatannya semata demi Allah SWT, &
2. Amal ibadahnya itu dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat.

Oleh karena itu, saat Imam al-Fudhail bin Iyadh, seorang faqih yang zaahid ‘orang yang zuhud’ (para zaahid generasi pertama adalah para fuqaha), ditanya tentang firman Allah SWT, “… supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya…. “(al-Mulk:2); Amal ibadah apakah yang paling baik? Ia menjawab, “Yaitu amal ibadah yang paling ikhlas & paling benar.”

Ia kembali ditanya, “Wahai Abu Ali (al-Fudhail bin Iyadh), apa yang dimaksud dengan amal ibadah yang paling ikhlas & paling benar itu?” Ia menjawab,

“Suatu amal ibadah, meskipun dikerjakan dengan ikhlas, namun tidak benar maka amal itu tidak diterima oleh Allah SWT. Kemudian, meskipun amal ibadah itu benar, namun dikerjakan dengan tidak ikhlas, juga tidak diterima oleh Allah SWT. Amal ibadah baru diterima apabila dikerjakan dengan ikhlas & dengan benar pula. Yang dimaksud dengan ‘ikhlas’ adalah dikerjakan semata untuk Allah SWT, & yang dimaksud dengan ‘benar’ adalah dikerjakan sesuai dengan tuntunan Sunnah.”

Keharusan amal ibadah hanya ditujukan untuk Allah SWT, yaitu sebagaimana dideskripsikan oleh hadits, “Sesungguhnya keabsahan segala amal ibadah ditentukan oleb niat.” Dan, keharusan amal ibadah sesuai dengan tuntunan Sunnah adalah seperti dideskripsikan oleh hadits, “Siapa yang menciptakan hal baru dalam ajaran agama kami (Islam) yang bukan merupakan bagian darinya, maka perbuatannya itu tertolak.”

Dengan demikian, perbuatan bid’ah hanya terjadi dalam bidang agama. Oleh karena itu, salah besar orang yang menyangka bahwa perbuatan bid’ah juga dapat terjadi dalam perkara-perkara adat kebiasaan sehari-hari. Karena, hal-hal yang biasa kita jalani dalam keseharian kita, tidak termasuk dalam medan operasional bid’ah.

Sehingga, tidak mungkin dikatakan “masalah ini (salah satu masalah kehidupan sehari-hari) adalah bid’ah karena kaum salaf dari kalangan sahabat & tabi’in tidak melakukannya”. Bisa jadi hal itu adalah sesuatu yang baru, namun tidak dapat dinilai sebagai bid’ah dalam agama. Karena jika tidak demikian, niscaya kita akan memasukkan banyak sekali hal-hal baru yang kita pergunakan sekarang ini sebagai bid’ah: seperti mikropon, karpet, meja, & bangku yang kalian duduki, semua itu tidak dilakukan oleh oleh generasi Islam yang pertama, juga tidak dilakukan oleh sahabat, apakah hal itu dapat dinilai sebagai bid’ah?

Oleh karena itu, ada orang yang bersikap salah dalam masalah ini sehingga jika melihat ada mimbar yang anak tangganya lebih dari tiga tingkat, niscaya dia akan berkata, “ini adalah bid’ah”. Tidak, bid’ah tidak termasuk dalam masalah seperti itu. Rasulullah saw. pertama kali berkhotbah di atas pokok pohon kurma, kemudian ketika manusia bertambah banyak, ada yang mengusulkan,

“Tidakkah sebaiknya kami membuat tempat berdiri yang tinggi bagi baginda sehingga orang-orang yang hadir dapat melihat baginda?”

Setelah itu, didatangkan seorang tukang kayu, ada yang mengatakan ia adalah tukang yang berasal dari Romawi. Selanjutnya, si tukang kayu membuat mimbar dengan tiga tingkat. Seandainya dibutuhkan mimbar yang lebih dari tiga tingkat, niscaya ia akan membuatnya. Masalah ini tidak termasuk dalam lingkup medan operasional bid’ah.

Oleh karena itu, sangat penting sekali kita mengetahui apa yang dimaksud dengan sunnah? Dan, apa yang dimaksud dengan bid’ah? Juga ada kesalahan sikap dalam memandang perbuatan-perbuatan Rasulullah saw.. Sebagian orang ada yang menyangka bahwa seluruh apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. adalah sunnah. Padahal, para ulama berkata bahwa perbuatan-perbuatan Nabi saw. yang termasuk sebagai sunnah, hanyalah perbuatan yang ditujukan oleh beliau sebagai perbuatan ibadah. [12]

Di antara contohnya, Nabi saw.–pada beberapa kesempatan–melakukan shalat sunnah dua rakaat sebelum shubuh. Setelah itu, beliau berbaring dengan memiringkan tubuhnya ke samping kanan.[13] Dari sini, ada sebagian ulama–diantaranya Ibnu Hazm–yang menyimpulkan bahwa setelah melakukan shalat sunnah dua rakaat sebelum shubuh kita harus berbaring miring di sisi kanan tubuh kita.

Padahal, Aisyah r.a. berkata, “Nabi saw. berbaring seperti itu bukan untuk mencontohkan perbuatan sunnah, namun semata karena beliau lelah setelah sepanjang malam beribadah sehingga beliau perlu beristirahat sejenak.” [14]

Dengan demikian, perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. perlu diperhatikan, apakah yang beliau lakukan itu ditujukan sebagai perbuatan ibadah atau bukan. Di sini banyak terjadi kesimpangsiuran & kesalahpahaman, misalnya seperti yang terjadi dalam masalah tata cara makan.

Sebagian orang berpendapat bahwa, makan dengan sendok & garpu, atau di meja makan, adalah perbuatan bid’ah. Ini adalah sikap yang berlebihan & ekstrem. Karena, masalah ini adalah bagian dari kebiasaan sehari-hari yang berbeda-beda bentuknya antara satu daerah & daerah lain, & antara satu zaman & zaman lainnya.

Nabi saw makan dengan kebiasaan yang dilakukan oleh lingkungan beliau, terutama yang sesuai dengan sifat Rasulullah saw., yakni sifat memberikan kemudahan, tawadhu’, & zuhud. Namun demikian, makan dengan menggunakan meja makan atau menggunakan sendok & garpu, bukanlah sesuatu yang bid’ah. Lain halnya dengan sebagian sisi dari tata cara makan itu.

[14010055;Sunnah & Bid’ah, Dr. Yusuf Qardhawi, GIP; HaditsWeb]

=========

Baca lainnya:

  1. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @1/6
  2. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @2/6
  3. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @3/6
  4. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @4/6
  5. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @5/6
  6. Dr. Yusuf Qardhawi: Sunnah & Bid’ah @6/6